DIK…… janganlah bingung melihat lika-liku dunia politik. Jangan pula kamu menjauh dengan dunia ini. Jangaan, dik. Jangaaaaaan.

[Cerita ini dikutip dari hasil diskusi saya dengan si upik di salah satu kawasan Umo. Kali ini temanya adalah tentang Politik; antara suka atau tidak suka].

Dik…dengar abang berkata.
Kalau kamu tak tahu dunia politik, kamu akan mudah dikelabui. Jadi, walaupun tak berminat, setidaknya cukup tahu saja. Ibarat kata, kalau kamu takut untuk berenang, tak usah ke tengah, ditepi-tepi sahaja, menjuntai-juntaikan kaki (kurang lebih contohnya seperti di foto saya sedang menjuntai kaki…) , cukuplah abang kira.

Giliran si upik berkata:
“Politik itu pelik nian, bang. Pusing be melihatnya”, katamu sambil merajuk (keluarlah ciri khas logat bahasa yg unik, lembut dari si upik kala itu)

Tak perlu pusing-lah. Sederhanakan saja. Politik itu kompromi. Kompromi itu tak butuh pertimbangan-pertimbangan historis ideologis. Kalaupun itu ada, sudah menjadi barang langka. Kompromi dalam dunia politik lebih mengedepankan pertimbangan pragmatis. Untung-rugi. Lupakah kamu, bagaimana diksi paling umum dalam dunia politik, “who get what how and when”, sebagaimana yang dikatakan oleh Harold Lasswel (seorang teoritisi ilmu politik terkenal). Karena itu, mari abang ingatkan …… “jangan terlampau fanatik dan jangan terlampau benci”. SEIMBANG saja. “Sedang-sedang saja”, kata penyanyi dangdut. abg lupa namanya…

Hidup ini tidak jalan ditempat, dik. Demikian juga dengan harapan. Ketika kita berharap terlampau tinggi dengan dibungkus dengan rasa fanatik yang luar biasa, suatu saat, mereka yang kita harapkan itu justru mengecewakan kita. Demikian juga sebaliknya, orang yang tak kita sukai jangan dibungkus dengan aroma benci, karena mana tahu, suatu ketika mereka justru membuat kita jatuh hati.

Terkadang kita malu-malu, dalam hati mengakui kelebihan orang, tapi karena doktrin kebencian masih bersemayam dalam hati, kita jadi tak sportif. Secara diam-diam mengakui kehebatan orang lain, tapi merasa malu mengakuinya. Mekanisme demokrasi memberikan jalan keluar, bila tak suka dengan seorang politisi atau partai politik, masa berikutnya jangan pilih. Jangan kamu mamah berita-berita tak “bakaruncingan”, kemudian kamu biakkan tanpa pertimbangan. Jangaaaaan, dik. Jangaaaan. Membenar lah Abang dik.

“Lalu bagaimana eloknya, bang ?”.

Jangan mudah mengatakan, “saya memilih ini karena ia berasal dari partai A, sementara partai B tidak akan pernah bisa berbaur dengan partai A. partai A adalah partai alim, partai B, orang jarang ke surau. eh …. ternyata, di tempat lain, partai A saling bertaut kelingking sambil tersenyum dengan partai B”.

Karena itu, jangan salahkan politisi tersebut.

Terkadang abang juga berfikir, kita hanya pandai mengumpat mereka. Padahal mereka telah berani memilih ranah yang “keras” bernama ranah politik. Mereka bertungkuslumus dalam ranah itu, berdarah bercucuran air mata. Tapi begitulah dik. Penonton jauh lebih pintar dibandingkan pemain, sehingga kita sering mengutip pernyataan Presiden Rusia era-Soekarno, Nikita Kruschev yang pernah berkata, “hanya politisi yang bisa berjanji akan membangun jembatan diatas jalan yang tidak ada sungainya”. (catatan : waktu Kruschev mengatakan ini, belum dikenal adanya jalan tol seperti sekarang).
Terlepas dari semua itu, politisi juga manusia, sama dengan kita. Maka pilihlah yang menurutmu mendekati baik. Menurutmu, setelah kau pelajari. Bukan menurut orang lain.

Kelak, dalam pemilihan umum 2019 nanti, jadilah pemilih cerdas, pelajari mereka. Bukankah dunia ini luas untuk belajar. Pilihlah orangnya. Jangan terlampau fokus pada partainya. Partai hanya “biduk”. Tak ingatkah kamu bagaimana buruh nelayan di kampung abang yg dulu pernah di ceritakan, bisa saja berpindah “biduk” dalam rentang waktu dua purnama ?. Alasan mereka cuma satu, “biduk yang lama tak berezeki, kita coba peruntungan di biduk yang satu lagi. Lalu, beberapa purnama kemudian, mereka kembali lagi ke biduk semula”.

Itulah yang mereka lakukan berulang-ulang. Bahkan sudah menjadi kaidah umum. Bila ada nelayan yang tetap di biduk sama sejak ia belum “bersunat” hingga rambut beruban, nelayan itu pasti dianggap langka. Pindah-pindah “biduk” dalam dunia pernelayanan di kampung abang adalah sebuah refleksi SENI yang berbasiskan untung rugi.

Paham …. kan ?

“Saya menurut saja!”, jawabmu singkat.

Amboooooy …. seperti jawaban HAYATI dalam film “Tenggelamnya Kapal van der Wijk” saja.

Oleh ; Andra Usmanedi M.Pd

By Pilar