PILARBANGSANEWS.COM. PESSEL,-– Sudahlah mencari apa yang disuap susah, kini pasangan suami istri (pasutri) Dodo (43) dan Idas (37), warga Kampung Batu Panyawik, Kenagarian Lagan Hilir Punggasan, Kecamatan Linggo Saribaganti, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), penderitaannya semakin  jadi bertambah, lantaran rumah satu-satunya milik mereka rata dengan tanah setelah disapu badai, Selasa senja (26/12) lalu, sekitar pukul 18.00 WIB.

Pasutri ini memiliki tiga orang anak,  yang besar bernama Mutiara (17)  duduk dibangku kelas 2 SMA, Lupi (14) kelas 2 SMP, serta Elsa (12) kelas 6 SD, telah menempati  dirumah reot tersebut kurang lebih 10 tahun. Namun setelah  kejadian itu, ia bersama anak-anaknya terpaksa menumpang dirumah tetangga.

Kepada wartawan Haluan, Dodo (43), menyebutkan, peristiwa itu terjadi menjelang adzan Magrhib, beruntung tidak ada korban jiwa. Sebab, sebelumnya rumahnya roboh, ia bersama keluarga sudah berlarian keluar. 

Menurutnya, sebelum rumah tersebut ambruk, jauh hari  ia berkeinginan untuk memberi penyangga di sejumlah titik,  Namun, niat  itu belum kesampaian, karena  tidak memiliki biaya untuk membeli kayu.

“Saya beserta istri hanya buruh tani. Penghasilan kami hanya cukup untuk belanja sehari saja,” jelasnya. 

Ia mengatakan, hingga kini belum memiliki rencana untuk memperbaiki rumah tersebut. Sebab, pihak keluarga sama sekali tidak memiliki biaya untuk perbaikan ataupun untuk renovasi. 

“Saya belum tahu, kapan rumah ini akan diperbaiki. Kami belum punya uang. Kalau diperbaiki, tentu butuh biaya yang sangat besar. Untuk biaya beli bahan bangunan dan gaji tukang mau dibayar pakai apa,” ulasnya.

Kepala Kampung warga Bukit Panyawik, Zulkarnatra alias Icun (53), mengaku sudah melaporkan musibah tersebut kepihak nagari untuk segera dicarikan solusinya. 

“Musibah ini sudah diketahui pihak nagari dan kecamatan. Sebelumnya sudah dirapatkan untuk mencarikan solusi. Dan proposal juga sudah dikirimkan ketingkat kabupaten,” ujarnya

Ditempat yang sama, Wali Nagari Lagan Hilir Punggasan, Arpen mengatakan, selama 10 bulan menjabat sebagai definitif, pihaknya sudah melakukan pendataan rumah tidak layak huni (RTLH) di kenagarian tersebut. Menurutnya, sebanyak 50 KK di Nagari Lagan Hilir Punggasan, sekitar 40 persennya adalah warga tergolong kurang mampu.

“Namun karena keterbatadan anggaran di nagari, kami belum bisa berbuat banyak. Sebab, masih banyak keperluan lain yang harus kami benahi, seperti bangunan fisik dan pemberdayaan keluarga. Kalau keseluruhan digunakan anggaran nagari, tentu tidak akan mencukupi,” jelasnya. 

Saat ini, Dodo bersama anak dan istrinya, hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga segera mendapatkan bantuan dari pemerintah dan dermawan. Sudah 17 tahun, ia mengarungi bahtera rumah tangga, namun nasib belum berpihak kepadanya. Rumah yang dibangun diatas tanah ulayat kaum lebih kurang seluas 66,5 M2, hanya sekadar untuk persinggahan melepas penat dari terik matahari dan hujan. Sebab, hampir keseluruhan bangunan terbuat dari kayu, berlantai tanah, dan listrik masih menumpang kepada tetangga. Semoga…(Okis)

By Pilar