Hari ini Senin 9 Oktober 2017, sejak malamnya tidur Zalika sangat pulas, pada malam hanya sekali tersentak dari tidur, merengek minta mimik, setelah menghabiskan susu 50 cc si mata sipit tidur lagi, begitu juga siang tadi, bangun 2 kali dikasih mimik oleh bundanya dan didukung sebentar kemudian tidur lagi. Tak terdengar tangisan  keras hari ini, hanya rengekkan halus saat tersentak tanda minta ASI.

Si bunda bernama Tutri Reski Nadya semalam ikut menikmati tidur nyenyak di samping sibuah hati. Sementara si ayah Shabeq Yovino Harzi pun tak terdengar komunikasi monologisnya dengan  si mata sipit nya. Si ayah bebas.  Benar benar bebas untuk tidak  bercerita guna mengalihkan perhatian sibuah hatinya yang sedang menangis dan meringis  kesakitan. 

Si Oma Hj Isnimal semalam tidur si rumah RSUD Arifin Achmad, dikamar perawatan cucunya, sementara si opa YY yang rajin menulis catatan terkait cucu ke 3 nya ini, selalu tidur diluar kamar  perawatan. Opa lebih memilih tidur diluar kamar  diatas bangku bangku yang tersedia di RSUD Arifin Achmad Pakanbaru, karena si opa tak tahan dengan dinginnya hawa Air Condition (AC) yang ada di kamar perawatan Baogenvil lantai IV RSUD kebanggaan warga Kota Pakanbaru itu.

Tadi pagi, dua dokter spesialis yang memberikan pertolongan medis terhadap  Zalika melakukan visite terhadap paisen nya bernama ZALIKA FAIQAH TRISHA HARZI. 
Baca terkait tulisan ini;

Seharian Zalika Jadi Baby “Saulah”, Tapi Susah Di Infus (bag 22)



Dokter yang pertama melakukan visite kekemar Zalika adalah  Dr Nazardi Oyong, dia dokter spesialis anak. Memberikan advisnya bahwa Zalika tak perlu lagi di infus, jika memberikan obat pada Zalika boleh melalui oral (mulut)..

 Alhamdulillahirobill’alamin…., kecemasan semalam tentang susahnya mencari Vena untuk memasukan jarum infus pada Zalika pagi ini  benar benar hilang ketika  Dr Oyong yang punya bakat seni musik barmain gitar dan dikenal sebagai bintang penyanyi di RSUD Arifin Achmad itu, menyatakan Zalika tak perlu diinfus lagi. Dokter Oyong telah memberikan rekomendasi untuk pulang kepada  Zalika.

Tak lama kemudian datang melakukan Visite  Dr Tondi ahli bedah syaraf yang menangangi Hidrosefalus Zalika sejak operasi pertama di RS Syafira sebuah rumah sakit swasta di Jalan Sudirman Kota Pekanbaru.

Hari ini dr Tondi menginstruksikan kepada perawat utk mengganti perban yang menutupi jahitan operasi Vp Shunt Zalika..Ternyata ketika perban itu terbuka msh terdapat rembesan air disela2 jahitan dikepala Zalika..

Melihat kondisi tersebut, Dr Tondi masih akan melakukan observasi terhadap kondisi Zalika sehabis operasi.

Itu artinya Zalika masih harus menunggu beberapa hari lagi untuk bisa meninggalkan RS sampai mendapatkan rekomendasi pulang dari dokter bedah saraf.

Ditengah tengah dokter Tondi memeriksa Zalika saya menyiapkan kamera HP untuk mengambil dokumentasi, tapi tiba tiba dokter Tondi  melarang “Hey ini foto foto mengapa ini. jangan diambil gambar saya, tidak boleh, ini  bahagian dari tindakan praktek kedokteran. Jangan. Untuk apa foto saya diambil ha,” kata dokter Tondi sebagai pernyataan nya tidak setuju saya mengambil fotonya, meskipun saya sebutkan hanya untuk dokumentasi.

Sebagai wartawan saya bisa juga bilang bahwa wartawan bebas untuk meliput berita dan ada juga lho tindakan hukum bagi yang menghalang halangi wartawan saat meliput berita. 


Tapi itu gak perlu dipermaslahan. Saya bersyukur dokter Tondi telah membantu cucu saya..

Namun  yang membuat tak habis pikir dan heran, kenapa dulu ketika  Zalika  hendak menjalani tindakan operatif pertama di RS Syafira, Dr Tondi ,sangat ramah menurut  saya, sempat bercanda, saat dia menjelaskan perlu segara dilakukan  oparsi pada kepala Zalika yang besar akibat Hidrosefalus itu. Bahkan saya sempat mencium tangan pak dokter ini sebagai ucapan terima kasih karena keberhasilaannya telah melakukan tindakan opraratif medis pada cucu saya.

Namun ketika   operasi kedua karena oparasi pertama gagal dimana VP Shunt yang dipasangkan di kepala Zalika tidak berfungsi lagi dan menyebabkan kepala Zalika kembali  membesar,  sepertinya Dr Tondi sudah tidak ingat lagi dengan saya sebagai opanya Zalika dan beliau menganggap saya sebagai orang asing. Mudah mudahan ini hanya ilusi saya saja yang sebanarnya bukan begitu, maklum saya tahu konon Dr Tondi adalah dokter spesialis bedah syaraf yang pertama ada di RSUD Arifin Achmad dari 3 orang Dokter Ahli Bedah Syaraf yang dimiliki oleh RSUD Arifin Achmad Kota Pekanbaru. 

Terkait adanya air rembasan di bekas jahitan persis dekat kran kontrol VP Shunt terpasang, menurut dokter Tondi dilakukan dulu obeservasi beberapa hari ini.

“Bagaimana jika air itu nanti tambah banyak pak, apa perlu dioperasi ulang lagi?” saya masih mencoba gigih bertanya.

“Oh tidak, disedot saja.” kata dokter Tondi tanpa melihat kearah saya.

Desidot itu bukan Operasi namanya ya…. Heheheh.. Saya membatin.

Ah…. Biarlah, yang jelas dari hasil pengukuran lingkaran kepala Zalika pagi tadi diketahui besarnya 37,5 cm menyusut 3,5Cm sebelum oparasi 41Cm. Itu artinya operasi ke 2 yang dilaksanakan Dr Tondi sukses.

Kami semua berharap semoga si pemilik mata Korea ini, sehat dan panjang umurnya sehingga ketika dia tumbuh sebagai cewek cakep yang muslimah dia menyeduhkan kopi susu panas buat opanya…

Berkali kali rasa syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan musibah tapi Allah sendiri yang mengangkat musibah itu lewat tangan tangan para ahli dan perawat di RSUD Arifin Achmad ini. Alhamdulillahirobill’alamin..

Bersambung…… 

By Pilar