PILARBANGSANEWS.COM.PAKANBARU,-

Dia turun ke lantai bawah dari tangga lift, sedangkan saya akan masuk lift naik ke lantai atas RSUD Arifin Achmad Pekanbaru itu. Dia terpana memandang saya, pun saya demikian juga. 

Saya julurkan tangan saya sebagai tanda saya ingin menyalaminya. Tangan saya disambutnya dan digenggamnya erat erat dan tak dilepaskannya lagi.

“Pak dotor yo,” kata saya yang maksudnya ini pak dokter ya.

“Ezi…., kapubunduang mah, manga siko, Samo sia siko,” ujarnya yang artinya Ezi ( nama panggilan saya), kapunduang itu  sejenis kumbang yang suka terbang dan merayap, ini sebuah istilah yang selalu digunakan sebagai candaan kepada rekan sesama besar atau kecil dari kita. Manga disiko = mengapa disini…Samo sia siko = sama siapa disini.

Saya jelaskan ke bapak yang saya panggil pak dotor ini bahwa  cucu saya sedang  dirawat di RSUD Arifin Achmad ini. Lalu kemudian saya tanya dia. “Pak dokter disini berkerja?”

“Iyo, saya sudah lama disini bekerja sejak tahun 2005,” katanya.

Dia adalah DR Dr Effif Syofra Tripriadi, dokter spesialis Bedah Cancer yang bergelar doktor ini anak Rang Talang Solok. Dulu begitu dia tamat dari FDok Unand Padang pernah jadi induk semang (pimpinan) Puskesmas Pasar Kuok Batang Kapas, Dima tempat istri ambo tercatat sebagai salah seorang perawat di situ.

Ambo (YY) dulu sebelum tinggal dirumah pribadi tinggal di Perumahan Puskesmas Pasar Kuok itu, pak Dokter Effif jadi pimpinan Puskesmas Pasar Kuok itu sekitar tahun 1987/89 hanya setahun dia disana, kemudian dari puskesmas Pasar Kuok, dia dipindahkan ke Puskesmas Tapan. 3 tahun jadi pimpinan dan sekaligus dokter umur di Tapan.

Ada kesempatan untuk nyambung kuliah maka menantu Almarhum Dr M Jamil ini pindah ke Padang dan mengikuti kuliah di RSUP yang nama rumah sakit itu memakai nama martuanya.

Istri DR Effif Putri Dr M Jamil Padang. Beliau ini dipanggil bunda di RSUD Arifin Achmad,  juga seorang dokter, tahun ini mau pensiun aja dah…, kata suaminya

Setelah selesai manamatkan kuliah Program Spesialisasi Bedah, Afif ditempatkan di Aceh. Dari Aceh dipindahtugaskan ke Maluku.

“Jadi pak dotor, pernah bertugas didaerah komplik kalau begitu?”

“Ya pernah. Si bunda juga,” katanya, yang dimaksud sibunda itu adalah istrinya. Menurut Effif, Si bunda itu 2 rumah sakit yang dipegangnya. Rumah sakit Muslim dan Rumah sakit Kristen. Saat bmelaksanakan tugas mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan bersenjata lengkap. “Alhamdullilah amanlah,”  kata Efif singkat.

Setelah dari Maluku, pindah ke Kabupaten Kerinci Riau. Disana dokter yang pandai bergaul ini, ditugaskan oleh Bupati untuk merencanakan pembangunan Rumah Sakit Daerah. “Saat ambo tugas di Kerinci itu, rumah sakit belum ada, sekarang sudah,” tuturnya.

Dari Kerinci baru pindah ke  RSUD Pakanbaru.

Dokter yang selalu ingin mengunakan kesempatan menambah ilmunya ini,   mengambil super spesialis Bedah Tumor di UI (Universitas Indonesia). Dua tahun kuliah berhasil menyelesaikan program, maka  jadilah dia sebagai Dokter ahli bedah Tumor.

Masih merasa kurang dengan ilmunya, anak pasangan  guru SMP ini,  kuliah lagi. Beberapa tahun sebagai kandidat doktor, akhirnya ia diwisuda dan dibelakang namanya harus lah ditulis gelar akademis DR Dr Effif Syofra Tripriadi Sp.Bd Tumor. (Maaf mungkin salah saya menuliskan gelar ini, pembaca betulkan saja ya).

Kini menantu Almarhum Dr M Jamil yang nama martuanya diabadikan untuk RSUP Padang itu, telah dikarunia 1 orang cucu dari 3 orang putra putrinya.

Para perawat di RSUD Arifin Achmad tak memanggil nya dengan sebutan doktor. “Kalau disini orang sudah lupa dengan nama saya,” katanya.

“Iyo pak. beliau ini ayah kami pak,” kata Yeka seorang perawat di lantai IV RSUD Arifin Achmad kepada saya yang kebetulan perawat itu sedang ada diruangan tempat Zalika dirawat.
Tulisan tentang Zalika klik ini;

Lingkaran Kepala Zalika Kembali Normal Pada Hari Ke 5 Pasca Oparasi (bag 23)


Pak dotor, begitu kalau dulu saya memanggil dia, sampai sekarang sapaan itu tak akan saya robah. Sebab tak mungkin lah saya manggil mantan atasan istri saya ini dengan sebutan ayah karena kami sebaya.

Di RSUD Arifin Achmad Pakanbaru ini DR Effif Syofra Tripriadi jadi kepala Intalasi Bedah. Dia membawahi jabatan fungsional para dokter ahli  bedah di RSUD ini.

Saya jemput kembali cerita ketika bertemu dilantai dasar saat turun lift tadi. Tangan saya tak dilepaskan. Saya ajak Pak dokter ini ke lantai IV untuk ketemu dengan mantan anak  buahnya “anak daro” (istri) ambo.

Begitu masuk pak dokter tak ngomong apa apa, dia langsung mendekati Zalika cucu ambo yang lagi dirawat.

“Hajjah… Hajjah kenal dengan bapak ini?” tanya saya ke “anak daro”.

Tadinya “anak daro” duduk santai di kursi, karena saya panggil langsung bangun dan menghampiri saya. “Gak… Gak kenal,” katanya setelah melihat ke orang yang datang.

“Gak kenal?” saya ulang bertanya.

Anak daro ambo tetap menggelengkan kepalanya.  Benar benar lupa dia.



“Nde kapunduang mah, lupa dia dengan awak,” ujar dokter Effif becanda.

“Ingat dengan pak dotor Efif?” saya bertanya.

“Nde….., pak dokter Efif lah ini kiranya, lupa aku dok, sebab sudah berubah.”

Ya benar tentu saja sudah banyak perubahan, muda talah terlongsong ,  gaek pun  masih belum.. Kepala pak dokter sudah ” botak ” maklum dia tak lama lagi akan bergelar profesor pula sehabis menyandang gelar Doktor….

Sukses selalu untuk Pak Doktor Effif….. 

By Pilar