PILARBANGSANEWS. COM. SOLOK,–

Kepopuleran nama Irzal Ilyas semakin menjadi-jadi di Kota Solok. Mantan Wakil Walikota Solok periode 2005-2010 dan Walikota Solok periode 2010-2015 itu, semakin jadi pembicaraan di masyarakat Kota Solok. Bahkan, namanya sampai masuk ke lagu dendang di berbagai tempat baralek (kenduri) di Kota Solok.

Dua tahun setelah tidak menjadi Walikota Solok, ternyata nama Irzal Ilyas tidak hilang di Kota Solok. Bahkan, dirinya kini semakin dirindukan oleh sebagian besar masyarakat Kota Solok. Pihak yang dulu “membencinya” kini seakan “tersadar”, bahwa watak “keras” yang dimiliki dan menjadi gaya kepemimpinan Irzal Ilyas, justru dibutuhkan oleh masyarakat Kota Solok. Berbagai dukungan agar Irzal kembali mencalonkan diri sebagai Walikota Solok 2021-2026, semakin deras mengalir.

“Watak keras beliau ternyata adalah obat. Bahkan justru watak seperti itu yang dibutuhkan Kota Solok. Kami berharap, beliau kembali maju di Pilkada 2021 nanti. Kota Solok butuh beliau,” ujar Ervan, salah warga Kota Solok.

Saat menjadi Wakil Walikota Solok periode 2005-2010 dan Walikota Solok periode 2010-2015, Irzal Ilyas dikenal sebagai pribadi yang keras. Hal ini membuatnya “dibenci” sekaligus “disayangi” warga Kota Solok dan pegawai di Pemko Solok. Sebagai putra daerah pertama dan satu-satunya yang menjadi Walikota Solok, Irzal Ilyas menancapkan gaya baru dalam pemerintahan. Keras, tegas, tanpa kompromi dan “bagak”. Gaya tersebut justru membuatnya kembali dirindukan masyarakat.

“Dari kecil saya dididik disiplin dan berkarakter. Karena itu, saya tidak pernah mau neko-neko. Namun, isu yang berkembang justru mengatakan saya pelit, si raja tega dan tidak mau diajak kompromi. Isu itu membuat saya ‘dibenci’, baik oleh sebagian masyarakat, maupun pegawai dan pejabat di Pemko Solok. Saya rela dibenci, tapi saya tidak rela jati diri dan karakter saya dikorbankan. Sekarang, masyarakat dan pegawai di Pemko Solok kan sudah tahu, berpahit-pahit dahulu itu sebenarnya baik,” ujar Irzal, saat wawancara eksklusif dengan Metro Andalas, di sebuah kafe di Kota Solok beberapa waktu lalu.

Setelah hampir dua tahun tidak lagi “terikat” protokoler, Irzal mengaku saat ini dirinya lebih fokus membina usahanya. Ketua DPC Partai Demokrat Kota Solok itu, kini memiliki usaha pencucian dan salon mobil. Serta sebuah mini market yang dibangun di bekas kantor DPC Partai Demokrat di Kelurahan KTK, Kota Solok. Menjalani hidup baru sebagai warga biasa, Irzal mengaku saat ini bisa lebih dekat dengan keluarga yang lebih 15 tahun ditinggalkan.

“Saya hidup di laut selama 15 tahun, sejak 1983 hingga 1998. Saya hanya pulang sekali setahun. Selama itu pula, sebagai Kepala Kamar Mesin (KKM), saya berkutat dengan urusan teknis mesin kapal. Idaman tertinggi seorang pelaut adalah berkumpul dengan keluarga. Meski saya punya simpanan yang lumayan, namun ketika tidak menjadi walikota lagi, saya tidak ingin berdiam diri. Karena itu bukan karakter saya yang ingin selalu bekerja,” ujarnya.

Saat ditanya apakah sebagai mantan Walikota Solok, Irzal tidak malu mengerjakan pekerjaan “rakyat jelata” tersebut, adik kandung Brigjend Pol Edmon Ilyas ini justru mengaku bangga. Menurutnya, dengan usaha tersebut, dirinya bisa dekat dengan keluarga, anak, kemenakan, sanak saudaranya dan masyarakat Kota Solok.

“Saya tidak pernah malu dalam berusaha. Memang banyak masyarakat yang mengkritisi, mengapa saya tetap bekerja setelah jabatan. Saya hanya malu mencuri dan mengemis. Saat merintis usaha ini, saya melakukan sendiri pekerjaan yang remeh temeh. Seperti mengangkat pasir dan cadas dengan gerobak, membersihkan tempat hingga membangun sistem layanan pada pelanggan. Intinya, saya tidak ingin terbuai dengan kondisi dan tabungan yang saya punya. Sementara, perbulan, biaya saya sekeluarga rata-rata Rp 25 juta. Karena ada tiga anak saya kuliah di Jakarta dan saya masih mencicil rumah. Namun, dari usaha ini saya berpenghasilan Rp 500 ribu perhari. Itu lebih besar dari gaji seorang walikota lho,” ungkapnya sambil tertawa lepas.

Terkait kerinduan masyarakat tentang kepemimpinannya kembali, Irzal Ilyas mengakui juga mendengar hal itu. Bahkan, secara khusus sejumlah pejabat aktif dan mantan-mantan pejabat serta pegawai di Pemko Solok, sering mengeluhkan hal ini kepadanya. Namun, secara diplomatis Irzal selalu mengatakan agar bersabar dan beradaptasi. Karena setiap pemerintahan punya gaya tersendiri.

“Itu adalah teknis birokrasi dan gaya kepemimpinan masing-masing. Saya sangat kenal dengan Zul Elfian, karena dulu adalah wakil saya dan sebelumnya, beliau juga asisten bidang pemerintahan. Jadi beliau adalah birokrat senior di Pemko Solok. Komunikasi saya dengan beliau juga tetap bagus hingga kini. Niat beliau tentu juga ingin membawa Kota Solok ke arah lebih baik. Meski pola dan gaya kepemimpinannya berbeda dengan saya. Jadi bersabarlah,” ujarnya.

Di masa pemerintahan Irzal Ilyas, Pemko Solok bertabur prestasi di tingkat nasional. Selama lima tahun menjadi orang nomor satu di Kota Solok, total ada 32 penghargaan yang diraih. Termasuk penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI untuk pertama kalinya dalam sejarah Kota Solok, sejak berdiri pada tahun 1970. Namun, taburan penghargaan ini, justru dipelintir menjadi isu oleh lawan-lawan politiknya, yang menyatakan penghargaan-penghargaan itu berkat uang pelicin.

“Saya sangat menekankan aparatur agar bekerja sesuai Tupoksi. Alhamdulillah dapat 32 penghargaan dan itu saya jamin tanpa uang pelicin. Kalau ada neko-neko, tentu saat ini saya tidak nyaman berada di Kota Solok. Meski saya punya rumah di Padang dan Jakarta. Saya memang bukan ahli agama, tapi saya orang beragama. Setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Tidak hanya kepada manusia, tapi juga kepada Allah,” ujarnya.

Selain penghargaan itu, Irzal Ilyas juga dinilai berjasa dalam meletakkan pondasi pendidikan, kesehatan hingga ekonomi di Kota Solok. Seperti Jaminan kesehatan untuk seluruh warga Kota Solok, yang lebih dulu dari Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di tingkat pusat. Lalu sekolah gratis dan tanpa pungutan sejak SD hingga SLTA.  dalam “mengembalikan” aset-aset Kota Solok, dengan mekanisme tukar guling dengan Pemkab Solok. Seperti Kantor Dinas Pertanian, Kantor Partai Golkar, lokasi yang menjadi Kantor Pol PP sekarang dan sejumlah aset Pemkab Solok lainnya yang berada di Kota Solok.

Mengenai isu yang berkembang tentang masalah pembagian proyek di Kota Solok, Irzal menyatakan hal itu tinggal ketegasan dari pimpinan daerah. Menurutnya, proyek-proyek merupakan kegiatan yang murni eksekutif. Sementara legislatif adalah sebagai pengawas. “Dulu, saya sangat tega tidak memberikan proyek-proyek ke kader dan Partai Demokrat. Kalau mau ikut, harus profesional, ikuti proses dan prosedur. Tidak boleh ada pengondisian, apalagi prakondisi terhadap tender maupun PL. Sehingga, tidak ada proyek yang bermasalah. Semua orang memang cenderung melanggar aturan. Jangankan aturan pemerintahan, aturan agama pun dilanggar. Kuncinya adalah bertegas-tegas,” ujarnya.

Terkait keinginannya untuk maju di Pilkada Kota Solok 2021, Irzal Ilyas mengungkapkan dirinya saat ini belum berfikir sejauh itu. Saat ini di samping fokus ke usaha, sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kota Solok, dirinya memilih fokus terlebih dahulu ke pemilihan legislatif (Pileg) 2019. Mengenai kerinduan masyarakat agar dirinya kembali maju di Pilkada 2021, Irzal mengaku akan mengevaluasi sejumlah kelemahan yang membuatnya kalah di Pilkada 2015 lalu. Salah satunya adalah tidak dekatnya tim dan dirinya dengan media massa.

“Media massa sangat penting. Saya akui, itu adalah kelemahan saya dulu. walikota sekarang naik dan populer karena media. Karena itu, walikota sekarang berutang budi ke pihak media. Pelajaran paling berharga itu adalah pengalaman,” tutupnya. (rzl)

By Pilar