Bagi yang belum baca Bag 1 s.d Bag 53, klik disini:

“GIRIANG GIRIANG PERAK” (Oleh; Makmur Hendrik) Bag ke 53…

Sambungan dari Bag 53….

Sementara itu, perkelahian di antara kedua orang itu makin seru. Bahu Cudai telah luka menganga dihantam kelewang Stein. Tapi semangatnya untuk hidup megalahkan rasa sakit yang dia rasakan. Dia memang ahli dalam bermain tombak.

Suatu saat, Stein terpeleset tatkala kakinya terpijak sebuah batu sebesar tinju. Badannya doyong ke samping. Ini membuat tubuhnya juga miring. Pedang di tangan kanannya ikut terayun ke kanan. Saat itu dipergunakan dengan baik oleh Cudai. Tombaknya menghujam ke dada.

Tapi kelewang Stein menangkis meski tak begitu sempurna. Akibatnya mata tombak itu menghunjam ke pinggul kiri Stein. Mata tombak itu terbenam hingga ke bahagian matanya yang bercangkok. Cudai menariknya kuat. Terdengar raung kesakitan dari mulut Stein.

Tapi Cudai tak berhasil menarik tombaknya keluar dari pinggul Stein. Mata tombak itu tak bisa ditarik. Dia menariknya lagi kuat kuat. Dan kembali terdengar raungan kesakitan dari mulut Stein.

Sementara itu penyamun penyamun yang bertaruh atas nama Cudai pada berteriak dan melompat lompat kegirangan.

Bunuh! Bunuh Belanda itu. Bunuh! teriak mereka.
Cudai memang berniat menghabiskan nyawa Belanda ini. Karena mata tombak itu sulit mencabutnya maka dia menggeser pegangannya agak ke pangkal tombak. Dengan demikian pegangannya makin mantap dan tombak bisa dicabut dengan kuat.
Malah untuk menambah kekuatan, kakinya tertekan ke perut Stein untuk bertumpu. Lalu kedua tangannya merenggutkan tombak itu. Tapi gerakannya ini justru berakibat yang fatal. Dengan sendirinya ketika tangannya menggeser pegangan ke dekat tubuh Stein, tubuhnya ikut mendekat.

Stein melihat kesempatan terakhir ini. Dengan menghimpun segenap tenaga yang ada, dia mengangkat kelewangnya. Disaat dia terpekik karena pinggulnya terbusai akibat mata tombak yang dicabut secara paksa itu, saat itu pula kelewangnya bekerja.
Cudai tak mengira. Belanda itu masih akan punya tenaga. Karenanya dia kurang waspada. Begitu tombaknya tercabut dengan bantuan dorongan kakinya, begitu tebasan pedang itu tiba di tangannya yang memegang tombak. Tak ampun lagi tangan kanannya putus hingga siku.

Dia meraung. Stein terbosai daging pinggulnya. Suasana jadi sepi penyamun penyamun itu pada tertegun melihat pertarungan kedua lelaki berlainan bangsa itu.
Sehabis membebaskan pedangnya, Stein mendekap pinggulnya yang terbosai karena tersangkut di cangkokan mata tombak. Tapi Cudai sambil meraung, demi mempertahankan nyawa, tetap melanjutkan serangannya. Darah menyembur.
Tombak segera dipegang oleh tangan kirinya. Stein segera sadar bahwa kini kesempatannya untuk menang segera terbuka. Dengan kesadaran demikian, dia lalu tegak dan maju. Kelewangnya dia hayunkan ke leher Cudai.

Tapi lelaki ini menghadapkan lengannya yang putus itu ke wajah Stein. Maksudnya semula adalah untuk menyemburkan darah yang mengalir dari lengannya itu ke muka Stein. Dengan demikian, Belanda itu akan terhalang pandangannya oleh darahnya.

Namun darahnya tidak cukup banyak menyembur. Hingga tidak mencapai wajah Stein. Tapi meski demikian dia tetap beruntung. Stein tiba tiba merasa perutnya mual melihat darah yang menyembur nyembur seperti ledeng besar yang bocor itu.

Dia tersurut, dan isi perutnya rasa membalik. Dia muak dan mual karena melihat darah terlalu banyak keluar. Kasihan Belanda yang satu itu. Menjadi tentara Kompeni tanpa mental yang kuat. Dia muntah. Dan saat itulah tombak di tangan kiri Cudai melesat dengan kuat ke perutnya.

Belanda itu tersurut dua langkah. Muntahnya tak jadi menyembur. Melainkan meleleh, sementara matanya terbelalak. Tombak itu terhujam hingga separoh ke perutnya. Tubuhnya limbung, dan dalam kesepian hutan belantara yang mencekam itu tubuhnya tiba tiba tertelungkup. Namun tak sampai jatuh ke tanah.

Pangkal tombak yang setengah depa lagi menahan tubuhnya. Mayatnya baru menyentuh tanah tatkala berat badannya membuat dia terguling ke samping. Cudai terduduk lemah. Di antara tempik sorak yang membahana dari penyamun penyamun yang bertaruh di pihaknya, dia lalu merobek bajunya.

Kemudian dengan robekan itu dia mengikat lengannya. Darah yang keluar tiba tiba jadi mengecil. Namun wajahnya sudah demikian pucatnya. Dia lalu melangkah gontai ke arah Gampo Bumi. Dua langkah dia sanggup berjalan. Kemudian tertunduk di tanah. Terputus putus dia bicara.

Saya yang memenangkan perkelahian ini… tolonglah tepati janji Gampo Bumi…. antarkan saya pulang ke Kabunsikolos….

Gampo Bumi mengangkat tangan. Anak buahnya yang bersorak tadi diam seketika. Di tengah sepinya rimba itu Gampo Bumi terdengar bersuara.

Gampo Bumi tak pernah memungkiri janjinya. Telah saya katakan, bahwa yang menang dari pertarungan ini akan saya kirim ke Kabunsikolos untuk menyampaikan berita pada Verde, bahwa gilirannya untuk mati telah tiba….
Terima kasih… terima kasih….

Gampo Bumi tegak. Cudai yang telah lemah menuruti. Tapi dia segera terkejut tatkala tubuhnya diikatkan ke pohon kayu.

“Mau kalian apakan aku….” desisnya di antara wajahnya yang makin lama makin memucat.

Gampo Bumi tertawa bergumam. Anak buahnya tegak mengelilingi Cudai.

“Telah kukatakan buyung, tak seorang pun yang boleh memijak tanah Tambuntulang ini tanpa seizin kami….”

“Tapi kau telah berjanji untuk mengirimku pulang….”

“Ya. Dan aku akan menepatinya….”

“Tapi untuk apa aku kau ikat begini….”

“Untuk membunuhmu….”

Wajah Cudai menegang.

“Jahannam! Penyamun jahannam…!!”

Bersambung ke bag 55…

Catatan Redaksi Foto Letjen Purn TNI Edy Rahmayadi Gubenur Sumut terpilih menurut QC, tidak ada kaitan dengan cerita ini…

By Pilar