Pariaman, Pilarbangsanews. Com,--Tabuik (Indonesia: Tabut) adalah perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Muhammad.

Bagi masyarakat Minangkabau di daerah pantai Sumatera Barat, khususnya di Kota Pariaman. Festival ini termasuk menampilkan kembali Pertempuran Karbala, dan memainkan drum tassa dan dhol. Tabuik merupakan istilah untuk usungan jenazah yang dibawa selama prosesi upacara tersebut.

Walaupun awal mulanya merupakan upacara Syi’ah, akan tetapi warga masyarakat Pariaman kebanyakan penganut Sunni.

Upacara melabuhkan tabuik ke laut dilakukan setiap tahun di Pariaman pada 10 Muharram sejak tahun 1831, kalau dihitung-hitung sampai sekarang acara ini sudah berlangsung 187 tahun yang lalu (Wikipedia)

Karena acara ini diperkenalkan oleh Pasukan Tamil Muslim Syi’ah dari India, kini upacara yang bisa membuat Piaman Langang, Batabuik Mangko nyo Rami” itu ada pihak yang ingin acara ini ditiadakan.

“Jika memang ada pemikiran seperti itu, dan meragukan bahwa upacara itu akan mensyi’ahkan masyarakat Pariaman yang beraliran Sunni, hendak dapat dibuang jauh jauh,” kata Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, Minggu (23/9/2018) sore, saat puncak prosesi pesta Budaya Tabuik Pariaman yang dipadati puluhan ribu pengunjung di pantai Gandoriah, Pariaman.

Puncak prosesi dihadiri Menteri Pariwisata yang diwakili Plt. Deputi I Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Ni Wayan Giri Adnyani, Gubernur Sumbar diwakili Kepala Dinas Pariwisata Oni Yulfian, Wakil Walikota Pariaman Genius Umar, pejabat di lingkungan Pemko Pariaman dan undangannya lainnya.

Mukhlis menegaskan, baik secara pribadi maupun sebagai Walikota Pariaman, sudah menjelaskan bahwa Tabuik Piaman tidak ada dengan ritualnya. Tabuik Pariaman murni budaya Pariaman. Untuk itu, gairah masyarakat Pariaman dalam pelaksanaan Tabuik harus terus ditumbuhkan sebagai kecintaan terhadap budaya Pariaman.

”Mereka yang selalu melontarkan hukum tersebut, sudah ada orang yang selalu syirik yang melihat begitu ramainya Budaya Tabuik di Pariaman. Kita harus terlibat dalam hal tersebut, ”ungkap Mukhlis Rahman.

Mukhlis juga menyebutkan, prosesi pertama yang dimainkan dari Perang Karbala, yaitu Hasan dan Husin.

Namun di Pariaman, prosesinya dikemas dan disesuaikan dengan kondisi Pariaman. Saat ini Tabuik tidak lagi berhubungan dengan aliran Islam tertentu. Tapi hanya semata iven budaya masyarakat Pariaman Nan Rami.

Menurut Mukhlis, pelaksanaan Tabuik terbukti cukup besar pengaruhnya terhadap masyarakat Kota Pariaman. Ramainya pengunjung di saat pesta Tabuik berlangsung di Kota Pariaman, memberikan dampak ekonomi. Hal ini berperan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dibagian lain Mukhlis juga mengungkapkan, selama kepemimpinannya 10 tahun, sudah dibangun 2 rumah Tabuik. Yakni rumah Tabuik Subarang dan rumah Tabuik Pasa. Sebelumnya, pelaksanaan pembuatan Tabuik selalu berpindah-pindah. Karena rumah lokasi pembuatan Tabuik sudah tergusur akibat pembangunan pemukiman penduduk. “Alhamdulillah, dengan adanya kesepakatan tuo Tabuik dan ninik mamak sudah berhasil membangun 2 rumah Tabuik tersebut. Sekarang ini pembuatan Tabuik tidak lagi berpindah dari tahun ke tahun.”

“Pelaksanaan Tabuik dan sudah dianggarkan melalui APBD Kota Pariaman. Dulu sebelum Kota Pariaman berdiri, anggaran pelaksanaan Tabuik dibantu Bupati Padang Pariaman sebesar Rp 5 juta.Sisanya disebarkan lamaran dan minta sumbangan ke orang Piaman dan pihak lainnya. Tabuik tetap juga dilaksanakan sebagai bentuk Tabuik miliknya orang Piaman, ”kata Muklis.

Pelaksanaan Tabuik juga berhasil memotivasi sanggar-sanggar kesenian tumbuh di Kota Pariaman.Selain itu, mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kota Pariaman. Pertumbuhan wisatawan ke Pariaman terus meningkat setiap tahunan. Pada 10 tahun, jumlah pengunjung ke Kota Pariaman Kebugaran 300.000 orang. Tahun 2017 sudah mencapai 3 juta wisatawan ke Pariaman. (armaidi tanjung)

By Pilar