PILARBANGSANEWS. COM. 
Hari ini Jum’at 1 September 2107 bertepatan dengan jutaan manusia yang sedang melontar jumbrah di Mina, Arab Saudi. Tam Arang dan Utiah Kapeh, di tanah air, pagi tadi mereka ikut menunaikan sholat Idul Adha di salah satu masjid di Kampung mereka.
Pun  Mak Gambuang,   hari ini Lapau Mak Gambuang tutup, Mak Gambuang merasa lebih penting baginya menunaikan sholat Idul Adha dibanding membuka warung kopinya, sebab ibadah ritual lebaran haji hanya sekali dalam  setahun. 
Tambah lagi Mak Gambung tak pernah abses, nenek janda menjelang tua ini ikut Qurban di masjid tempat biasa Mak Gambuang melaksanakan ibadah sholat 5 waktu.
Mak Gambuang termasuk  yang sangat rajin jemaah ke Masjid. Mak Gambuang tak pernah absen menunaikan sholat jemaah saban waktu. Bagi Mak Gambuang ibadah lebih penting dari segalanya. Jika Mak Gambuang ke Masjid warung Mak Gambuang, berlaku sistem layan sendiri (swalayan), maksudnya pengopi dibebaskan membuat sendiri kopi yang dipesan. Inilah salah satu keunikan Lapau Mak Gambuang, walupun begitu tak satupun pengunjung yang berani minum kopi gratis di Lapau Mak Gambuang yang bertubuh seperti karung plastik pupuk orea itu.
Hari ini Tam Arang absen bercerita. Mereka meliburkan diri dari memperbincangkan persoalan dunia yang akan dijadikan bahan tulisan bagi pak YY. Sebab sehabis sholat Idul Adha tadi dia mengunjungi kerabatnya. Seorang uwan (paman adik dari ibu ) Tam Arang masih hidup. Kesempatan hari lebaran ini digunakan untuk mengunjungi si uwan
Tam Arang sebagai penokan dari Uwan Lembai, begitu nama mamak (Paman) itu bila disapa Tam Arang, sangat patuh dengan semua titah mamaknya, meski secara fisik Wan  Lembai berbadan kurus “longkai” (tinggi).  Bagi Tam Arang menghormati saudara ibunya sebuah kewajiban yang harus dia indahkan.

Uwan  Lembai tinggal di bilik sepan (bilik depan) rumah gadang peninggalan ayah dan Mak Gaek (kakak nenek ) dari Tam Arang. Kamar itu khusus diperuntukkan bagi saudara laki laki dari Ibu Tam Arang jika si uwan lagi perai berbini (duda).

Sementara itu Utiah Kapeh sehabis sholat Idul Adha tadi dia pulang kerumah bininya. Utah Kapeh tidak kemana mana, ibu Utiah Kapeh yang juga berstatus janda pagi pagi telah dijelangnya (bahasa Jakarta dijelang itu sama dengan disamperin).  Ibu bagi Utiah Kapeh adalah urang keramat hidup hidup yang tak pernah dibantah agak sekalipun jika ibu bilang sesuatu. Apa kata ibunya selalu diikuti oleh Utiah Kapeh. 
Melihat suaminya sangat santun pada ibunya, istri Utiah Kapeh adalah seorang istri yang sangat santun pula pada martua.

Sehabis menunaikan sholat Jum’at kedua saudara sesusuan ini tak kemana mana, besok agenda mereka ikut membantu panitia kurban memotong, membersihkan daging hewan kurban untuk dibagi bagikan kepada warga di desa mereka tanpa  pandang bulu kaya atau miskin. Pemotongan Qurban dikampung mereka tidak dilaksanakan hari mengingat waktu yang singkat menyelenggarakan ibadah sholat Jum’at.

 Untuk pembagian hewan korban harus merata kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno saat memberikan sambutannya pada usai sholat dan khutbah Idul Adha tahun ini di depan Kantor Gubenur SUMBAR tadi pagi. Himbauan pemimpin itu bagi Tam Arang dan Utiah Kapeh kalau  “siang dipatungkek malam dipakalang.  (*)

By Pilar