Pilarbangsanews
.com. Taluak Kasai,-

Beberapa tahun lalu, kami pernah melakukan diskusi tentang Palestina. Diskusi yang ingin mengkritisi tentang faktor agama dalam perjuangan rakyat Palestina.

Saya ingin mempublikasikan hasil diskusi tersebut. Tidak semua pendapat-pendapat yang bisa saya ketengahkan. Hanya beberapa pendapat saja yang menurut saya memiliki “benang merah” dengan topik diskusi kala itu.

“Benarkah perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan kemanusiaan ?”  Beberapa figur kunci yang menjadi “mastermind” perjalanan historis bangsa Palestina (kalau saya boleh istilahkan dengan “bangsa”), diantarnya adalah figur non-muslim. WADDI HADDAD, misalnya, adalah orang Palestina beragama Kristen yang merupakan mastermind dari kelompok Black September.

 Salah satu aksi yang paling dikenal dari kelompok tersebut adalah aksi penculikan dan pembunuhan terhadap 11 atlet Olimpiade Israel di Munich, Jerman pada tahun 1972. Tokoh lain yang sangat fenomenal tahun 1980-an, disamping Yasser Arafat, adalah GEORGE HABBASH. Habbash merupakan mantan pemimpin organisasi PFLP (Front Rakyat Pembebasan Palestina) yang dicap oleh media Israel dan media barat sebagai organisasi ultra radikal, bahkan jauh lebih radikal dibandingkan Hamas.

Kemudian ada tokoh lain yang dianggap sebagai perempuan pintar-Palestina, HANAN ASHRAWI, perempuan Kristen yang paling dikenal di dunia internasional. Selain menjadi legislator di parlemen Palestina, Hanan Ashrawi selama beberapa tahun sempat menjadi juru bicara delegasi Palestina dalam perundingan perdamaian. Ayah Hanan, Daoud Mikhail, adalah salah seorang yang ikut membidani lahirnya PLO (Organsisasi Pembebasan Palestina). Referensi : Smith Al Hadar (1999), Riza Sihbudi (2001).

Diskusi mulai dibuka, Bagaimana teman-teman ? Kita boleh beda pendapat, karena semua perbedaan pandangan itu, bermula dari bahan bacaan (mungkin bahan bacaan saya teramat sedikit. Dan inilah tanggapan beberapa kawan-kawan tersebut (tidak semuanya saya publish) :

Refli Surya Barkara

Permasalahan Palestina tidak bisa hanya dilihat dalam perspektif kemanusiaan, karena kepedulian setiap orang berbeda-beda. yang bisa kita lihat adalah apa motif utama orang peduli terhadap Palestina. ada yang peduli karena di dorong oleh kemanusiaan, ada faktor agama, ada faktor politik dan banyak lagi motif yang akan muncul.

Irmayeni

Sudut pandang yang berani, ada baiknya kita saling mencari referensi lagi agar tidak salah melangkah, karena ini masalah yang mendasar.   

Suriadi Fajri

Di Palestina 50% penduduknya beragama Yahudi dan sisanya beragama Kristen dan Muslim yang berada di daerah Tepi Barat dan Yerusalem,” Duta besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi,.Tanggal 29 November oleh PBB ditetapkan sebagai Hari Internasional Solidaritas terhadap Palestina pada Sidang Umum PBB 12 Desember 1979. Tanggal ini dipilih karena pada 29 November 1947 PBB menerapkan resolusi 181 (II) atau yang dikenal dengan nama Partition Resolution. Resolusi ini mengatur pembagian Palestina menjadi dua, negara Yahudi dan negara Arab, dengan Yerusalem sebagai corpus separatum kedua wilayah. Namun, hanya satu negara yang lahir dari resolusi ini, yaitu Israel. Sementara Palestina masih diragukan kedaulatannya, bahkan oleh PBB sekalipun…..jadi…dan siapapun yang ada di Palestine, apapun keyakinannya, apapun tendensinya, mereka juga manusia yang memiliki hak untuk hidup sebagaimana mestinya. Ini masalah kemanusian, Ini masalah pembantaian yang ada disana, wanita, anak-anak, dan masyarakat sipil yang telah menjadi korban kesemena-mena’an Israel di palestine.
Saya rasa manusia manapun akan terusik jiwa kemanusiaannya terlepas dari apapun keyakinannya ketika melihat apa yang sedang menimpa saudara-saudara kita disana.  

Yutis Lubis

Sudah diprediksi dari dulu dan diulang, tujuan mereka itu berpropaganda untuk konsolidasi di Indonesia dengan tujuan memperoleh suara demi Pikalda atau keperluan lain.Kalau membela kaum Syiah di Sampang Madura, pastilah tidak popoler. Membutakan diri dan anehnya banyak yang mau dibutakan. Bila pada suatu saat akan terjadi kedamaian di Palestina, kita di Indonesia yang hancur/terpecah belah , karena soal yang sama. Palestina.

Heri Efendi

Menarik sekali hasil diskusinya bung Andra Usmanedi, kita tidak bisa melupakan perjalanan historis yang membuat negara Israel dari tidak ada menjadi ada. lahirnya negara Israel itu sendiri adalah kejahatan kemanusiaan, karena mereka melakukan perampasan, pencaplokan dan pengusiran terhadap warga Palestina. jadi kalau konflik Israel dan Palestina ini dipahami sebagai masalah kemanusiaan, maka selama Israel itu ada, selama itu pula kejahatan kemanusiaan itu berlangsung, bukankah begitu bung? jadi perjuangan panjang rakyat Palestina untuk memperoleh kembali hak-haknya sudah complicated, di sana sudah termasuk masalah kemanusiaan, harga diri, dan agama. Kenapa juga agama? karena menurut saya, Palestina dan masjid al-aqso sudah menjadi simbol kehormatan kaum muslimin, al-aqsha adalah milik sah kaum muslimin, bukan hanya muslim di Palestina, tapi juga muslimin di seluruh dunia, karena itu membela dan mempertahankan eksistensinya sama dengan mempertahankan eksistensi kaum muslimin itu sendiri, dan menurut saya kita semua wajib mempertahankannya. Israel memang berkepentingan untuk mengisolasi konflik ini dari dunia internasional. ketika pertama kali mereka mencaplok tanah Palestina, seluruh dunia marah, tapi Israel bisa mengisolasinya menjadi konflik kawasan, bahwa ini hanya urusan Israel vs negara2 arab. setelah perang Arab -Israel selesai yang berakhir dengan kekalahan negara-negara Arab, mereka mengisolasi lagi konflik ini menjadi urusan Israel dan Palestina, negara Arab tak usah ikut campur. kemudian diisolasi lagi menjadi Israel vs PLO, kemudian diisolasi lagi menjadi Israel vs Hammas. mereka membuat citra bahwa Israel tidak berperang melawan rakyat Palestina, tapi melawan organisasi yang bernama Hammas. sejak itu, dunia tidak peduli lagi dengan konflik Israel vs Hamas dan menganggap itu bukan urusan mereka. karena kepedulian dunia hanya pada kemanusiaan, dunia hanya bereaksi ketika ketika konflik menimbulkan korban. di luar itu banyak masyarakat Islam di seluruh dunia merasa konflik Palestina bukan urusan mereka. apakah hasil diskusi bung Andra dan kawan2 adalah bukti keberhasilan Israel mengisolasi isu ini? wallahualam (yang terakhir ini just joking bung Andra..wassalam). 

Andra Usmanedi

Bung Heri Efendi ….. saya-pun belum sependapat dengan kesimpulan diskusi. Mungkin simpulan Refli Surya Barkara yang bisa menjadi “jalan tengah”. Tergantung motivasi (walau ini terlampau sederhana bila dikaitkan dengan kajian politik internasional), ada yang melihat sebagai motivasi agama, ada yang melihat sebagai motivasi politik. Tapi (jujur) saya terkejut dengan statement Dubes Palestina di Jakarta, sebagaimana yang dijelaskan diatas oleh Suryadi Fajri. Tapi ungkapan Dubes tersebut bisa dikritisi. Bila Palestina itu secara geografis masuk daerah Israel, Yerusalem dan seterusnya, bisa jadi secara demografis orang Yahudi berjumlah lebih kurang 50 %. Tapi bila secara spasial hanya meliputi Daerah Otoritas Palestina (sekarang), tentu ungkapan si Dubes bisa dikatakan tak benar (ini juga pernah dibantah oleh Aristo Munandar di Harian Pedoman Masyarakat). Tentang Isolasi Isu, bisa benar bila dilihat dari “Manajemen Issu”.
 Bagaimana-pun juga, politik adalah bagaimana mengatur isu. Kalau saya, hingga hari ini, (mana tahu nanti bisa pula berobah), masih memegang parameter UUD 1945, bahwa penjajahan harus dihapuskan. Dan saya memahami, Israel mencaplok wilayah Palestina.

Suryadi Fajri

Semua mesti meluruskan keadaan yg sebenarnya, kadangkala banyak diantara kita yg terjebak dengan informasi yang ada dimedia, dan itupun dijadikan rujukan satu2nya, jaman sekarang apa yang nggak bisa dilakukan, sejarahpun bisa diputar-balikkan…mengapa harus Palestina dan Israel, mengapa bukan Rusia dengan Amerika bersiteru jika dilihat dari kacamata pencaplokan wilayah? Semua ini membingungkan, tentu saja karena keterbatasan kita yang kurang mengetahui sejarah yang sebenarnya. Apakah ini memang benar masalah kemanusiaan, atau masalah politik atau bisa saja masalah agama. Kalau masalah di Indonesia sebahagian menganggap itu semua karena ulah tangan manusia, ketidakbecusan (maaf) pemimpinnya saja., berbeda dengan masalah palestina yang diperangi…wallahu’alam

Irlia

Seperti tercantum di dalam diktum pembukaan UUD Negara RI 1945.

Thabroni

Tapi bisa saja banyak yang akan menyangka mereka pula yang membuat posisi Palestina tersudutkan Bung. Mudah-mudahan tidak benar.

Madia Noval

R. Garaudi menulis buku “The Case of Israel, a Studi of Political Zionism”….TETAPI diterjemahkan ke dalam bhs Indonesia menjadi “Zionis, Sebuah Gerakan Keagamaan dan Politik” . Dalam kesimpulan nomor 2 Garaudi menulis (2). Unsur doktrin yang dianut oleh negara Israel, Zionisme, sebagai sebuah gerakan politik, yang lahir bukan bersumber kepada tradisi Yudaisme, yang hanya sekedar memberikan kepada doktrin tersebut suatu penyamaran serta dalih-dalih pembenaran tindakan-tindakan yang dilaksanakan, tetapi sesungguhnya berasal dari nasionalisme dan kolonialisme Barat abad ke-19 adalah sebuah bentuk rasisme, nasionalisme, dan kolonialisme. (hal. 301).

Ismi Nilman

Saya lebih suka menganalisisnya dari berbagai sisi, tdk membatasinya pada aspek2 tertentu. Saat berbicara dg sesama muslim, sangat layak bila perjuangan Palestina dibawa ke ranah agama, karena ada hadis dan ayat soal persaudaraan. Saat berbicara dg audiens umum, aspek kemanusiaan juga sangat tepat utk menganalisis Palestina. Saat bicara di ranah politik, Israel pun tetap bisa dikritik habis-habisan. Intinya, dari sisi apapun kita bicara, tetap saja, Israel adalah negara illegal.

Pardi Ade Putra : 

Kalau saya lebih cenderung melihat masalah ini sebagai fenomena sosial-politik-ekonomi. Sosial, karena adanya kesenjangan sosial di wilayah itu, politik, karena tebalnya aspek politik internasionall, yang menyangkut negara adidaya, dan ekonomi, karena seluruh wilaya Timur Tengah mengandung aspek ekonomi, yang mendominasi segalanya. Tak heran, armada negara negara adidaya berpatroli disana. Aspek agama SANGAT tipis, karena palestina pasti tidak menggebuk Israel karena mereka Yahudi, namun karena mereka ingin merdeka, dan itu hak mereka. Israel sebaliknya tak mungkin menggebuk Palestina karena Islam, sebab, kalau mau gebuk Islam, silakan gebuk Iran, Turki, Libya, Arab Saudi, Kuweit, Yemen, mesir, Yordania… tak mungkin lah.

Rina Fitri

Perspektif apa pun akan benar, karena semuanya terjalin dalam ranah yang holistik..agama, politik, ekonomi dst. Tapi apapun judulnya..Amerika lebih berpihak u Israel..harus ada kekuatan pembanding untuk menyeimbangi dominasi dan kepercayaan negara-negara terhadap Amerika untuk menghentikan perperangan ini.

Pardi Ade Putra

Kesimpulan mas Andra didukung fakta dilapangan. Uni Eropa yang 99,9% Kristiani selalu mem-back Palestina (walau tak berani menentang AS), memberikan sumbangan dana yang besar sekali tiap tahun untuk anggaran belanja Palestina, Jerman yang Kristiani tak henti henti memberikan bantuan tekhnologi. Jerman melatih polisi Palestina dan mempersenjatai mereka. Bantuan ini lebih daripada bantuan Indonesia, sebuah negara Islam terbesar didunia. SELURUH Amerika Latin, yang 100% Katholik, memback Palestina, juga di PBB. Mereka bukan kawan Israel. Kita lihat? Perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan LINTAS agama. Juga saudara saudara kita, warga Indonesia Hindu Bali, Kristen, Buddha, Konghucu bersimpati pada perjuangan rakyat palestina. Tak ada yang ingin membantu Israel.

_________________

ANDRA USMANEDI,S.PdI, M.Pd

Penulis selain wartawan Pilarbangsanews.com juga guru honorer di SMA N 1 Batang Kapas dan Tuo Kampuang Taluak Kasai.

By Pilar