PILARBANGSANEWS.COM. JAKARTA,– Negara-negara Islam masih dirasa sulit untuk mengadopsi demokrasi. Sebut saja Indonesia, Turki, dan Mesir. Meski pada teorinya berdiri atas nama demokrasi, namun kenyataannya tidak.

Kendati demikian, ketiga negara Islam ini memiliki pola yang sama dalam proses demokrasi. Ada semacam pola inum yang terjadi di tiga negara ini, yakni kontestasi.

“Kontestasi di sini adalah misalnya partai bisa datang dan pergi dan juga berganti-ganti. Kontestasinya tidak berubah,” kata Muhammad Najib, mantan anggota Komisi I DPR RI, dalam paparannya di diskusi publik ‘Demokratisasi di Dunia Islam: Perbandingan Indonesia, Turki dan Mesir’ di Jakarta, Selasa (21/10).

“Ketiga negara ini juga memilih jalan berbeda. Turki yang sekuler, Mesir yang syariah, Indonesia di tengah-tengah. Faktanya, Turki lebih syariah daripada Mesir,” lanjutnya

Sementara di Mesir, kontestasi militer lebih unggul. Najib mengatakan, usai fase Arab Spring dan Hosni Mubarak digantikan oleh Mohamed Morsi, Mesir hanya mengalami demokrasi tidak lebih dari dua tahun.

“Masa demokrasi di Mesir itu tidak lebih dari dua tahun, lalu kembali jadi militer lagi,” ujarnya.

Menurut Najib, secara politik, Indonesia memiliki kemiripan dengan Turki di mana adanya persaingan antara nasionalis religius melawan sekuler yang bergabung dengan militer.

“Nyatanya yang menang adalah nasionalis regilius lewat pemilu. Lihat saja di Turki, contohnya pemilu 2002. Namun, ekonomi Turki lebih bagus dari pada Indonesia yang lebih dulu meraih reformasi dari pada Turki,” paparnya.

Najib menyimpulkan bahwa dalam demokrasi, Indonesia menduduki peringkat satu jika dibandingkan dengan Turki dan Mesir. Sementara, di bidang ekonomi, Turki menduduki peringkat satu dibanding Indonesia dan Mesir. Sementara Mesir, tetap pada posisi terakhir di bidang demokrasi dan ekonomi.

Penulis: Zulfahmi Siregar

Di kabardaerah.com

By Pilar