PILARBANGSANEWS. COM. BATANG KAPEH, PAINAN, SUMBAR,- “Terkait isu daftar media laba-laba (baca terbalik yaa), diamkan saja, soal kecil itu. Berkarya saja, dan terus tingkatkan kualitas karyanya. Media hanya alat, karya jurnalistik adalah isinya,” begitu kata Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd M.Sc MA, ketika diminta Pilarbangsanews.com memberikan tanggapan terkait viralnya daftar media abal abal dikalangan Grup Wartawan.

Berita terkait daftar media abal abal ini pertama kali dilansir oleh situs media Online m.riau1.com yang menyebutkan sebanyak 319 media diduga abal-abal, kontan membuat beberapa perusahaan Pers terdampak merasa diresahkan dan dirugikan.

Pasalnya, dalam berita media riau1 tersebut menyebutkan bahwa nama-nama media yang diduga abal-abal itu telah viral di media sosial berjenis WhatsApp. Namun, beberapa perusahaan pers merasa dirugikan atas berita itu lantaran media terkait tidak melakukan pengecekan keabsahannya informasi itu dan malah justru ikut menulis dan memviralkan berita bohong tersebut.

Ketua PPWI Wilson ini lebih lanjut mengomentari dalam bahasa Minang, ” Periuk abal-abal dipakai masak rendang Padang, onde mak oeyy lamaknyo Uda… Tapi walaupun periuk rancak, harago puluhan juta balinyo, dipakai masak daging busuak, onde mak mati awak karacunan beko mamakannyo…

Jika dialihbahasakan artinya, meskipun dicap sebagai media abal abal dan jika diibarat media abal abal itu sebuah Periuk, jika dimasak rendang Padang , woy… Nikmat banget rasanya.

Nah walupun Periuk nya bagus dan dibeli dengan harga jutaan rupiah, bila didalam dimasak daging busuk, bahaya lho.., bisa mati kita akibat keracunan.

Kalimat diatas bisa juga dimaknai, walupun media bagus dimodali oleh bos berkantong tebal, tapi isi beritanya jelek, akan mabawa dampak besar terhadap hidup bernegara.

Jadi, kata Wilson, biarkan sajalah apa kata orang tentang media kita, yang penting isinya harus berkualitas. Masyarakat yang akan menilai media kita, bukan institusi tertentu, bukan dewan pers, bahkan bukan menteri dan presiden sekalipun.

Namun demikian, alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 ini, tak pula membatasi jika ada teman teman yang tidak bisa terima persolan ini, silahkan saja usut sampai tuntas dan selesaikan dengan jalur hukum. “Namun memberikan maaf kepada orang yang menzalami kita jauh lebih nikmat dibanding “rendang Padang” (YY)

By Pilar