PILARBANGSANEWS.COM. ASUKUSA JEPANG,– Tepat pukul 13.00 waktu Tokyo, siang itu kami jalan kaki ke stasiun Shinjuku. Menuju Sanchome stasiunnya Asakusa. Perjalan dengan kereta listrik  harus melewati 8 stasiun  baru sampai ke stasiun Asakusa. 

Sesampai di stasiun Asakusa,  jasa peta harus dipergunakan sebagai panduan  perjalanan. Peta dengan tulisan kanji. Tidak tulisan Latin, ini menunjukkan betapa bangsa Jepang ini ingin menduniakan budaya mereka. Buktinya peta ditulis dalam bahasa kanji biar orang yang datang mencari tahu arti yang tertulis dalam tulisan kanji itu. Aduh.

Ya Jepang beda dengan kita, kalau kita   berusaha bagaimana orang dunia  banyak datang ke Nagara kita sebagai negara tujuan wisata. Kita tulis brosur-brosur dalam bahasa Inggris, mungkin kalau China minta agar bahasa mereka digunakan untuk tulisan dibrosur itu akan kita ikuti, dengan alasan memberikan pelayanan kepada tamu yang berkunjung. Bagi Jepang orang yang banyak berdatangan ke Nagara mereka, orang yang datang itu harus banyak mencari tahu tentang Jepang. 

Karena semuanya bertulisan kanji, mulai dari nama jalan, nama stasiun, nama toko dan nama kantor bertuliskan huruf kanji,  kita harus rajin bertanya kalau tidak mau tersesat. 
Walupun warga Jepang adalah negara berteknologi maju, keramahan warga  masih tetap ada sebagai bangsa timur. Artinya mereka masih bisa  kita ganggu sebagai tempat bertanya.

Setelah bertanya sana sini sambil berjalan kaki akhirnya kami  sampai juga ditempat tujuan. Jarak antara stasiun Asakusa ke tempat pusat perbelanjaan cukup jauh tapi kami jalan kaki kesana.  Saya langsung mampir di MCdonald,   membeli kentang dan coxx xxla sekedar untuk mengisi perut yang telah mulai kempes sejak diisi sarapan pagi tadinya. 

Ketang dan minuman itu ibarat BBM sehingga  mesin tetap jalan dan hidup untuk  keliling-keliling pusat perbelanjaan Asakusa nantinya.

Di pusat perbelanjaan ini ternyata rame sekali pengunjungnya dari berbagai negara orang datang kesana dan setiap belanja dibawah 5000 yen kena pajak. Pajak… Pajak melulu ah…Ya demikian Jepang membiayai pembangunan negarinya. Pajak itu dikelola secara baik tanpa ada yang berniat mengkorupsinya.

Saya disini hanya  belanja beli baju untuk keponakan sebagai oleh-oleh meskipun agak mahal sedikit di banding di kampung belanja di Kampung Jao Padang.

Jumlah kami  ke asakusa 9 org, sudah saya katakan jumlah rombongan kami yang ke Jepang seluruh 13 orang. 4 orang tidak ikut ke Asakusa mereka pergi ke daerah lain. Dari jumlah yang 14 itu “ambo” satu satunya wanita Minang, berasal dari Taluak Batang Kapeh Kabupaten Pesisir Selatan.  Jalan jalan bersama bapak bapak kita harus sabar menunggu mereka diluar Smooking Area. Waktu menunggu itu saya gunakan untuk istirahat sejenak, setelah itu melanjutkan keliling-keliling di seputar area perbelanjaan tersebut.

Merasa puas maaruaru  (maksusnya : memasuki hutan belantara melihat lihat pusat perbelanjaan Asukusa) ini dan   belanja sesuai bekal isi kantong yang ada, kami sempat bekunjung kuil yang letakkan masih diseputaran Pusat Perbelanjaan Asukusa . 


Kuil ini rame dikunjungi para wisatawan, disini banyak kita temui  perempuan-perempuan jepang memakai kimono.

Puas berada di Kuil kami pulang jalan kaki lagi menuju stasiun Asakusa. Di atas trem listrik  semua kami kecapean. Agar jangan kelewatan stasiun yang dituju kami pada gantian tidur diatas kereta. 

Sampai di stasiun Shinjuku, berhubung besok sudah mau pulang ke tanah air artinya kartu pasmo sudah tidak digunakan lagi, maka jumlah uang yang masih tersisa di kartu pasmo di tukar kembali ke bagian office nya di stasiun.ternyata masih tersisa 1756 yen..
Bersambung….

By Pilar