DHARMASRAYA, Pilar Bangsa News –  Dengan bangga dan saking senangnya, anak-anak Suku Anak Dalam ini berebutan dan bersorak menulis namanya di selebaran kertas koran yang ditempel di batang kelapa sawit. 
Bisa dibayangkan, nama atau panggilan yang mereka gunakan untuk memanggil satu nama lainnya ternyata bisa dituangkan dalam bentuk simbol atau tulisan.
” Kalau saya menemui tulisan yang sama, berarti tulisan itu bacaannya nama saya,” tandas si Ulan yang dengan sumringah seraya berjanji akan selalu ingat selamanya.

 Apalagi jika mereka ke luar atau istilahnya ke dusun, banyak tulisan, gambar dan simbol lainnya yang ditemui sehingga pemahaman ini membuat anak-anak Suku Kubu ini makin giat untuk belajar membaca, tidak hanya nama namun banyak hal yang bakal mereka dapatkan.
Itulah sepenggal kisah dari pembinaan yang dilakukan oleh penyuluh pertanian BP3K Koto Besar, Dinas Pendidikan, Assosiasi Camat dan Camat Koto Besar dalam pembinaan Suku Anak Dalam yang telah dirintis beberapa waktu lalu.
 Saat ini ada 22 tenda yang terdiri dari 20 keluarga mendiami salah satu areal perkebunan sawit di nagari Koto Laweh, dimana 2 minggu sebelumnya mereka berdiam di nagari Koto Ranah mengikuti program pembinaan dengan kelas belajar CALISTUNG (baca, tulis, hitung) bagi anak-anak dilanjutkan dengan orang tua mereka 2 kali seminggu (tiap Jum’at dan Senin), pendataan untuk mendapatkan KTP dan pengenalan bercocok tanam atau pengetahuan pertanian berupa tanam sayur di polibag. 
Untuk kelancaran pembinaan, melalui Kepala sukunya H.Himpit agar menetap dilokasi ini selama 3 bulan guna memudahkan pendataan. 
Sepertinya pepatah minang ” Alam Takambang Jadi Guru ” benar-benar “dipacik” oleh penyuluh pertanian dari BP3K Koto Besar ini. Tanpa menghilangkan jasa tokoh -tokoh lainnya seperti Pandong Spendra dan LSM lainnya , adalah Idisda, S.PKP, Reno Seprama, SP dan tak ketinggalan T Hendriman Ketua KTNA termasuk sosok yang terlibat langsung dalam meng- Indonesiakan sekelompok Suku Anak Dalam yang tinggal di bumi Dharmasraya ini.Berawal dari pengenalan pertanian, bantuan bibit sayuran, bahkan untuk kali pertama Suku Anak Dalam memperingati HUT RI ke 72 di Kantor Camat Koto Besar.
 Sebagai pelayan masyarakat, seorang penyuluh pertanian mempunyai peran sebagai agen, fasilitator, motivator dan empowerment spirit dalam menyampaikan pesan sehingga suasana yang tercipta sangat santai, ceria, penuh dinamika tapi serius tentunya. 
Metode pembinaan sesuai sosial budaya, belajar di tengah alam, kertas koran yang ditempel dimana saja dan tidak ada istilah guru -murid merupakan dunianya seorang penyuluh pertanian seperti yang mereka lakoni dalam Sekolah Lapang dan metode penyuluhan lainnya.
 ” Ini adalah bukti Penyuluhan Pertanian bersifat universal dan tanpa batas” tandas Darisman, S.Si, MM Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya sewaktu meninjau aktifitas pembinaan Suku Anak Dalam beberapa waktu lalu sambil menyerahkan bibit tanaman dan makanan instant lainnya.
Tersirat kesan mendalam bagi para penyuluh pertanian lainnya, bahwa masyarakat terpencil lainnya seperti Lubuk Besar, Batu Kangkung, Lubuk Labu harus disentuh oleh pelayanan mantari pertanian demi kemajuan Dharmasraya ke depan seperti yang diungkapkan oleh Santy Virgo Putri, S.Hut Kepala Bidang Penyuluhan.
” Kelembagaan penyuluhan di daerah pinggiran akan terus diperkuat, apalagi saat ini ada 17 CPNS penyuluh pertanian yang muda dan enerjik” tandas Kepala Bidang wanita ini dengan semangat.
” Kita berharap, kegiatan ini tetap berlanjut dan berkesinambungan serta punya hak yang sama dengan masyarakat kebanyakan. berubah dalam sekejap itu tidak mungkin, butuh waktu, perlu kesabaran, kesungguhan dan keseriusan semua pihak. Tidak ada yang tidak mungkin selagi niat dan komitmen kita untuk membangkitkan harga diri mereka. Tutur Darisman Kepala Dinas Pertanian Dharmasraya. ( Rjl/DMC )

By Pilar