Oleh : Anton Permana
…………………………………..

Sudah lama kita tak mendengar kata kata dan istilah Pancasila hadir dalam kehidupan kita, Khususnya bagi generasi X ke atas

Pancasila tiba tiba seolah hilang dari bumi Indonesia pasca meletusnya era reformasi. Ephoria reformasi membawa stigmanisasi seolah Pancasila adalah bahagian yg tidak terpisahkan dari wajah Orde Baru

Hal ini wajar terjadi, karena begitu konservatif dan masive di zaman Orde Baru penanaman Pancasila ini kepada masyarakat melalui P4 nya (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila)

Sampai pemerintahpun membentuk sebuah badan khusus bernama BP 7. Yang menjadi supervisi negara sekaligus regulator. Dan ketika Orde baru runtuh, reformasi seakan mengaitkan dengan Pancasila

PANCASILA SEKARANG

Namun seiring berjalannya waktu. Tiba tiba kita terhenyak, para elit bangsa ini mulai merasakan telah terjadi sebuah kekosongan dalam kehidupan bernegara

Ephoria reformasi berlebihan secara tak sengaja justru mencerabut akar luhur bangsa ini jauh melompat melampaui tata nilai dan norma kultural asli bangsa ini

Tiba tiba kita kok sering merasa asing dengan sesama kita, tiba tiba kita kok berubah jadi pemarah, mudah sinis, terhadap siapa saja yg di anggap berbeda

Tiba tiba kita kok mulai semena mena mencampuri urusan ibadah agama orang lain

Tiba tiba tokoh dan pemimpin bangsa ini tak ada satupin lagi yang baik, semua seolah buruk, jahat, rakus, dan tolol

Tiba tiba kita satu rumah pun serasa jauh dan bersitegang hanya karena pervedaan pandangan politik ?

Demikianlah potrait bangsa kita hari ini. Telah terjadi Dis-harmonisasi yang sangat tajam di tengah masyarakat kita

Ada yang pro penguasa, akan menganggap kelompok yang kontra adalah kelompok fundamentalis, intoleransi, bahkan di kaitkan, di giring seolah mereka itu adalah bahaguan dari kejadian terorisme bomb di Indonesia

Kelompok yang kontra ini di anggap sebagai kelompok yang radikal dan mengancam kesatuan bangsa karena selalu menyebar kebencian dan berita hoaaxx

Begitu juga dengan kelompok yang kontra penguasa. Menganggap kelompok yang pro adalah para antek asing-aseng, para komunis, syiah, dan penganut paham liberalis-sekuler yang membonceng di gerbong penguasa

Kelompok yang kontra, justru menganggap kelompoknya lah yang selalu terzalimi dan mendapatkan perlakuan diskrminasi dari penguasa

Kelompok inipun merasa mendapatkan perlakuan ketidak adilan dari penguasa, dan parahnya lagi menganggap kelompok pro penguasa adalah para gerombolon cebong yang bodoh, tolol, dan pembenci agama

Dua polarisasi kelompok ini, juga linear dengan dua kutub kekuatan politik yang dominan di Indonesia. Yg terepresrntasikan dari Pikpres 2014 yang lalu yaitu antara kubu Jokowi dari Penguasa dan Prabowo dari oposisi atau yang kontra

Dua polarisasi masyarakat ini di prediksi akan terus memuncak sampai Pemilu 2019. Tak terhitung lagi orang orang yang di penjara oleh karena caci maki di sosial media

Tak terhitung lagi terjadi konflik horizontal di tengah masyarakat yang begitu terbelah dua secara emosional dan sentimentil

Dua kutub kekuatan ini saling berjibaku untuk saling menjatuhkan, menghajar, dan cari cela untuk saling membumi hanguskan

Jelas saja hal ini sangat tidak bagus bagi sebuah konsepsi kehidupan bernegara. Demokrasi yang sejatinya adalah ALAT untuk mencapai kekuasaan dalam memilih para pemimpin yang menakhodai pemerintahan, justru menjadi ajang pertempuran berdarah darah sampai membawa isu SARA yang seharusnya sangat tabu di bahas dan sakral untuk di libatkan

Sekarang, caci maki antar berbeda pemeluk agama semakin marak terjadi. Agama A mengurusi dan menjudge urusan agama B, ya jelas bermasalah. Tapi ketika pemeluk agama B marah karena urusan agamanya di otak atik pemeluk agama A, ehh malah dia yang di tuduh, dan di cap intoleransi

Akhirnya yang terjadi menyelesaikan masalah itoleransi dgn cara yg intoleransi sepihak

Begitu juga dgn terorisme. Aparat juga sangat represif dan menyelesaikannya juga dgn cara teror. Yaitu sengaja menyebarluaskan sedemikian rupa aksi teror di media, dimana secara tak langsung sesuai dgn harapan para pelaku teror tadi. Jelas teror bomb adalah proyek propaganda, lalu kita juga ikut memoropagandakannya secara tak langsung

Dan isu ini langsung di sambar para pembonceng politik untuk menggorengnya sebagai amunisi degradasi menyerang lawan politik

Kembali masyarakat yang jadi korban terpapar secara tak langsung provokasi politis tersebut

Demikian parahnya kondisi sosial politik kemasyarakatan bangsa kita. Sampai kapan hal ini terjadi ? Kenapa hal ini bisa terjadi ? Apa sebenarnya yang terjadi di balik ini semua ? Dan bagaimana kita bersama keluar dari masalah ini ??

Mungkin dari fenomena inilah para elit bangsa kita mulai sadar dan berpikir. Ternyata Pancasila yang selama ini menjadi alat pemersatu, payokan tata nilai kehidupan masyarakat, falsafah hidup bangsa, rumusan bernegara, telah lama di lupakan

Padahal, Pancasila lahir dari sebuah perdebatan yang tajam dari funding father kita dalam merumuskan dasar negara yang bisa menjadi pemersatu bangsa kita yang majemuk di awal kemerdekaan

Pancasila lahir dari sebuah renungan yang dalam, konsesus bersama, dan boleh di katakan HADIAH istimewa ummat Islam kepada bangsa ini atas nam Toleransi

Dengan di robahnya 7 kata dalam piagam Jakarta, bukti ummat Islam sangat memgutamakan integrasi nasional di bawah payung negara bernama Indonesia. Kalau mau, sebenarnya kelompok Islam ketika itu bisa saja memaksakan 7 kata dalam konstitusi kita. Namun demi Indonesia tegak, dan menghormati keberagaman serta kemajemukan Indonesia, akhirnya kelompok Islam ketika itu yang di wakili oleh Ki Bagoes menerima dgn legowo Pancasila dan perubahan 7 kata dalam UUD 1945

Artiny. Akan sangat naif sekali kalau ada kelompok masyarakat yang seolah mengajarkan ummat Islam tentang arti sebuah toleransi

KEDUDUKAN PANCASILA

Pancasila adalah rumusan bernegara dan kesepakatan jalan tengah para pendiri bangsa Indonesia

Jalan tengah maksudnya adalah, dari masa kemerdekaan sudah terjadi ketegangan ideologi global yang masing masing kutub ideologi tersebut berebut untuk menarik konsepsi bernegara kita ke arah kutubnya masing masing

Dua kutub yg dominan itu adalah, kutub konservatif dan Liberalis – Sekuler yg di belakangnya juga membonceng kelompok komunis

Pancasila hadir di tengah kemajemukan bangsa kita yg di harapkan dapat menjadi alat pemersatu. Bagaimana Indonesia dengan kemajemukan suju dan agamanya tidak menjadi negara agama tapi juga bukan negara yg tanpa agama

Sila pertama lah yg menjadi tonggak ideologi negara Indonesia. Indonesia adalah negara yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai nilai yang bersumberkan dari agama

Pancasila adalah rumusan hidup bernegara untuk menyatukan keberagaman, dan setiap agama bebas untuk di jalankan sesuai ajaran dan kepercayaan ya. Bahkan agama serta budaya luhur bangsa bisa di jadikan sumber hukum positif negara kita.

Cuma. Pasca era reformasi, ketika Pancasila di identik kan dgn wajah orde baru, Pancasila mulai bergeser dan di lupakan

Ketika fase inilah terjadi kekosongan ideologi pada bangsa kita. Sehingga seolah ada yg hilang dari kehidupan berbangsa kita. Masyarakat seolah kehilangan ruh dan jati dirinya

Jadi wajar, pengaruh ideologi dan budaya luar mudah masuk dan menggeser prilaku masyarakat kita

Masyarakat kita yg dulunya suka bermusyawarah, Goro, toleransi, hidup sederhana, suka tolong menolong dan mrmpunyai rasa patriotisme yg tinggi, berlahan mulai bergeser menjadi bangsa yg pemarah, individualistis, sangat matrealistis, mudah mencaci, ego yg berlebihan, dan segala hal di ukur dgn dunia dan kepentingan politiknya

Re AKTUALISASI DAN REKONSOLIASI NASIONAL

Jadi solusi dari kesemrawutan ideologi ini, tak ada jalan lain selain Re Aktualisasikan kembali nilai Pancasila terhadap masyarakat

Jangan sebaliknya. Jangan justru membenturkan Pancasila dgn agama. Karena tak ada yg mesti di pertentangkan.. Toh Pancasila itu sendiri adalah kristalisasi nilai luhur agama dan budaya kita.

Kembalikan pancasila ke dalam track dan defenisinya yg benar. Bukan hanya sebagai symbol dan alat politik sempit

Pancasila adalah sebuah nilai dasar kehidupan yg universal, yang mengakomodir semua keberagaman SARA untuk dapat hidup berdampingan

Moralitas, spritualitas, kemanusian, persatuan, kebersamaan, dan keadilan sosial adalah pondasi dasar pemahaman Pancasila dalam kehidupan masyarakat kita.

Kalau para elit dan masyarakat memaknai dan memahami arti Pancasila, maka tidak akan ada saling caci maki, bully membully, saling benci, korupsi dan radikalisme

Selanjutnya hal yang juga paling krusial di lakukan elit pemimpin bangsa ini untuk keluar dari crkungan gap dis-harmonisasi ini adalah REKONSOLIASI NASIONAL

Kita semua harus kembali menjadi jati diri Indonesia. Yang ramah, tenggang rasa dan menyelesaikan masalah dgn musyawarah

Harus ada yang tampil sebagai pemersatu yang bisa mengajak seluruh elemen untuk berdialog, duduk bareng, saling mendengarkan dan berbicara dari hati, bagaimana kita bersama bersatu padu memajukan bangsa ini

Bukan malah sebaliknya. Sudah saatnya kita semua kembali kepada nilai dasar bangsa kita yang mrnjadi titik pijak, titik temu, dan titik tuju kita semua menatap masa depan

Perbedaan pandangan politik tidaklah mesti membawa isu sentimentil SARA lagi

Bangsa Indonesia lahir dari kesadatan akan satu nasib, satu penderitaan sama sama di jajah asing, dan juga karena satu cita cita yaitu menjadi bangsa yang besar, bersatu, berdaulat dan membawa kesejahteraan

Stop upaya untuk saling menjatuhkan. Waspadai upaya pembonceng gelap yang menginginkan agar gap perpecahan ini terjadi agar mereka leluasa merampok kekayaan alam kita di tengah kemelut antara kita

Pancasila adalah solusi tepat untuk menjadi tata nilai jalan tangah antara ketegangan kutub ideologi yang sedang terjadi sampai saat sekarang ini

Wallahualam.

By Pilar