Oleh : Deniansyah Sayuti

Hari ini tepat nya Jum’at, 21Juli 2017. Aku terdiam dan termenung dalam lamunan tentang goresan yang akan aku tuliskan disini. 
Pada dasarnya ketika aku melihat, membaca dan menganalisa kisah-kisah dan goresan yang menceritakan sesosok Manusia yang memperjuang kemanusiaan orang lain.
Sosok yang penuh dengan nilai kekuatan, keberanian dan tidak mengenal rasa letih dan letih dan lunglai akan perjuangan yang tak kunjung usai, sosok biasa di kenal dengan munis aktivis HAM. Tergesit di hatiku untuk menuliskan sepucuk surat untuk sang legendaris yang dirinya penuh dengan nilai-nilai kebenaran, sehingga dirimu tidak akan pernah mati.
Ta’aruf
Aku mengenal dirimu mulai dari ketika aku tergabung dalam Himpunan mahasiswa Islam pada tahun 2014, dimana yang dahulu nya merupakan salah satu background organisasi mahasiswa yang pernah kau ikuti. Sejak saat itu aku sering mendengar namamu yang lama kelamaan melekat dalam benakku dan menjadi pendorong terhadap diriku.

Wajahmu, rupamu hanya kukenal lewat media-media. Sesosok wajah dan badan yang semampai itu menjadi topik perbincangan orang sepanjang masa, walaupun dimata sebagian orang kau sudah tiada dan menjadi sebuah kemerdekaan bagi mereka. Sesosok wajah itu tidak pernah memiliki rasa takut walaupun intrik, intimidasi dan provokasi yang kian kerap menghampiri dirinya. 
Hal itu hanyalah lelucon kesehariannya yang menjadi bumbu-bumbu dalam berburu sehingga mendapat analisa dan konflik yang baru.
Pembungkaman

Setelah kematian munir berbagai ancaman, intrik dan intimidasi masih terjadi walaupun dia sudah hilang. Ancaman, intrik dan intimidasi tersebut kerap datang dan dirasakan oleh orang tuanya, keluarga, kerabat dan sahabat-sahabatnya. 
Hal tersebut datang berupa surat kaleng yang isinya menghimbaukan kepada orang tuanya, keluarga, kerabat dan sahabat-sahabatnya agar tidak bersuara atas kematian anaknya, sanak family serta kawan kawan Karibnya yang sudah banyak diceritakan baik di sosial media maupun lidah ke lidah.
Bersinar sepanjang masa

Bagi sebagian kalangan elitis maupun marjinal berpendapat bahwa sosok yang dikenal dengan aktivis HAM yang memiliki nama “Munir” Itu sudah tiada dan tidak akan pernah ada lagi “Munir” muncul di permukaan ini. Namun sebagian elitis dan marjinal sosok itu akan terus hidup dan tidak akan pernah mati. Penulis juga sependapat dengan pernyataan kedua, bahwa sosok munir akan tetap terus hidup dan tidak akan pernah mati. 
Sama hal nya dengan aktivis yang hilang yang kerap menjadi perbincangan media, dimana dengan kata-katanya yang dituangkan dan disampaikan dengan kalimat sederhana namun bisa menghipnotis jutaan oran untuk menyuarakan kebenaran, dialah “wiji tukul”. Walaupun sosok Wiji tukul belum tahu pastinya entah dia masih hidup atau sudah tiada. 
Namun kata-kata sastranya masih mengiang-ngiang di telinga kaum elitis maupun marjinal.
Sosok munir tidak akan pernah mati, karna suara dan tulisannya akan tetap terus hidup. Di rezim orde baru dan globalisasi yang meningkat luas ini yang dinamakan Era MEA Kaum-kaum radikal Masih saja tetap terus hidup dan melancarkan operasinya.
Dengan maraknya kedzoliman, ketimpangan dan ketidak adilan roda kehidupan bermasyarakat di indonesia dengan secara otomatis munir akan terus hidup di sepanjang emperan kedzoliman itu. Karena kebenaran akan terus hidup.
Akhir dari tulisan ini, penulis menggoreskan Secarik surat penulis kepada Bung Munir.
To : Bung Munir
Assalamualaikum bung !

Ditengh terik matahari yang mencekam kurangkai kata-kata ini agar diriku hidak malu terhadap dirimu Bung yang pandai merangkai kosakata yang bagus.
Kehangatan mentari seperti yang kurasakan saat ini tidak membuat diri bung surut mundur akan membela kebenaran dan menggulingkan kaum elitis-elitis yang dzholim demi memuaskan dan dengan enaknya menikmati kenikmatan beronani dengan kursinya, seperti yang bung lakukan bersama kawan-kawan.
Selepas Bung pergi keluar negri meninggalkan kami di sini dan pergi untuk selamanya secara zahiriah, keadaan negara kita kian menderu bung, kaum elitis-elitis  radikal kian bermunculan kembali Kepermukaan bung. 
Banyak munir- munir yang bermunculan bung yang punya visi dan mosi yang tidak jauh berbeda dengan dirimu bung, Namun kepribadiannya yang jauh berbeda. Munir yang muncul di zaman era globalisasi dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) hanya mementingkan onggokan pribadi dan melancarkan percernaannya dalam ketertindasan kaum marjinal.
Saya disini selalu berdo’a bung agar dirimu bahagia disurga sana bung. Tapi aku ingin kau mendoakan kami juga bung, kau do’akan agar kami disini senantiasa menanamkan Values yang baik didalam berjuang. Values yang seperti kau miliki bung, yang akan diingat sepanjan masa dan tidak akan rapuh ditelan masa. 
Tubuhmu yang legam boleh rapuh, namun tidak perjuangan dan kata-katamu bung. Bagaimana kerasnya hidup yang kau jalani bung ketika kau memperjuangkan values kemanusian dahulu, ketika kau memperjuangkan Marsinah seorang buruh perempuan yang hilang itu.
Mungkin aku masih saja terlena dengan masa-masa di mana seorang anak laki-laki yang belum mengenal negara apalagi intimidasi kaum Elitis-Elitis terhadap kaum marjinal. Disaat itu aku dilenakan oleh permainan-permainan tradisional seperti halnya Anak-anak lain pada umumnya.
Tangan ku sudah mulai letih menuliskan curhatanku padamu bung, mungkin sampai habis kertas ini tidak akan selesai curahan ku ini bung. 
Bahagia disana bung..! 
Salam buat kawan-kawanmu yang lain bung, apa kau sudah berjumpa disana dengan kawan-kawan yang lain bung, seperti wiji tukul dan kawan-kawan yang lainnya bung. Kalau ketemu nanti sampaikan salamku ya bung… Ok!! 
Jangan lupa bung titip salam buat kawan-kawan yang lain bung, soalnya sampai hari ini mereka belum juga aku temukan bung, jangankan menemukan mereka bung, menemukan musuh-musuh mu aja belum aku temukan bung…!! 

Kalau sudah aku temukan nantinya aku surati lagi kamu bung…!!.
 Wabillahitaufiq walhidayah,

Wassalamualaikum Wr Wb”.

 

By Pilar