Pilarbangsanews.com.Padang,-Pilkada serentak selanjutnya akan dilaksanakan pada bulan Juni 2018. Dimana 171 kabupaten / kota dan provinsi di seluruh Indonesia akan menggelarnya. Termasuk 4 daerah di Sumbar, yakni Kota Padang, Pariaman, Sawahlunto dan Padang Panjang.
Berdasarkan aturan main, peserta pemilihan adalah calon kepala daerah / wakil kepala daerah yang diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol dan /atau calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang dengan syarat tertentu.
Parpol atau gabungan parpol dapat mendaftarkan calon jika telah memenuhi persyaratan perolehan paling sedikit 20% dari jumlah kursi DPRD atau 25% dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilihan umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan.
Khusus untuk Kota Padang, di DPRD terdapat total kursi sebanyak 45. Dimana, Gerindra 6, PAN 6, Golkar 5, PKS 5, Demokrat 5, Hanura 5, NasDem 4, PPP 4, PDIP 3, PKB 1 dan PBB 1 kursi.
Untuk bisa mengusung pasangan calon, minimal 20% dari 45 kursi yang ada di DPRD Padang, yakni 9 kursi. 
Kalau melihat perolehan kursi tersebut, tidak satu pun parpol yang bisa mengusung sendiri calonnya. Harus berkoalisi dengan parpol lain.
Mencermati calon potensial yang akan maju, menurut kajian yang dilakukan Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas), Pilkada Padang 2018 berpotensi diikuti 3 pasang calon.
Pertama, ungkap Koordinator Kapas Isa Kurniawan, koalisi Gerindra 6 + PKS 5 (11 kursi) mengusung MAHYELDI – ADIB. 
Kemudian kedua, koalisi Golkar 5 + NasDem 4 + PPP 4 + PDIP 3 + PKB 1 (17 kursi) mengusung EMZALMI – DESRI. 
Dan terakhir, koalisi PAN 6 + Hanura 5 + Demokrat 5 + PBB 1 (17 kursi) mengusung HENDRI SEPTA – MARZUL VERI.
Koalisi Gerindra – PKS, sebut tokoh pemuda Ulak Karang itu, sepertinya sudah menjadi fatsun dari pusat. Dan salah satu penentunya adalah Irwan Prayitno (kader PKS yang Gubernur Sumbar). 
“Berpasangannya Mahyeldi dengan Adib, berpotensi memecah suara Emzalmi di Kuranji – Pauh, dikarenakan Adib dan Emzalmi sama-sama putera daerah di sana,” beber Isa.
Kemudian, tentunya sebagai kakak, Irwan Prayitno tidak akan tinggal diam. Bisa jadi nantinya Adib akan digerindrakan karena selama ini sebagai PNS, dia belum pernah berpartai.
Kalau Mahyeldi berpasangan dengan yang bukan putera daerah Kuranji – Pauh, tentunya pasangan Emzalmi – Desri akan bisa meraih suara maksimal di daerah tersebut dan berbahaya bagi Mahyeldi.
Seterusnya, lanjut Isa, pasangan EMZALMI – DESRI lebih condong diusung oleh partai pemerintah yang berkuasa sekarang, seperti Golkar, NasDem, PPP, PDI-P dan PKB. Minus PAN dan Hanura.
“Kita semua tahu siapa Emzalmi dan Desri. Pada pilkada kemaren, Desri berpasangan dengan James Hellyward, dan hampir saja mengalahkan Mahyeldi – Emzalmi. Di pilkada sekarang Emzalmi dan Desri rencananya berpasangan. Itulah politik,” ujarnya.
Terakhir pasangan HENDRI SEPTA – MARZUL VERI. Ditenggarai akan menjadi kuda hitam di Pilkada Padang 2018. Koalisinya, PAN, Hanura, Demokrat dan PBB. 
Hendri Septa merupakan Ketua DPD PAN Padang, sementara Marzul Veri salah seorang Ketua DPP Hanura. “Sebagai tokoh muda, keduanya telah berpengalaman dan mumpuni,” sebut Isa.
Hendri Septa pernah menjadi Anggota DPRD Padang periode 2009 – 2014. Lulusan Australia ini, merupakan anak dari Anggota DPR RI Asli Chaidir dan menantu Anggota DPD RI Leonardy Harmainy.
Sedangkan Marzul Veri, mantan Ketua KPU dan KNPI Sumbar. Dan alumni HMI ini aktif di Perhimpunan Pergerakan Indonesia dan Yayasan Kabisat.
Yang perlu menjadi catatan adalah dukungan partai non parlemen seperti Perindo, PSI, PKPI, PIKA, dan lainnya. Kemana mereka akan mengarahkan dukungan. Kalau terbentuk poros partai non parlemen ini, tentunya ini akan menjadi kekuatan baru yang signifikan.
“Tapi politik itu dinamis, bisa saja ada yang berpendapat lain. Atau, apa yang menjadi kajian kami ini berubah nantinya,” pungkas alumni Kimia Unand itu. *)

By Pilar