Ads 2

Berpolitik Okey, Tapi Jangan Mau Jadi Korban Politik (Oleh: Juhairi Tajalli)

Pilarbangsanews.com.

Peta politik kita dewasa ini memang ditakdirkan dan menjadi pilihan untuk terbelah. Tetapi jangan sampai kita terpecah belah. Jangan sampai terjebak dalam politik praktis yang nyaris tidak etis. Sehingga peradaban kita semakin krisis.

Sehingga jangan sampai disalahkan ada kubu Jokowi dan ada kubu Prabowo. Jangan dimusuhi ada yang cinta mati sama Jokowi dan cinta mati sama Prabowo. Namun jangan sampai putus persaudaraan kita karena telah terjadi perbedaan pilihan politik di antara kita.

Perlu direnungkan dan kita pikirkan bersama. Kalau Jokowi atau Prabowo jadi presiden kalau kita ternyata tetap jadi rakyat biasa. Apa yang kita dapatkan dari berbagai upaya yang telah kita lakukan selama ini. Adakah dapat percikan dari kemenangan pilihan kita. Ataukah sebaliknya tidak mau menerima kekalahan dari pilihan kita sendiri.

Persoalannya sekarang sebagai rakyat biasa kita tetap mendukung politik. Tetapi jangan sampai menjadi korban politik. Jangan sampai kita bermusuhan. Saling mencaci maki, saling hujat dan saling fitnah. Karena siapun yang jadi presiden nanti, tidak akan ada yang berani menjamin Indonesia lebih baik.

Namun gagasan, rencana dan argumen untuk Indonesia lebih baik tentu sah-sah saja diungkapkan. Dan tentu saja berlebihan jika kita menuntut keras akan jaminan janji yang disampaikan. Karena jaminan sesungguhnya itu hanya dari Allah SWT. Sedangkan kita hanya berdoa, berusaha, berikhtiar dan tawakal.

Tapi ingat ! Sekali lagi jangan sampai kita menjadi korban politik ! Sebab yang pasti apa yang telah kita lakukan selama ini. Selama musim politik yang berlangsung saat ini. Pasti kita akan dimintai
pertanggungjawaban terhadap hujatan, makian dan fitnah yang sudah terlanjur disebarkan baik lewat lidah kita. Terlebih lagi melalui sosial media yang bersumber dari jari-jemari kita sendiri.

Jangan sampai di sosial media dosa kita menjadi dosa berjamaah bahkan semakin berbiak dan terus menerus mengalir. Sedangkan kita tidak tahu, apakah kita sempat minta maaf pada orang yang kita hujat, kita maki, kita fitnah. Dan apakah mereka bersedia memaafkan kita.

Jangan sampai nanti kita mengalami kerugian karena amalan kita diberikan kepada orang yang kita hujat, kita fitnah. Karena kita merasa tidak ada permasalahan dari apa yang telah kita lakukan selama ini khususnya di musim politik ini. Mereka yang menang penuh kebahagiaan. Namun kita justru menangung dosa-dosa mereka.

Jadi tidak perlu kita menyampaikan keunggulan jagoan pasangan pilihan politik kita terhadap sesama. Karena semakin mengungulkan jagoan pasangan pilihan politik kita, maka akan semakin kencang pula untuk mencela aib lawan pasangan pilihan politik kita, untuk terus menerus menghujat, saling caci, saling hina dengan tujuan untuk menjatuhkan lawan.

Akan terasa lebih bijaksana jika kita merahasiakan pilihan politik kita. Ketimbang harus menyebarluaskan pilihan untuk memperkuat dukungan politik kita. Sebab kita sendiri bukan juru kampanye. Bukan pula tim sukses. Sehingga dalam beraktifitas secara cerdas harus sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas. Agar tidak melampaui batas.

Sehingga musim politik yang biasanya identik dengan hal-hal yang berisik karena hampir tidak etik. Diharapkan suasananya masih bisa diredam menjadi adem ayem, damai dan tetap beradab
Silahkan pilih presiden yang sesuai dengan penilaian kita. Tetapi bukan hasil dari celaan, fitnahan dari kita