PILARBANGSANEWS. COM. BUKITTINGGI,– Dalam rangka mengenang gugurnya Pahlawan Ampera Ahmad Karim,  Angkatan 66 Provinsi Sumatera Barat  menggelar resepsi peringatan hari Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) ke – 52 Tahun 2018  tingkat Propinsi Sumatera Barat di Gedung Istana Bung Hatta, Senin (15/1).

Ahmad Karim yang merupakan seorang pelajar STM Negeri 1 dikala itu tewas dalam demonstrasi yang dimotori oleh Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dalam memperjuangkan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) yang mengusung Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura), Bubarkan PKI beserta ormas – ormasnya, Perombakan kembali kabinet Dwikora dan Menurunkan harga Sembako.

Masfar Rasyid selaku Ketua panitia pelaksana resepsi yang mengangkat tema “Dengan jiwa dan Semangat Tritura, kita tingkatkan Kewaspadaan agar tidak muncul paham komunis gaya baru demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera Adil dan Makmur” mengucapkan terima kasih kepada Gubernur dan Walikota Bukittinggi yang telah merespon positif kegiatan ini.

“kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Gubernur  Sumatera Barat dan Walikota Bukittinggi yang telah mendukung penuh dan memfasilitasi kegiatan yang dilaksanakan ini, kami berharap kawasan monumen 66 yang telah dibangun atas prakarsa Pemko dan DPRD pada tahun 2015 dapat dikembangkan menjadi taman yang lebih representatif  agar lebih   menarik dan menjadi sarana untuk mengenang jasa pejuang Angkatan 66”, ujarnya.

Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias dalam sambutannya menyampaikan bahwa, Kota Bukittinggi mempunyai peran penting dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia khususnya pada tahun 1966 yang akhirnya melahirkan Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat, meskipun gerakannya bersifat Nasional dan terpusat di Jakarta namun Kota Bukittinggi tidak bisa lepas dari perjalanan sejarah ini.

“Peran Bukittinggi dibuktikan dengan adanya Pahlawan Ampera di Kota Bukittinggi yakni Ahmad Karim siswa STM Negeri Bukittinggi yang tewas pada saat melakukan demonstrasi untuk menyampaikan tuntutan masyarakat saat itu, mudah – mudahan peristiwa sejarah tersebut dapat menjadi motivasi bagi generasi yang akan datang untuk meneruskan membangun bangsa dan negara yang kita cintai ini dan melalui kegiatan yang kita laksanakan ini tentunya akan semakin meneguhkan keberadaan Kota Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan”, ujarnya.

Ramlan juga menyampaikan bahwa yang kita antisipasi saat ini adalah jangan sampai berkembang paham – paham komunisme baru, seperti hasut menghasut, memecah belah dan sebagainya. Bagaimana kita menanamkan rasa persatuan, rasa gotong royong, bagaimana generasi muda mengenang perjuangan daripada pejuang – pejuang kita.

Kemudian ditambahkan Ramlan bahwa apabila  Angkatan 66 telah ada tugunya, kita juga mengharapkan nantinya juga ada tugu Syafrudin Prawiranegara di Bukittinggi sebagai salah satu bukti kota ini pernah menjadi Ibukota Negara pada zaman PDRI dan menambahkan kata – kata Proklamator disetiap penyebutan nama Bung Hatta serta menambahkan kata –  kata Negara pada Istan Bung Hatta, tambahnya.

Sementara itu Gubernur Sumbar yang diwakili oleh Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumbar Nazwir menyampaikan bahwa Tritura merupakan tanggungjawab pemuda terhadap bangsa dan negara, ini harus dipertahankan dan menjadi penyemangat bagi pemuda.

“Peringatan Tritura ini tidak hanya sebagai seremoni saja tetapi sebagai momen menyatukan kebersamaan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, pemuda harus menjadi pelopor dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan”, pungkasnya.

Terlihat hadir Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Forkopimda Provinsi Sumbar dan Kota Bukittinggi, Niniak Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai, Pimpinan Parpol dan Ormas, Dosen, Guru dan Mahasiswa dan para siswa SLTA selain itu juga terlihat hadir keluarga besar angkatan 66 Sumatera Barat terdiri dari KAPPI, KAMI dan KAGI baik dari Padang maupun Bukittinggi. (Ylm)

By Pilar