PILARBANGSANEWS.COM. PAINAN,- Disaat rekan-rekan wartawan datang menjadi utusan dari berbagai ibukota provinsi di Tanah Air membanjiri kota Padang, menghadiri alek gadang puncak peringatan HPN ke 70, Jum’at besok (9/2), beberapa orang wartawan di Pessel merasa dilecehkan oleh seorang Facebooker yang berkomentar diakun Facebooknya.

Akibat merasa dilecehkan Ketua IWO Pesisir Selatan, Fahmi Yuhendra, akhirnya melaporkan pemilik akun Facebook tersebut kepada pihak berwajib di Polres Pesisir Selatan.

Saat mendatangi Polres Pesisir Selatan, Fahmi, didampingi rekannya Okis Mardinsyah koresponden Harian Haluan Padang dan Kiki Yulnasri, koresponden KlikPositif.com. Di Mapolres Pesisir Selatan mereka diterima oleh Kanit SPKT Polres Pessel, Iptu Asma Derita. Berdasarkan laporan Fahmi, pihak berwajib menerbitkan surat pengaduan polisi dengan nomor : LP/75/B/II/2018/SPKT-II tertanggal 8 Februari 2018.

Kasus “merasa dilecehkan” ini berawal dari postingan pemilik akun Facebook Jhony Abdul Kasir menggunggah status “Perumpamaan Papua menjalar, julukan raja ampatnya sumatera menjalar sampai kepada gizi buruk” Rabu (7/2) sekitar pukul 00.07 WIB.

Atas postingan itu Facebooker AK menulis; “Ikut komen bang Jhony Abdul Kasir….. Pewarta Pessel ambo masih ragu dengan profesionalitas karjanya …begitu lah kira2 Erital Rajo Lelo” sebut Ari Khatulistiwa, dalam tulisan dialogi Minang pada kolom komentarnya saat itu.

Kemudian komentar tersebut, ditanggapi serius oleh Akun Facebook milik Fahmi Yuhendra, yang merasa tersinggung dengan cuitan AK di jejaring media sosial (medsos) yang disaksikan oleh jutaan warga net.

“Bisa dijelakan propesionalitas pewarta ini???
Supaya ndak gagal paham pula ambo nan kurang paham ini!!!” tanya Fahmi Yuhendra, masih menggunakan bahasa daerah, pada kolom komentarnya.

Tak berselang lama, akun Facebook milik Ari Khatulistiwa kembali membalas pada kolom komentarnya dengan cuitan, “Jangan keseringan nyusu nanti mata jadi terkantuk terus,,,kalo sudah wartawan kurang paham dengan profesionalitas dan juga salah dalam manulisnya…seorang wartawan masih mintak di jelasin…batambah ragu urang jadinyo beko uda” balas RK.

Komentar demi komentar terus berlanjut, hingga akhirnya beberapa warga net yang merasa profesi Wartawan ikut tersinggung. Akun Facebook milik Kiki Julnasri, pada kolom komentarnya juga ikut membalas komentar pedas akun Facebook milik Ari Khatulistiwa.

“Ari Khatulistiwa kalau kritis bulieh kritis, jan melontarkan bahasa yang menyinggung profesi urang. Diprofesi terletak marwa urang.

Kemungkinan keinginan Ari Khatulistiwa, minta berita yang buruk2 untuk Pessel. Tapi, engga boleh berpandangan si buruak itu banget untuk pemerintahan di Pessel. Berita engga bisa mengada-mengada.

Mungkin Ari Khatulistiwa masih mamakai ilmu tampuruang baru. Kurang mambaco jo mangupdate informasi yang dibuek wartawan di Pessel ko,” sebut kiki Julnasri, Wartawan Klikpositif.com pada kolom komentarnya.

“Jadi, atas komentar yang dimuat Ari Khatulistiwa pada Facebooknya, kami melaporkan ke SPKT Polres Pessel. Kami sebagai wartawan yang bertugas di Painan merasa dilecehkan dan dihina. Atas kejadian ini, kami minta pelaku diproses sesuai UU nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan UU nomor 11 ITE tahun 2008. Laporan ini, sebagai bentuk keseriusan kami bahwa profesi kami jelas dilindungi oleh negara,” tegas Fahmi Yuhendra, kepada Okis.

Menurut Fahmi, pelaporan tersebut juga diharapkan memberikan efek jera bagi pengguna media sosial (medsos) lainnya, untuk berhati-hati dalam berkomentar.

“Semoga kedepan kejadian ini tak terulang lagi. Kita harapkan kepada pemilik akun Facebook Ari Khatulistiwa lebih cerdas lagi sebagai pengguna medsos. Jangan sampai kata-kata yang dilontarkan menyinggung perasaan orang lain, apalagi ini sudah menyangkut profesi. Sebab, ini yang membaca jutaan umat manusia,” sebutnya lagi.

Sementara itu seorang mantan Jaksa Asmal Melayu SH, MH ketika dimintakan tanggapan terkait kronologis diatas, Asmal menilai itu koreksi bukan pelecehan.

“Ini kan semacam koreksi bukan penghinaan. Hak jawab ada. Gunakan itu berbalas pantun. Masak segitunya merasa dilecehkan.
Jurnalis bisa kiamat. Jurnalis menyampaikan pendapat dan koreksi. Bukan dikit dipolisikan. Mau apa jadinya Negara ini,” tambah Asmal

Apakah bisa dikenakan pasal pelecehan terhadap profesi?

“Kayaknya belum,” kata Asmal singkat lewat pesan WhatsAppnya.(YY/Okis)

By Pilar