Hari ini Senin (16/10) sendirian  saya duduk dipojok pos jaga RSUD Arifin Achmad  Pekanbaru itu,   sambil memetik sebatang  rokok, aku asyik memegang dan mempermainkan HP kesayanganku yang selalu kugunakan untuk menulis berita dan posting berita di media ini.

Tiba tiba dihadapan ku, datang menghampiri seorang gadis kecil, berumur sekitar 10th.

“Pak…, boleh gelas gelas ini saya ambil pak?” kata gadis berkulit kuning Langsat pakai jilbab begitu ia berdiri dihadapan aku duduk.

“O ya silahkan.”

“Maksh ya pak,” katanya santun dan memungut semua gelas plastik bekas minuman itu.

“Nama kamu siapa ?” 

“Lidya.., pak,”

“Kamu enggak sekolah?”

“Tidak ada biaya pak.”

“Kamu tinggal dimana?”

Dia menyebutkan alamatnya tapi saya lupa mengingat kembali.

“Kamu tinggal bersama orang tua kamu?” 

“Iya pak”

Sampai disini saya siapkan kamera HP saya untuk mengambil gambar gadis kecil yang mengaku bernama Lidya ini.

Tahu foto dirinya saya ambil dia berusaha mengelak, sepertinya dia tak mau fotonya diambil. Namun dia tidak berani melarang, mungkin merasa percuma dilarang karena toh fotonya akan diambil juga.

“Kenapa kamu takut bapak foto?” pertanyaan saya ini tidak dijawabnya.

Dia tetap asyik mengumpulkan gelas gelas plastik itu setelah dibuang sisa sisa yang ada  di gelas, dimasukkan ke kantong plastik yang telah dipersiapkannya. 

Saya amati sigadis kecil, wajahnya sangat cantik menurut pandangan saya. Kalau anak ini ayahnya saya mungkin penampilan akan berbeda. Apalagi kalau dia sempat lahir dari  seorang mami seperti Lisda Rawdha istri Bupati Pesisir Selatan mantan peragawati dan pramugari itu, wow … Penampilannya akan menjadi gadas kecil yang laris ditawar sebagai bintang iklan.

“Kamu sekolah gak, mengaji apa juga gak?”

“Saya mengaji pak”

“Coba bapak ingin dengar ayat apa yang kamu hafal diluar kepala.”

Bismillahirrahmanirrahim…, beberapa ayat sempat dibacanya… “Maaf pak, saya tinggal dulu, saya  mau kerja pak.” ujarnya sambil matanya mengang mengong memperhatikan seolah olah ada orang lain yang mengamatinya.

“Tunggu sebentar, biar bapak kasih kamu duit,” cepat saya merogoh kantong, ada selembar uang Rp 5 ribuan dikantong saya, lalu saya berikan ke dia. Dia menolak. 

“Jangan pak…, saya bisa cari duit sendiri, saya bukan peminta minta pak,”

“Ambil lah nak.,” 

“Gak pak .. Gak pak,” kepalanya digelengkan terus tanda menolak pemberian saya. 

“Kamu kesini ada yang ngantar? Siapa yang nyuruh kamu,nak? Tanya saya.

“Gak ada yang nyuruh pak, saya aja ingin bantu bantu orang tua.”

“Berapa kamu dapat duit dalam sehari?”

“Rp 10 ribu, pak.”

“Kamu  sekolah donk, jangan gak sekolah.” kata saya.

“Gak ada biaya pak.”

“Ikut sama bapak mau, biar nanti bapak yang sekolahkan.”

“Gak pak,” katanya dan kepalanya ikut menggeleng menolak tawaran saya.

Lembaran 5 ribuan tadi saya masukkan kedalam kantong  plastik saat dia ingin meninggalkan saya….

Kamu hebat nak Lidyaaaaaaa..

Aku membatin seribu bahasa, akhirnya ku ungkapan rasa salut ini dalam bentuk tulisan dan pertemuan saya dengan gadis kecil hebat itu berkahir sampai disini..

Wassalam

By Pilar