Oleh : Roval Alanov

Menyimak dua penyair yang berbeda statusnya
Satu seorang ibu yang aktif di keguruannya dan satunya aktif dipekerjaannya sabagai aktifis lingkungan dan kesehatan

Tapi ada kesan manarik diantara keduanya dalam puisi mereka yang menurut saya unik dan terkesan majasnya bagus metafornya juga sangat brilian Indah Patmawati dengan edisi gombalnya

Sering aku sebut gombal gambil

Mari kita lihat karyanya sebelum ke karya Defri

1)

Dira: 15
Diary Ramadan
———————–

AKU BURUNG GEREJA

Aku burung gereja, yang tak sempat mengajakmu jalan-jalan pagi. pada matahari bibit-bibit nyeri rimbun sepanjang hari. mengajariku tentang jarak dan waktu yang menepi pada dadamu dan membisikkan kata, lelah di telinga.

Aku burung gereja, yang tak sempat menyanyikan ode pagi hari, sejak embun enggan menguap dan memilih memeluk ujung daun. Aku lesap dalam kisah baru yang mengajari ketabahan dan kesabaran.

Aku burung gereja, yang tak sempat mengantarkan sepotong cerita. Tentang kematian puisi dari jari-jari penyair yang patah hati. Di dahan-dahan tak disampaikan salam, kecuali keluh kesah dan ratapan. Aku bungkam dengan seribu tanya. Benarkah ini jalan ku?

Aku burung gereja, yang lupa jalan bahagia. Sejak pohon-pohon mulai tua dan daun mengering berjatuhan. Aku diam menunggu musim, dan bertanya sebentar lagi musim semikah?

#edisinggombal

Tanah Kekasih, 1.6.18

Dalam makna gombalisasinya tersembunyi kepiawaiannya menulis karya sastra yang exellen dan bagus juga multi tafsir. Mungkin kalau membaca sepintas lalu seakan dia hanya penulis pemula dan memang itu yang orangnya inginkan sesuai latarbelakangnya sebagai pendidik yang berjiwa ikhlas. Sudah lama saya menjadi murid sastranya hanya saja beliau menutup dirinya dan berkata ” biarlah mas kita sebagai manusia yang saling belajar saja ” bahasa sederhananya itu membuat saya juga harus banyak meniru. Dia mampu melepas keegoannya sebagai pengajar juga lulusan S 2 sastra

Mari kita lihat puisi di bait :

” Aku burung gereja, yang tak sempat mengantarkan sepotong cerita. Tentang kematian puisi dari jari-jari penyair yang patah hati. Di dahan-dahan tak disampaikan salam, kecuali keluh kesah dan ratapan. Aku bungkam dengan seribu tanya. Benarkah ini jalan ku? ”

Burung gereja ia wakilkan tentang seseorang bisa juga manusia yang pandai ngoceh atau apasaja namanya terserahlah yang tak sempat mengantar cerita. Tentang kematian puisi dari jarijari penyair yang patah hati. Di sini kesan pukulan telak pada penyair lebay atau cengeng dan sok romantis pada dasarnya penyair Indah Patmawati menghantam dengan kata menikam hatinya ( tanda kutip semua yang banyak demikian ) jadi sayogyanya menurutnya dalam diksi itu janganlah jadi penyair lebay dan memainkan kata hanya demi sesuatu ( dalam tanda kutip )

Mari kita lihat lagi bait terakhirnya :

” Aku burung gereja, yang lupa jalan bahagia. Sejak pohon-pohon mulai tua dan daun mengering berjatuhan. Aku diam menunggu musim, dan bertanya sebentar lagi musim semikah? ”

Aku burung gereja dia analogiskan bisa orang yang dia maksudkan bukan kisah dirinya. Sejak pohonpohon mulai tua dan daun mengering berjatuhan. Ini makain jelas maknanya jamak bukan sebatang pohon… kesan pesan moralnya sangat luas hingga dia tutup dengan kata bagus menyamarkan kemarahan jiwanya dengan kata “aku” diam menunggu musim dan bertanya sebentar lagi musim semikah?

Sangat rendah hati penulis ini hingga diakhir cerita seakan dirinya jadi burung gereja itu sebagai objek penderita

Sekarang mari kita lihat karya Defriandi Pitopang di bawah ini :

2)
TELUR AYAM JANTAN
.
Karya : Arkan Dp
.
Seribu ayam jantan telah bertelur
Ia berkotek-kotek tiap kandang
Pagi, siang dan malam
Membuat resah sang betina
Dan bulan pun keluar siang
Matahari terbit malam
Sepanjang musim waktu bergulir
Tak lagi senyaman di rumah
Dukaku mengendarai simfoni cuaca
Akankah kota-kota yang indah akan kembali
Atau telah ditumbuhi bulu-bulu liar
Disetiap jejak langkah
.
Gurun, 30052018

Dari judul atau tajuk sangat berkesan nyeleneh dan memukul pembacanya. Ada maksud menjelaskan kepada penikmat bahawa ada makluk aneh yang dia perlambangkan dengan ayam jago atau jantan ” bertelur ” ini sesuatu yang mustahil tapi dia pasakan demikian. Dari bait kebaitnya sejak awal kata sampai penutup kata terkesan bersinggungan norma dari kesan normatif menjadi terbalik. Antara siang dianggap malam dan petang dianggap pagi. Wanita bagai lelaki dia anggap lesbi. Lelaki separuh wanita dia anggap ayam jantan bertelor dua menyamar jadi wanita di waktu malam menjadi separuh lelaki diwaktu siang. Sangat rancak kesan anekdotkatanya hingga sukar menelaah katakatanya yang songsang dari kebiasaan umum. Tapi itu dia seorang Defriandi Pitopang yang selalu hadir dengan keunikannya sendiri

” Hingga telur ayam jantan ” jadi plesetan dari bencong alias gay alias lelaki jadijadian

Salam literasi
East Java, 016618

By Pilar