.

Bagi yang belum baca Bag 1 s.d Bag 50 klik disini;

“GIRIANG GIRIANG PERAK” (Oleh ; Makmur Hendrik) Bag 50…

Sambungan dari Bag 50…

Perempuan itu bertubuh padat berwajah lumayan. Dia turun dan berjalan ke sebuah semur. Dari rumah di sebelahnya kelihatan pula perempuan lain turun. Keduanya menuju ke sumur.
Ya Tuhan, ada perempuan perempuan cantik bertubuh molek di sini. Isteri penyamun itukah? Belanda itu berbisik pada Cudai yang tiarap di sisinya.

Tidak. Perempuan perempuan itu termasuk barang rampasan mereka. Selagi perempuan perempuan itu melayani mereka dengan memuaskan, maka mereka akan tetap dipelihara dengan baik.

“Tapi begitu mereka tua, dan tidak menggairahkan lagi, dua kemungkinan bisa terjadi pada mereka. Pertama mereka dilepas ke kampung terdekat. Atau mereka dibunuh….”

“Ya Tuhan. Ini bukan perbuatan manusia. Ini perbuatan makhluk biadab di zaman kanibal. Kenapa perempuan perempuan itu tidak melarikan diri?”

“Kemana mereka akan lari. Seluruh bukit ini dijaga ketat….”

“Tapi buktinya kita bisa lewat dengan selamat ke atas ini. Tak ada penjagaan yang ketat….” jawab Belanda itu.

“Barangkali perempuan perempuan itu memang merasa enak hidup di sini….” jawab Cudai.

Belanda itu lalu memberi kode lagi. Dan kedua mereka lalu merangkak perlahan mendekati sumur kemana kedua perempuan tadi pergi. Makin dekat ke sumur yang hanya berdindingkan anyaman bambu itu, terdengar kedua perempuan itu berbicara diselingi tawa perlahan.
Kedua mereka merangkak makin dekat. Mereka mendekati sumur itu dari arah belakang. Bahagian darimana mereka datang itu ditumbuhi oleh semak semak perdu setinggi tegak. Dengan merangkak perlahan, kehadiran mereka tidak ada yang mengetahui.
Kedua perempuan itu memang tidak mengetahui bahwa ada orang yang mengintai. Cudai dan Belanda itu tiba tiba terhenti merangkak. Tubuh mereka rapat ke tanah. Dan tubuh mereka yang merapat ke tanah itu menggigil.

Kedua perempuan itu mandi keramas. Tak berkain secabik pun. Kedua perempuan itu mandi saling bergantian menggusuk punggung. Mata Cudai sampai hijau dan berair melihat pemandangan yang menyebabkan air ludahnya meleleh tanpa dapat dia tahan.

Belanda di sisinya merasa demam seketika. Dan Cudai mulai memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Perumahan itu lengang. Tak seorang pun kelihatan. Rumah pengintai yang dijaga itu agak ke Selatan. Sumur itu tak kelihatan dari sana. Mungkin mereka anggap aman.

“Kita sergaap….” Cudai berbisik di antara gigilan tubuhnya.

Belanda temannya menelan ludah empat kali. Matanya masih nanap memandang ke sumur yang jaraknya hanya tiga depa di depan mereka. Untung saja semak rimbun menghalangi perempuan perempuan itu untuk melihat mereka. Sementara mereka dengan bebas dapat melihat melalui celah pohon pohon semak tersebut.

“Kita sergaap….?” Cudai berbisik lagi.

Tapi salah seorang perempuan yang mandi itu ternyata selesai. Dia melilitkan kain ke tubuhnya. Kemudian yang seorang lagi juga selesai. Lalu melilitkan pula kainnya.

“Mereka selesai….” keluh Cudai.

Perempuan yang satu duluan pergi, sementara yang satu lagi, yang berkulit kuning langsat, berpinggul dan berdada besar, masih membilas kainnya. Dia bernyanyi nyanyi kecil.
Ketika perempuan yang pertama sudah masuk ke rumahnya yang terletak dua puluh depa dari sumur itu, si perempuan yang di sumur tadi tiba tiba merasa ada orang yang muncul di belakangnya. Dia berbalik dengan terkejut dan akan berteriak.

Tapi pekiknya tertahan oleh sebuah tangan berdegap yang dengan terlatih sekali menutup mulutnya. Perempuan itu meronta dan coba menggigit jari tangan orang yang menyekapnya. Dia berhasil menggigit jari tengah lelaki itu. Jari yang dia gigit itu berdarah.
Tapi lelaki itu, yang tak lain dari Cudai, tak mengacuhkannya. Tubuh perempuan itu dia pangku dan dia seret ke dalam belukar di balik sumur itu. Perempuan itu meronta terus. Akibatnya, kainnya yang semula hanya dililitkan secara darurat kini tanggal dan terjatuh.

“Cepat, ikuti aku….” desis Cudai pada Belanda yang masih tiarap dengan bengong.

Begitu Cudai menyuruhnya untuk ikut, dia melompat mengikuti Cudai yang sudah bergegas masuk makin dalam ke belantara. Dan di bahwa sebatang pohon yang amat besar, yang bahagian bawahnya tampak bersih dilapisi daun-daun kerang, perempuan itu dibaringkan Cudai.

Rudolf lalu memberi isyarat dengan siulan. Dalam waktu tak lama keempat orang lainnya sudah berkumpul di sana. Mereka pada terheran-heran, sekaligus mandagut liur melihat perempuan bertubuh montok yang tergolek di bawah pohon, yang tak bisa bergerak karena kena totok itu.

Beberapa saat kemudian Rudolf kembali teringat apa tugas mereka mendekati Bukit Tambuntulang. Dia teringat keganasan komandannya, Kapten Verde, bila menghukum anggotanya yang lalai dalam tugas.

Dia lalu kembali membagi tugas dan kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Kalau yang satu menghadapi bahaya, dia harus memberi isyarat dengan menirukan bunyi gagak, kata Rudolf memberi petunjuk.

Tapi tatkala mereka akan bergerak meninggalkan pohon besar tempat mereka bersenang-senang tadi, tiba tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa bergumam.

Mereka seperti dipakukan di tempat mereka saking kagetnya. Rudolf dan Kopral Belanda yang satu lagi segera mencabut pistol. Keempat spion Melayu lainnya menghunus keris dan kelewang. Mereka siap menghadapi segala kemungkinan.

Begitu di tangan mereka tergenggam senjata, kembali terdengar suara tawa bergumam. Suara tawa itu benar benar menegakkan bulu roma di dalam hutan yang menyeramkan itu.

Bagi orang orang yang pernah lewat di sana, dan lolos, pasti segera mengenal bahwa yang tertawa itu adalah Gampo Bumi. Kepala penyamun yang bertahta di Bukit Tambuntulang itu.

Seperti dikomandokan, keenam lelaki yang menyelusup menyiasati kekuatan lanun di bukit itu pada berlompatan ke balik balik batu besar di dasar sungai kering itu. Mereka mencari perlindungan. Tapi suara tawa itu makin keras. Seolah olah mencemeehkan mereka.

“Kalian berhasil menyembunyikan wajah kalian. Tapi punggung kalian tetap saja menghadap pada kami….” suara orang yang tertawa itu bergema.

Dengan terkejut, keenam lelaki itu berbalik di tempat persembunyian mereka. Dan kembali suara tawa itu bergema. Rudolf menembakkan pistolnya ke arah suara tawa itu. Tapi suara tawa itu seperti datang dari mana mana. Seperti mengurung mereka.

“Inlander monyet, jangan hanya tertawa di balik rimba, keluar kowe….!” hardik Rudolf membagak bagakkan diri. Padahal bulu tengkuknya telah merinding.

Sebab siapa pun di Minangkabau saat ini akan

Bersambung ke Bag 52…

Catatan Redaksi: foto ilustrasi Ketua TP-PKK Pesisir Selatan Sumbar, sedang mempromosikan kampung Ramadhan didaerahnya, tidak ada kaitan dengan cerbung ini.

By Pilar