Foto Presiden Jokowi terima tamu di istana Bogor diatas banyak beredar di jejaring sosial Facebook, ada yang berkomentar wah… Presiden yang merakyat, kapan tuh ada seorang tukang becak dengan sandal jepit bisa masuk istana. Hanya ada ketika Jokowi menjadi Presiden di negara ini. Begitu kira kira tulisan yang menyertai foto itu dipampang dilaman akun Facebook seseorang.

Kemudian yang lain dengan meunggah foto yang sama menulis pada caption-nya; Ini sangat memalukan pencitraan semacam ini, masa masuk istana pakai sandal jepit? Malu maluin bangsa aja… Tulis yang lain..

Berbagai tanggapan dan komentar muncul sehingga menimbulkan polemik diakun Facebook yang mengunggah foto Presiden tersebut. Sebanyak yang suka sebanyak itu pula yang tidak.

Kenapa bisa terjadi, itulah uniknya manusia. Hanya kepala sama sama berambut tapi isi olah kepala (mainset) itu berbeda beda, dan dipengaruhi banyak faktor.

Kita juga tidak bisa melarang mereka yang menyatakan tidak setuju dan tidak harus mentah mentah membenarkan mereka yang setuju.

Barangkali ceritanya akan identik dengan cerita dibawah ini.. Silahkan anda baca;

Ini cerita lama, pembaca mungkin sudah pernah mendengar cerita ini dari para ulama yang memberikan pengajian di Masjid atau dari orang orang bijak dalam sebuah pertemuan

Ceritanya begini;
Pada suatu masa, di sebuah negeri dikisahkan, ada dua orang, terdiri dari ayah dan anak. Mereka pergi ke pasar ternak ingin menjual seerkor keledai milik mereka. Kondisi Bapak, Anak, dan keledai itu serba tanggung. Bapak itu berumur agak lanjut, tetapi masih cukup kuat untuk berjalan. Si Anak sendiri juga tanggung, ia adalah remaja yang belum dapat di sebut dewasa, tetapi juga tidak dapat lagi dikatakan anak-anak. Sementara si keledai, adalah keledai yang sehat kuat tetapi badannya beukuran agak kecil.

Pagi-pagi, berangkatlah mereka menuju pasar yang letaknya agak jauh dan harus ditempuh dalam perjalanan setengah hari. Bapak dan Anak, dengan membawa bekal makanan yang cukup untuk diperjalanan segera naik ke punggung keledai. Mereka menaiki keledai itu selama beberapa jam, hingga akhirnya tiba di sebuah kampung dengan kerumunan orang-orang. Demi melihat seekor keledai kecil dinaiki oleh Bapak dan Anak itu, berbisik-bisiklah orang-orang itu. Kemudian salah satu dari mereka berbicara.

“Hai, betapa malangnya nasib keledai kecil itu. Ia harus menanggung beban dua orang anak-beranak seperti kalian. Tidakkah kalian berpikir bahwa keledai itu bisa saja menjadi sangat menderita selama dalam perjalanan kalian?”

Setelah mendengar kata-kata orang kampung itu, akhirnya Si Bapak turun dari punggung keledai. Mereka kemudian meneruskan perjalanan menuju pasar dengan Si Bapak berjalan di samping keledai sementara Si Anak disuruh naik ke punggung Keledai. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan-jalan yang sepi hingga kemudian mereka tiba lagi di sebuah kampung yang berbeda.

Di kampung ini, mereka juga berpapasan dengan sekumpulan orang-orang yang berbisik-bisik. Si Bapak dan anaknya sadar, bahwa orang-orang kampung itu sedang berbisik-bisik membicarakan mereka. Lalu karena penasaran, bertanyalah Si Anak tentang apa sebenarnya yang membuat mereka berbisik-bisik. Lalu salah seorang dari kerumunan itu menjawab.

“Hai Anak Muda, lihatlah Bapakmu yang berjalan di sisi keledai itu. Tidaklah pantas kamu duduk di atas punggung keledai dengan santainya, sementara Bapakmu berjalan kaki di sampingmu. Di mana otakmu sehingga engkau sedemikian tega terhadap Bapakmu? Apakah kamu ingin menjadi anak yang tidak mempunyai rasa hormat dan kasih sayang kepada orang tua?”

Si Anak berpikir, lalu ia menyadari bahwa Bapaknya mungkin lebih pantas untuk duduk di atas keledai. Dialah yang seharusnya berjalan kaki. Si Anak kemudian turun dari punggung keledai, dan ia meminta Si Bapak untuk naik. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju pasar. Si Anak kini berjalan bersisian dengan keledai.

Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di sebuah kampung yang lainnya. Di sini mereka juga bertemu dengan sekelompok orang. Orang-orang itu saling berbisik-bisik sambil memandangi kepada Bapak, Anak, dan keledai itu. Karena rasa penasaran akan apa yang dibisik-bisikkan oleh orang-orang itu, Si Bapak kemudian bertanya.

“Wahai Saudara-Saudaraku, apakah gerangan yang kalian bisik-bisikkan? Adakah sesuatu yang salah dengan kami?”

Salah seorang dari penduduk kampung itu berkata.

“Di mana rasa sayangmu terhadap anak itu? Anda bertubuh kuat, mengapa anak anda disuruh berjalan? Sungguh kamu ayah yang keterlaluan.” Katanya dengan lantang, sementara orang-orang lainnya mengiyakan.

“Duhai Saudara-Saudaraku, tahukah kalian bahwa kami telah melewati beberapa kampung sebelumnya. Dan, tidak ada satu carapun yang kami lakukan dianggap tepat. Kami berterima kasih atas perhatian kalian kedapa kami.”

Setelah memohon diri untuk melanjutkan perjalanan, Si Anak segera naik ke punggung keledai bersama Si Bapak. Keduanya menyusuri jalan menuju pasar yang masih separuh jalan. Ketika keledai kelelahan, mereka berhenti di sebuah pinggir danau dengan pemandangan yang indah. Mereka membuka bekal makanan yang telah disiapkan dari rumah, sementara keledai kecil itu merumput dengan senangnya dan minum dari air danau dengan puasnya.

Saya tidak akan menyimpulkan cerita yang ditulis diblog
Novehasanah.blogspot.com ini. Silahkan anda hubungkan dengan cerita “Jokowi Terima Tamu Tukang Becak Pakai Sandal Jepit Di Istana Bogor Dalam Open House Lebaran”.

Yang penting ketika orang mengatakan tidak suka jangan marah, dan bila ada yang memuji sebaiknya jangan gembira dulu…. Kata orang kampung saya jauhilah sifat ONGAS… Apa arti ongas? Sombong..!

(YY)

By Pilar