………………………………….
Oleh : Anton Permana

Entah legenda inu benar atau cuma cerita rekyasa Belanda ketika itu, cerita legenda asal nama Minangkabau yg di ambil dari cerita adu kerbau mempunyai arti penting kalau kita cermati secara holistik, kalau di kaitkan dengan Pilpres 2014 yang lalu. Lho ? Kenapa ? Apa pula ? Berikut akan kita coba paparkan

Dalam cerita adu kerbau di masa bahola dahulu di kisahkan, bahwa datanglah sepasukan bala tentara dari jawa untuk melakukan penaklukan terhadap daerah termasuk ke Minangkabau.

Melihat tentara yang datang dengan jumlah begitu besar dan peralatan perang yang lengkap sesuai massa itu. Para pemimpin adat, melihat ini sangat berbahaya. Karena akan menghasilkan pertumpahan darah besar serta bisa menghancurkan daerah yang indah permai.

Untuk itu, diambil siasat menawarkan kepada pemimpin bala tentara jawa, supaya jangan terjadi perang tapi di gantilah dengan pertandingan yang populer ketika itu yaitu adu kerbau. Masing pihak dipersilahkan menggunakan kerbau terbaiknya. Kalau kerbau tentara jawa menang maka boleh menguasai nagari semuanya. Tapi kalau kerbau tentara jawa kalah, maka mereka semua harus kembali ke jawa

Ide dan tawaran inipun di setujui. Maka masing pihak mencari kerbau terbaik di daerahnya.

Pada hari yang ditentukan. Berkumpulah semua masyarakat di lapangan. Tampak berdiri dgn gagah kerbau dari tentara jawa yang sangat tinggi besar, gagah perkasa. Melihat ini, tentu membuat ‘keder’ nyali para pemimpin adat. Karena tak pernah ada kerbau di nagari yang sebesar itu. Bahkan separohnyapun tak ada

Maka pemimpin adat mengatur siasat yaitu menggunakan kerbau kecil tapi di tanduk dan giginya di lapisi besi baja runcing yang tajam

Melihat kerbau adat yg kecil, tentu membuat tentara jawa ketawa ketawa menganggap remeh. Dan tidak mempermasalahkan pemakaian besi baja tersebut

Sampailah pada pertandingan di mulai. Tepuk tangan riuh menggema, termasuk ketawa ejekan dari pasukan jawa melihat perbandingan kerbau yang sangat tidak seimbang. Beda bumi dan langit.

Setelah tabuh di pukul, dilepaslah kerbau dilapangan. Kerbau dri jawa yg besar dan sangar terlihat tenang dan cuek melihat di depannya hanya seekor anak kerbau kecil mungil

Namun berbeda dengan kerbau pasukan adat. Melihat ada kerbau besar di depannya, langsung berlari mengejar karena disangka induknya untuk menyusu.

Otomatis ketika kerbau kecil pihak kaum adat menyeruduk ke perut kerbau besar pihak tentara jawa, tanduk kerbau yg terbuat dari besi tajam mengoyak perut kerbau besar sampai ususnya berserakan keluar. Gigi kerbau kecil yang menggigit kelamin kerbau yang di sangka puting susu kerbau besar juga putus.

Nyaris dalam hitungan menit kerbau besar yang gagah perkasa sebelumnya roboh tumbang tanpa perlawanan

Tepuk sorak sorai kemenangan pun menggema dari masyarakat adat. Pasukan jawa tertegun, kaget, shock, seakan tak percaya melihat kerbau andalannya tumbang dan ambruk berdarah darah

Tapi apa boleh buat. Nasi sudah jadi bubur. Janji dan aturan main harus di tepati. Sikap merasa jumawa terlebih dahulu, dan menganggap remeh lawan menjadi mimpi buruk bagi pasukan jawa. Penuh penyesalan dan rasa malu, akhirnya pasukan jawa pulang balik kampung dengan penuh rasa malu penyesalan. Kisah menang adu kerbau inilah yang menjadi asal nama ‘manang adu kerbau’ yang menjadi Minang Kabau.

Tapi pembahasan kita bukan fokus pada keabsahan dan kebenaran cerita legenda tersebut. Tetapi lebih kepada apa pesan tersirat yang bisa kita ambil dari kisah tersebut kalau di hubungkan dengan Pilpres 2014 yang lalu

Prabowo, ketika melangkah maju Pilpres 2014 sudah sangat optimis. Karena sdh menganggap tidak ada lagi lawan tangguh seperti SBY, Mega, Amin Rais, dst yang patut di cemaskan

Lalu muncullah Jokowi dengan gaya penampilan yang begitu apik jauh berbeda dengan gaya konvenional lazimnya seorang kandidat presiden

Tampang yang ndeso, kurus, serta halusinasi mobil esemka, di tambah Prabowo juga adalah salah satu orang yang mengorbitkan Jokowi di Pilkada DKI, menganggap Jokowi bukanlah ancaman serius. Kalau boleh dikatakan tidak menganggap remeh

Tapi apa yg terjadi setelah itu. Gerakan sosial media yang masive terstruktur, bombardir pencitraan di televisi hampir tiap detik dan menit, merubah peta politik Indonesia ketika itu

Tetnyata baru di sadari. Jokowi adalah tokoh yang sudah lama di siapkan. Yang sudah dilatih sedemikian rupa. Ternyata di belakangnya pun sudah berjejer para mahestro inteligent, para jendral, dan raksasa raksasa dunia

Jokowi tiba tiba ‘meroket’ , menari nari mehegomoni publik di Indonesia.

Jokowi yg semulanya di anggap remeh, plus dgn meme meme lucu yang gimana gituh, baru di sadari adalah representasi sebuah kekuatan besar, hidden power yang luar biasa

Kita bisa meluhat bgimana strtegi komonikasi, pencitraan, logical fllacie, political marketing, dan strategi bersosial media yang sangat canggih terstruktur mengobrak abrik mimpi Prabowo. Akhirnya Jokowi menjadi Presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Nahh bagaimana sekarang dengan Pilpres 2019. Tentu kondisi dan situasinyapun jauh berbeda

Jokowi dulu sekarang sudah berkuasa, dengan berbagai alat dan tools kekuasaan yang dia miliki.

Prabowo tentu juga sudah membaca dan memetakan ini semua. Pilpres 2014 adalah cambuk yang menyakitkan bagi Prabowo. Dan tentu juga kesalahan di tahun 2014 tak akan mau lagi terulang lagi

Masing kubu sekarang sdh resmi bertarung di Pilpres 2019. Jokowi berpasangan dgn Makruf Amin. Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno

Tumbangnya Ahok di Pilkada DKI, adalah sebuah warning bagi kubu Jokowi. Namun, canggih nya permainan dan kuatnya barisan raksasa pendukung Jokowi plus dgn instrumen kekuasaannya juga adalah ancaman besar bagi Prabowo

Ini adalah Pilpres yang akan sangat emosional dalam sejarah politik Indonesia. Tidak saja pertarungan politik biasa, tapi juga adalah pertarungan ideologi serta hidden power global di Indonesia.

Kesatuan dan persatuan bangsa akan sangat diuji di pilpres ini. Loyalitas aparatur dan keimanan masyarakat juga akan di uji dalam pilpres ini

Mari kita lihat dan cermati perkembangan lebih lanjut. Karena detik dan menit didalam perkembangan politik akn sangat berharga…

(Bersambung)

By Pilar