PILARBANGSANEWS
.COM.BATANG KAPEH,-Masyarakat IV Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas, Pessel, Sumbar diharap bersabar karena tahun ini besar kemungkinan Pemda Pesisir Selatan belum bisa merehabilitasi Irigasi Setengah Tehnis Batang Jalamu yang  bobol sejak 2 tahun lalu dan kini kondisinya semakin parah akibat  dihondoh arus sungai yang meluap awal September lalu.

“Saya baru tahu kalau irigasi itu sudah lama  tidak berfungsi lagi. Saya baru dapat informasi bahwa irigasi itu tidak berfungsi saat menghadiri acara peringatan tahun baru Islam di Masjid Pasar Kuok,” kata Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni Dt Bandobasou menjawab Pilarbangsanews.com, semalam, Jum’at (6/10).

Sepulang dari menghadiri acara majelis taklim itu, kata Hendrajoni lebih lanjut, dia langsung  menghubungi kepala PSDA apakah masih ada sisa dana bencana alam yang bisa dimanfaatkan untuk merehabilitasi irigasi Batang Jalamu?

Dijawab kepala Dinas PSDA sudah tidak ada lagi, tahun ini sering terjadi bencana alam di Pessel, semua dana terserap habis untuk biaya rehabilitasi prasarana yang rusak akibat bencana alam itu.

“Kepada masyarakat petani sawah di Nagari IV Koto Hilie diminta untuk bersabar menjelang tahun anggaran baru 2018, insya Allah akan direhab,” ujar Bupati Hendrajoni.

Irigasi setengah tehnis Batang Jalamu satu satunya irigasi mengairi 450 H  lahan pertanian masyarakat di  Kanagarian IV Koto Hilie. Disana ada 15 kelompok tani pemilik/penggarap sawah.

Baca juga berita terkait irigasi ini;

15 Kelompok Tani Di Batang Kapeh Akan Mengalami Gagal Tanam Apabila Bendungan. Batang Jalamu Tak Segara Direhabilitasi

Irigasi tersebut awalnya irigasi yang sangat sederhana, dibuat secara gotong royong oleh petani setempat sebelum Indonesia merdeka.

Pembuatan dam irigasi pun sangat sederhana pada waktu itu, yaitu dengan cara membendung air sungai dengan bambu, tanah dan apa saja yang dapat membendung air agar bisa mengalir ke posisi saluran primer.

Kemudian pemerintah orde baru membangun irigasi Batang Jalamu secara setengah tehnis, mengunakan kawat beronjong dan dilengkapi dengan pintu masuk air.

Masih pada saat Presiden Soeharto berkuasa, negara kita mencanangkan swasembada beras semua irigasi di tanah air ditingkatkan pembangunannya. Batang Jalamu ditingkatkan menjadi irigasi setengah tehnis dengan membangun dam semen untuk bendungan sungai.

Seiring dengan kemajuan zaman, alat tebang kayu chain show diciptakan. Oleh oknum tak bertanggung jawab mesin mesin chqin show itu digunakan untuk merambah  hutan. Akibatnya banjir pun sering terjadi. Sungai Batang Jalamu sering meluap.

Bukan air saja yang meluap, kayu kayu besar ikut hanyut dan menghantam irigasi itu. Sehingga berdasarkan catatan wartawan Pilarbangsanews. Com, sudah 3 kali dam sungai Batang Jalamu itu bobol dihantam kayu besar saat sungai meluap.

Kini irigasi itu kembali bobol, praktis prasarana vital bagi petani ini tak berfungsi. Akibatnya petani di IV Koto Hilie terpaksa menunggu air hujan untuk kembali turun menanam sawah mereka,  karena sawah mereka yang awalnya memiliki pengairan kini menjadi sawah tadah hujan. (YY)
 

By Pilar