PILARBANGSANEWS.COM. BATANG KAPEH,– Keberanian Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa membunyikan Pluit dan keluarkan kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo, berbagai tanggapan muncul, tidak hanya dari politisi, dan pimpinan lembaga tinggi negara tetapi juga menuai Komentar dari para nitizen.

Salah seorang netter Azzam M Izullah, dalam komentarnya pada akun Twitter, Zaadit Taqwa menyatakan ingin menemui ketua BEM UI ini bersilaturahmi dan mengundang Zaadit untuk melaksanakan ibadah umrah.

“Saya akan menyampaikan undangan beribadah Umroh kepadanya sebagai apresiasi @AMIFoundation_ kepada mahasiswa pejuang, calon pemimpin bangsa dan negara Indonesia, tulis Azzam.

Kemudian Faldo Maldini, menyatakan salut atas keberaniannya. Mahasiswa memang harus begitu, kritis dan berani!

“Setidaknya ini menjadi sebuah pengingatan kembali kepada kita bahwa mahasiswa adalah kelompok kritis yang selalu memberikan peringatan kepada Pemerintah,” tulis Faldo.

Komentar Faldo mendapat tanggapan dari seorang netter bernama Pemburu Cebong.

Katanya; Adab nabi dlm tatanegara islam. ini negara demokrasi. paham???

Komentar Faldo ditanggapi oleh Chad Baskara
Hadist nya jelas loh, Shahih lagi. Lebih baik kl itu Ketua BEM tunggu sesi diskusi dgn Jokowi langsung face 2 face bru sampaikan kritik/nasehat nya, dripd acungin kertas kuning ky gitu kan keliatan udh dititipin uang jajan dari partai bokep rapat DPR+suap impor daging.

EVALUASI BAGI JOKOWI

Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) yang diketahui bernama Zaadit Taqwa menuturkan, aksi yang dilakukannya merupakan bentuk evaluasi bagi Jokowi dan Kabinet Kerja yang dipimpinnya.

“Jadi ngasih peringatan buat Jokowi untuk menyelesaikan permasalahan bangsa,” ujar Zaadit, seperti diberitakan. Tempo.co,

Zaadit menuturkan, sebelum kedatangan Jokowi ke universitasnya, dia dan sejumlah mahasiswa UI lain telah menyiapkan tiga tuntutan yang dalam aksi di Stasiun Kereta API UI. Pertama, BEM UI meminta Jokowi segera menyelesaikan gizi buruk di Papua. Kedua, Jokowi harus bisa menetapkan Penjabat Gubernur agar tidak seperti Orde Baru di mana ada dwifungsi Polri, di mana anggota polisi aktif justru memegang jabatan selain di lembaganya.

Terakhir, terkait mengenai aturan bahwa mahasiswa bisa bergerak dan berorganisasi serta berkreasi secara aktif, tidak dikukung oleh peraturan yang membatasi ruang gerak mahasiswa. Dengan aksi ‘kartu kuning’ yang dilakukannya, Zaadit menyebut bahwa hal ini dijalankan untuk mempercepat tanggapan dari Jokowi, karena tiga hal yang dituntutnya sudah memakan banyak korban, khususnya tentang perbaikan gizi.

“Ini bentuk simpati ke teman-teman kita di Papua, bahwa Papua perlu diperhatikan. Papua juga bagian dari masyarakat Indonesia,” ujarnya.

JOKOWI MENILAI WAJAR

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapat ‘kartu kuning’ dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), saat menghadiri Dies Natalis ke-68 UI, tidak berang. Malahan Presiden Jokowi menilai wajar, dan hal ini adalah sikap wajar dari mahasiswa, karena mereka masih memiliki jiwa muda dan aktif sebagai aktivis kampus.(*)

By Pilar