Jika belum baca Bag 1 s.d 6/klik disini;

Catatan Ringan; Ikut Bersama Tim Jum’at Baroqah Polresta Pekanbaru (Bag 6)

Sambungan dari Bag 6..

“Uda…., jangan Uda angkat saya tinggi tinggi nanti saya jatuh tersungkur berdarah-darah,” kata Wakapolresta Pekanbaru, AKBP Edy Sumardi SIK dalam sebuah pesannya.

“Maksud pak Waka apa, Uda enggak paham ?”

“Itu tulisan Uda telah mengangkat nama saya menjulang tinggi, takutnya ke depan apa yang saya lakukan sekarang tidak dapat saya tingkatkan setidaknya dipertahankan, jika begitu kan sama dengan saya jatuh tersungkur dalam tanda kutip,” tambah Edy..

“Ow… Gitu”

“Iya…, iya lah Uda,” jawabnya.

Betulkah begitu?

Sayapun sudah ada yang nyidir, dengan mengatakan; “Uda YY punya kenangan indah ya sama Polresta Pekanbaru, sehingga tulisannya bersambung-sembung terus,” kata seseorang lewat pesan WhatsAppnya.

Ih…., terlalu sensitif sindiran itu jika saya maknai, bahwa saya mendapat pelayanan VVIP selama berada di Pakanbaru. Jangan-jangan ada yang mengira saya dibayar oleh Wakapolresta Pekanbaru, AKBP Edy untuk menulis catatan tersebut, sebab tulisan itu seperti sebuah tulisan advertorial dan sambung bersambung.

Ah…., saya tak peduli pada penilian orang yang penting saya menulis, mencoba mengungkapkan fakta yang saya lihat dengan kacamata saya sendiri. Orang mau menilai saya dibayar silahkan saja, itu hak mereka.

Dibayar tidak, tapi dilayani apa juga tidak?

Mungkin begitu pertanyaan berikutnya muncul.

Kalau saya katakan saya tidak dilayani, ya tidak juga, sebab setelah usai kami melaksanakan Jum’at Baroqah, saya ikut bersama rombongan makan bareng disebuah restoran di Rumbai, Pekanbaru, yang menyediakan masakan Jawa.

Baru kali ini saya masuk restoran yang menyediakan menu Jawa. Restoran itu bahan kontruksi bangunannya 80% terbuat dari Batang Kelapa, terletak tak berapa jauh dari jembatan Leton Rumbai. Jika Anda datang dari arah Pekanbaru, resto dan Rumah Makan terletak disebelah kanan.

Saat disodori buku menu, ragu saya memilih salah satu diantaranya. “Pilih menu yang mana pak?” kata pelayan tak sabar, karena saya terlalu lama membalik balik halaman demi halaman buku menu itu.

“Ini saya pilih Ayam Mercon, biar begitu masuk ke perut saya ayam Mercon bisa meledak,” kata saya disambut ger oleh yang lain.

“Wow…, pedas itu pak, apa bapak sanggup makan pedas?,” ujar seorang kakak (saya lupa namanya) dia anggota Tim JB yang duduk berjarak sedepa disebelah saya.

Ternyata Ayam Mercon itu ayam yang digoreng lembut, dilumuri dengan cabe rawit dan cabay hijua. Cocok untuk lidah saya. Porsinya banyak, tak sanggup saya menghabiskan sendiri, saya bagi kepada adik adik anggota Tim JB, yang duduk didepan saya. Dan kami memakannya bersama. Uuuuaasssst pedas tapi uuuunnaaak Ayam Mercon.

Selain makan? Layanan apalagi yang didapat?

Inilah yang membuat saya segan dengan Wakapolresta yang satu ini, ketika saya kabarkan lewat WhatsApp pada pak Waka, bahwa saya ke Pakanbaru, menjenguk suami adik istri yang sakit.

Pak Waka membalas pesan WA saya. “kapan Uda ke Pakanbaru?

Saya tuliskan hari Kamis tanggal 7 September.

“Hotel Uda biar saya siapkan?” kata pak Waka..

“Alhamdulillah…,” tanpa saya minta pak Waka menyediakan hotel untuk penginapan.

Lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih pak Waka atas pelayanan, pada Kasat Reskrim Polresta Pekan Baru Kompol Bimo dan tentu juga kepada Kapolresta Pekanbaru Kombespol Susanto yang saat saya berada di Pekanbaru Kapolresta sedang berada di Jakarta.

Saya tidak dapat menolak pelayanan itu, diberikan saat saya butuh. Kata seorang Labay (sebutan bagi orang alim di kampung saya) “do’a penolak reski tak pernah ada”. Makanya saya nikmati saja.

Namun demikian tulisan cacatan Ikut Bersama Tim Jum’at Baroqah Polresta Pekanbaru ini hadir, bisa saya suguhkan kepada pembaca, tidak disebabkan pelayan tadi. Tanpa menadapat pelayanan itupun jika ada bahan tulisan atau berita kami para penulis dan wartawan akan berusaha menulisnya, karena pada prinsipnya wartwan itu mencoba menyampaikan informasi kepada masyarakat secara cepat dan akurat. Wartawan tidak digaji pemerintah, tapi dari pemberitaan dia mencoba melakukan sosial kontrol, bukan untuk mencari cari kesalahan orang. Dari tulisannya juga diharapkan akan tumbuh motivasi agar semua elemen bangsa dapat mengisi pembangunan sesuai dengan biidang dan keahliannya. Itulah wartawan Indonesia, wartwan pembangunan.

Kecuali itu bagi diri saya pribadi, menulis menghasilkan karya jurnalistik adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Otak saya seakan akan sedang menikmati sebuah panorama yang indah. Dan dengan menulis juga otak kiri tetap berfungsi dengan baik meskipun sudah harus memasuki masa pensiun.

Tulisan ini pun bisa jadi dianggap sebagai tulisan yang lebay… Hehehe..

Namun yang pasti, seperti yang pernah saya ungkapkan diawal tulisan ini, program Jum’at Baroqah ini telah lama dilaksanakan oleh Polresta Pekanbaru, sejak Mei 2017 lalu sampai saat sekarang rutin dilaksanakan, banyak mendapat apresiasi dari kalangan LSM, organisasi profesi di Pakanbaru. Mereka tidak hanya sekedar mengapresiasi dengan ucapan tapi mereka wujudkan dalam bentuk ikut memperkuat jumlah tim, dan melakukan kegiatan sesuai dengan keilmuan masing masing, mencoba membantu dan melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Jum’at Keliling

Setelah program JB rutin dilaksanakan oleh Polresta Pekanbaru, masih dalam rangka mewujudkan Semboyan Promotor yang dicetuskan kapolri, yakni polisi yang Profesional, Moderen dan Terpercaya, mulai Jum’at (7/9) dilaksanakan Program Jum’at Keliling.

Para perwira disebar secara bergantian mendatangi masjid, usai sholat Jum’at perwira itu meminta waktu untuk menyampaikan pesan pesan kamtibnas kepada para jemaah.

Pada Jum’at (14/9) Kasat Res Narkoba Polresta Pekanbaru Kompol Dedi Herman memberikan pesan-pesan Kamtibmas ditengah-tengah jamaah Masjid Al-Mukhlisin.

Kompol Dedi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan bapak Kapolresta Pekanbaru yang juga bertujuan menjalin tali silaturrahmi dan penyampaian pesan-pesan Kamtibmas ditengah-tengah masyarakat.

Dalam penyampaian pesan-pesannya, Kompol Dedi mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati atas barang bawaannya di kendaraan untuk terhindar dari pelaku jambret di jalanan.

“Selanjutnya, tingkatkan silaturrahmi sesama tetangga, dan saling mengenal sesama tetangga,” sebut Kompol Dedi.

Mengenai bahaya Narkoba, Kompol Dedi berpesan bahwa menggunakan narkoba itu tidak ada hebatnya.

“Saya berpesan kepada bapak-bapak dan adik-adik, bahwa penyalahgunaan narkoba ini merupakan kejahatan yang luar biasa. Dalam pergaulan, jangan coba-coba narkoba. Narkoba itu tidak ada hebatnya. Kalau sudah tergantung dengan narkoba, kalau tidak ada duit pasti merampok,” jelas Kompol Dedi.

Demikian cacatan ini saya akhiri semoga Polresta Pekanbaru dapat dijadikan inspirasi dan barometer bagi polres polres lainnya di Tanah Air dalam rangka menjadikan polisi yang benar-benar sesuai dengan harapan rakyat bangsa ini.. Aamiin YRA.

(SEKIAN)

By Pilar