PILARBANGSANEWS. COM, SOLOK ,– Tak terima anaknya dicekik, baju seragam sekolah robek, seorang ibu di Solok, Provinsi Sumatera Barat, melaporkan guru anaknya itu ke polisi.

Kini kasus dugaan melakukan tindakan kekerasan kepada anak yang dilakukan oleh Guru SMP No 1 itu, sudah berada ditangan pihak berwajib dengan bukti surat pelaporan/pengaduan nomor laporan: STPL/17/B-1/I/2018/ Polres Solok Kota.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, peristiwa yang mencoreng dunia pendidikan itu justru dilakukan oleh seorang oknum guru bidang studi Agama.

Tidak diketahui secara pasti persoalan apa yang dialami pak Guru DS sebelumnya, sehingga dia cepat emosi ketika mihat anak didiknya salah tingkah.

“Tidak biasa pak DS ini begitu, beliau guru agama kami yang mengajarkan kami agar saling menasehati dengan kesabaran dan selalu rajin sholat. Namun hari itu pak DS berubah bahkan sempat mengajak anak didik yang dia sendiri walikelasnya untuk beradu jotos,” ujar seorang murid yang enggan disebutkan namanya.

“Pak DS walikelas kami, tugas walikelas, lebih mewakili tugas sebagai orang tua, apabila anak didiknya memperoleh merah atau tidak tuntas dalam studinya , walikelas lah yang memperjuangkan kepada guru bidang studi bagai mana agar anaknya dapat nilai bagus. Tapi hari itu pak DS tabaliak kalangnyo (emosinya memuncak),” kata siswa yang lain.

Peristiwa kekerasan itu terjadi Senin (22/1), bermula dari pak guru DS, memeriksa kelengkapan dan pakaian seluruh muridnya. Saat itu, AW memakai kaus kaki berwarna, yang tidak sesuai dengan peraturan SMPN 1 Solok, bahwa kaos kaki harus polos. Lalu DS memerintahkan AW untuk membukanya. AW kemudian melepas kaos kaki itu dan memberikan kepada DS. AW kemudian minta izin pergi ke toilet. Tidak berselang berapa lama, AW kembali ke kelas dan mempertanyakan mengapa hanya kaus kakinya yang diambil, yang lain kenapa tidak, banyak juga teman-temannya memakai kaos kaki berwarna namun dibiarkan oleh Pak DS.

“Kenapa cuma saya yang dihukum Pak.
Kan masih banyak murid lain yang mengenakan kaus kaki yang tidak sesuai dengan peraturan,” tanya AW kepada DS.

Entah mengapa, saat mendengar pertanyaan sang muridnya itu, DS langsung naik pitam. Sehingga, DS memaki AW dengan kata-kata kasar.

“Malawan waang ka Den. Imbau lah kapalo sekolah waang tu, ndak takuik bagai den do. Beko den bunuh ang lai. (Melawan kamu kepada saya, panggillah kepala sekolah, saya tidak takut. Nanti saya bunuh kamu lagi),” kata DS mengancam.

Mendengar ancaman itu, AW pun menjawab dengan tidak kalah sengit. AW mengatakan, tidak semudah itu untuk membunuh orang. Mendapat jawaban itu, DS semakin emosi dan menarik seragam AW. Kuatnya tarikan itu, membuat seragam sekolah AW robek. Tidak sampai di situ, DS kemudian mencekik dan menyandarkan AW ke dinding kelas, disaksikan teman-teman sekelasnya. AW kemudian meronta dan berusaha melepaskan cekikan. Setelah terlepas, DS yang tidak puas kemudian mengajak anak muridnya itu untuk berduel di luar kelas. AW pun melayani tantangan itu. Akhirnya keduanya berjalan ke luar kelas. Namun duel antara guru dan murid itu urung terjadi, karena DS membawa AW ke ruang kepala sekolah.

Berselang beberapa jam, proses belajar mengajar pun selesai dilaksanakan. Para murid pun segera pulang ke rumahnya masing-masing termasuk AW dengan bajunya yang robek. Sesampainya di rumah, karena melihat baju anaknya robek, orang tua AW pun mempertanyakan penyebabnya. Awalnya, AW tidak mau mengakui apa yang telah terjadi. Namun karena dipaksa, AW pun menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada orang tuanya tersebut.

Mendengar laporan sang anak, orang tua AW pun tidak menerima perlakuan sang guru tersebut. Sehingga mendatangi sekolah untuk mencari oknum guru DS. Melihat kedatangan orang tua AW tersebut, salah seorang seorang guru menelpon pihak kepolisan. Tidak lama berselang, personel dari Polres Solok Kota pun tiba di lokasi. Akhirnya, permasalahan itu dibaawa ke Mapolres Solok Kota yang jaraknya hanya beberapa meter dari SMPN 1 Solok. Orang tua AW pun membuat laporan terkait kasus itu.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Solok Dodi Osmon menyatakan dirinya telah menghubungi kepala sekolah SMPN 1 Kota Solok. Dodi Osmon menyatakan bahwa kepala sekolah menyatakan kasus itu sedang diproses Polres Solok Kota.

“Kata kepala sekolah, kasus itu sedang diproses oleh polisi, untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya. Kita berharap kasus ini bisa cepat selesai dan ada solusi terbaik untuk kedua belah pihak,” ujarnya.

Terkait permasalahan ini, salah satu tokoh adat di Kota Solok, Eri Dt Rajo Kuaso mengharapkan masalah ini bisa diredam dan menjadi introspeksi. Baik oleh guru, murid, maupun wali murid. Menurutnya, persoalan ini merupakan imbas dari telah bergesernya nilai moral dan etika pendidikan saat ini. Eri mengharapkan semua pihak harus bijak dan tidak mengedepankan emosi.

“Ini adalah puncak gunung es dari permasalahan yang lebih besar di dunia pendidikan kita saat ini. Kita tidak bisa hanya saling menyalahkan. Ini imbas dari terjadinya pergeseran moral dan etika, yang dipengaruhi budaya luar di masyarakat kita. Yakni tentang guru yang harus menyayangi muridnya disatu pihak dan dipijak lain bagaimana seorang murid harus menghormati dan menyayangi gurunya. Mudah-mudahan permasalahan ini segera selesai, seluruh pihak bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa ini,” ungkapnya.(rzl)

By Pilar