.Cerita Bersambung

GIRIANG GIRIANG PERAK ( Oleh: Makmur Hendrik) Bag 64..

Bagi yang belum baca Bag 1 s.d Bag 63 klik disini;

GIRIANG GIRIANG PERAK (Oleh; Makmur Hendrik) Bag 63..

Sambungan dari bag 63…

“Hari telah tinggi. Saya lapar. Hei Nuri, maukah menghidupkan api?”

Tanpa menanti jawaban gadis itu dia mengumpulkan daun dan ranting kayu yang kering. Kemudian mengambil dua buah batu sebesar tinju. Batu sungai yang kasar. Dengan mendekatkan ke daun daun kering tadi dia menggeserkan kedua batu itu dengan kuat.

Pada geseran yang kelima, percikan bunga api dari batu itu telah membakar daun daun tersebut.

Nah, pilih dahan dan ranting yang kering, jaga agar api menyala terus. Saya akan mencari sesuatu untuk kita makan….

Nuri yang memang merasa lapar melakukan perintah anak muda itu. Tak sulit baginya untuk membuat api jadi besar. Cukup banyak ranting dan dahan kayu kering di sekitar tempat mereka berhenti itu. Namun yang menjadi tanda tanya di hatinya adalah, apa yang akan mereka bakar?

Dia melihat si Giring Giring Perak melangkah ke sebuah batu besar di pinggir sungai yang airnya jernih itu. Di tangannya dia memegang beberapa butir batu kecil. Matanya menatap ke dalam air. Kemudian mulai melangkah arah ke hilir. Meloncat perlahan dari batu ke batu.
Suatu saat, tangannya kelihatan melemparkan batu kecil di tangannya ke sungai. Kemudian sekali lagi. Dan setelah itu dia memungut sesuatu di air.

“Hei Nuri, kau suka ikat limbat? sambil berseru dia mengangkat tangannya.”

Nuri dengan kagum melihat dua ekor ikat limbat sebesar betis menggelepar lemah di tangan anak muda itu. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum. Si Giring Giring Perak merasa senang melihat senyum itu. Dia ingin si gadis melupakan abangnya yang mati terbunuh. Dia mengantarkan ikan itu.

“Bisa membersihkannya?”

Gadis itu tercenung. Dengan apa harus dia bersihkan? Tak ada pisau atau parang. Lalu dia menggeleng lemah. Matanya menatap pada anak muda itu. Si Giring Giring Perak tersenyum.

Jangan cemas. Kita bisa membuat pisau. Mari….
Nuri mengikuti langkah anak muda itu ke sebuah batu di pinggir sungai yang jernih tersebut. Anak muda itu memungut sebuah batu sebesar kelapa kecil. Kemudian memukulkannya beberapa kali dengan batu yang lebih kecil.

Tak berapa lama kemudian di tangannya terpegang sebuah batu pipih mirip pisau Memang tak begitu tajam. Tapi ketika bahagian yang tipis itu diasah beberapa kali oleh si Giring Giring Perak, ternyata hasilnya lumayan.

“Nah, coba bersihkan perut ikan itu dengan pisau ini….” katanya menyerahkan pisau batu itu ke tangan Nuri.

Nuri menerima pisau itu. Membelah perut ikan. Meski tak begitu baik, tapi perut ikan itu bisa dibersihkan. Dia tersenyum dan ketika matanya menatap pada si Giring Giring Perak, dia lihat anak muda itu tengah memperhatikannya pula. Mereka bertatapan.

“Ayoo, bersihkan ikan itu segera. Kau juga lapar bukan?”

Nuri jadi malu. Benar benar jadi malu. Bayangkan, tangannya jadi terhenti bekerja tatkala mereka bertatapan tadi. Kini mendengar ucapan anak muda itu wajahnya segera jadi merah lagi. Merah seperti tomat masak, si Giring Giring Perak senang melihat wajahnya yang semok yang merah seperti tomat itu.
Dia segera ingat pada ladang ladang tomat yang pernah dia lalui. Seperti buah tomat yang segar dan masak itulah wajah gadis itu kini. Akhirnya ikan itu selesai dibersihkan. Kemudian dengan sebilah ranting kayu hidup, ikan itu ditusuk. Lalu dibakar di atas bara api yang menyala.

Menanti ikan bakar itu masak, si Giring Giring Perak melangkah lagi kesebuah batu yang terlindung dari panas cahaya matahari. Nuri takmenoleh ke arah mana dia pergi. Tapi telinganya menangkap bunyi giring giring di kaki anak muda itu. Bunyi dering yang perlahan. Menimbulkan rasa hiba di relung hatinya.

Burung burung kembali pada berkicau setelah terdiam tatkala mula mula mereka datang tadi. Bunyi burung di rimba yang sunyi, alangkah lainnya terasa. Perlahan dia mendengar suara bansi ditiup. Lambat lambat dia memutar kepala.

Sepuluh depa di sana, di atas sebuah batu pipih yang teduh anak muda yang telah menolong nyawanya tadi kelihatan meniup bansi sambil menunduk. Tiba tiba gadis ini merasakan hatinya gundah.

Dia tak tahu bahwa tidak hanya dia yang tertegun. Bahkan burung burung yang tadi berkicau pun pada berhenti bersuara mendengar bunyi bansi yang baru pertama kali mereka dengar itu. Suara bansi Giring Giring mengalun sedih. Dia tidak mengenal sebuah lagupun.
Bunyi bansinya adalah nyanyian hatinya yang selalu sepi dan merindukan ibu, ayah dan siapa saja yang mungkin mengenalnya. Lagu rindunya adalah lagu rindu semua orang. Bahkan lagu rindu burung burung dan riak danau. Bila sudah meniup bansi begitu, dia tak mampu menahan air matanya untuk tak mengalir turun.
Nuri sendiri, entah mengapa, air matanya ikut meleleh. Dia merasa kerinduan anak muda itu adalah kerinduannya. Kesunyian anak muda itu kesunyiannya pula. Aneh, padahal belum sampai beberapa saat mereka berkenalan. Tanpa dia sadar suara bansi itu sudah lama berhenti.

Burung burung kembali berbunyi. Melompat dari dahan ke dahan.
Hei, belum juga masak ikan bakarmu Nuri? tiba tiba gadis itu dikejutkan oleh suara si Giring Giring Perak.

Dia menoleh, dan melihat anak muda itu tegak di sisinya. Cepat cepat dia menghapus air mata. Kemudian mengambil ikan bakar itu. Memberikannya seekor kepada anak muda itu. Si Giring Giring Perak segera saja melahap ikan bakar yang berminyak dan harum tersebut.

Hmm… enak. Ayo makanlah. Kita akan berangkat….

Nuri memakan ikan bakar itu. Memang enak. Dalam waktu tak begitu lama, mereka melahap ikan bakar tersebut sampai ludes.

“Nah, kini kita berangkat. Kemana kau harus kuantar?”

“Saya pulang ke rumah….
Ya. Tentu akan saya antarkan Nuri sampai ke rumah. Tapi dimana rumahmu…?”

“Di Kampungpisang….
Kampungpisang?”

“Ya…”

“Kampungpisang di Bukitkepanasan?”

“Ya. Kenapa, keberatan mengantarkan ke sana?”

“Oh tidak. Tidak. Tapi kita harus kembali lagi ke arah Pasar Banto, bukan?”

“Ya. Kalau Uda keberatan, antarkan saya sampai keluar dari hutan ini. Saya bisa kembali sendiri….”

“Jangan tersinggung, upik. Saya akan mengantarkanmu sampai ke rumah. Yang saya pikirkan adalah tentang kampungmu itu… Nah, lekaslah naik….”

“Nuri tiba tiba merasa malu harus naik kuda itu lagi. Bagaimana dia harus duduk di kuda itu sementara anak muda itu akan duduk pula di belakangnya? Mukanya jadi bersemu merah.”

“Hei. Bukankah kita akan pulang?”

“Ya… tapi….”

Si Giring Giring Perak tiba tiba juga dapat merasa apa yang terpikir oleh Nuri. Dia juga jadi tak sedap hati. Tapi dia tak kehilangan akal. Dia segera duluan melompat ke punggung kuda itu, lalu bicara.

“Nah, kau dapat duduk di belakangku. Asal kuat kuat saja berpegang….”

Nuri sangat berterima kasih akan jalan keluar ini. Meskipun dia terpaksa juga harus memeluk anak muda itu dari belakang, tapi dia merasa tak begitu malu, daripada duduk di depan dan dipeluk. Dia lalu memegang tangan anak muda yang terulur itu. Kemudian duduk di punggung kuda. Di belakang si Giring Giring Perak.

“Siap?”

“Ya….”

Dan kuda dijalankan perlahan oleh anak muda itu. Tapi ketika kuda itu mendaki sebuah tebing dan harus berlari agak kencang agar tak melorot ke bawah, Nuri terpekik. Pegangannya pada si Giring Giring Perak hampir lepas dan tubuhnya hampir terguling ke awah.
Untung saja anak muda itu cepat menyambar tangannya. Meski gadis itu telah terpelosoh sedikit, namun tak sampai jatuh.

Bersambung ke bag 65..

Foto gadis memegang moncong kuda diatas bukan Nuri seperti didalam cerita ini, tapi foto yang diambil dari google seperti yang tercantum dibawahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *