Bagi yang belum baca bag 1 s d bag 69 klik disini;

GIRIANG GIRIANG PERAK (Oleh; Makmur Hendrik) Bag 68

Sambungan dari bag 68…

“Akan Uda kembalikan keris dan cincin ini?” suara Puti Nuri terdengar lemah.

Si Giring Giring Perak masih terdiam. Dia tengah mencari kata untuk memulai rundingan itu. Dia jadi kaget tatkala dia lihat air mata gadis itu menitik di pipinya. Dan tiba tiba Nuri bangkit. Namun secepat gadis itu akan berlari kembali ke biliknya, secepat itu pula dia menyambar tangannya.

“Duduklah dahulu Nuri….” katanya

Gadis itu masih menunduk. Tak berani menatap padanya.

“Duduklah….”

“Saya sudah mengerti. Uda kembalikan saja keris dan cincin itu pada ayah atau pada Mak Datuk….”

“Duduklah….’

“Buat apa saya duduk lagi? Untuk mendengarkan bahwa Uda tak sudi menerima ikatan jodoh ini? Tak perlu lagi. Saya sudah tahu, bahwa sejak malam tadi Uda tak berkenan pada rundingan yang disampaikan ayah….”

“Duduklah Nuri….”
Ucapan anak muda itu, yang bersuara lembut, membuat hati Puti Nuri jadi lemah. Dia duduk berlutut dekat anak muda itu. Masih menunduk.

“Apa yang akan Uda sampaikan….” tanyanya perlahan.

“Tentang keris dan cincin ini….”

“Bukankah sudah dikatakan ayah, bahwa tak ada kewajiban bagi Uda untuk memenuhi ikatan ini? Uda bisa saja meninggalkan rumah ini bila saja Uda kehendaki….”

“Kalau itu yang terniat di hatiku, sudah sejak malam tadi aku tak di sini. Yang ingin kutanyakan adalah pendirianmu Nuri….”

“Saya mematuhi kehendak ayah….”

“Artinya engkau tak punya pendapat lain, kecuali menerima kehendak ayahmu?”

“Ayah juga terpaksa berbuat seperti ini karena kita telah melanggar adat….”

“Artinya engkau akan menerima saja putusan ayahmu meski dengan lelaki manapun engkau dijodohkan?”

Nuri tertegun. Matanya yang redup berbinar. Menatap tepat tepat pada si Giring Giring Perak.
Haruskah aku menjawab pertanyaan ini? tanyanya perlahan.

“Ya….”

“Masih diperlukan juga jawaban itu?”

“Betapa tidak. Tidakkah engkau tahu, bahwa perkawinan adalah suatu ikatan suci. Sesuatu yang suci tidak boleh menimbulkan sakit hati apalagi sebuah penderitaan. Suatu perkawinan harus mendatangkan kebahagian turun temurun. Bukan dendam dan siksaan hidup.
Bagaimana kau bisa menerima begitu saja ikatan jodoh yang dipaksakan keluargamu, padahal engkau tidak menyukai jodohmu, dan ikatan itu akan membuat engkau menderita seumur hidup….”

“Bagi kami perempuan memang tidak ada pilihan….”

“Begitu pula dengan dirimu saat ini?”

“Ada bedanya….”

“Dimana letak perbedaan itu….”

“Nuri terdiam. Dia menunduk. Tangannya kembali memainkan ujung selendangnya.
Katakanlah dimana letak perbedaannya dalam hal ini….”

“Dengan masih menunduk, gadis itu berkata perlahan.
Saya lebih baik mati daripada dijodohkan dengan lelaki yang tak saya cintai….” kemudian gadis itu terdiam.

Si Giring Giring Perak juga terdiam. Dia masih tak menangkap kemana makna ucapan gadis itu. Ah, usianya yang masih muda belia, membuat dia tak cepat arif akan arti kata yang bersayap.

“Dan engkau akan bunuh diri kalau jodoh itu diteruskan?”

Ah, alangkah bloonnya pertanyaan ini. Puti itu sampai sampai tak dapat menahan dirinya untuk tak tersenyum.

“Kenapa engkau tersenyum….”

“Kalau aku akan bunuh diri, aku sudah melakukannya malam tadi. Tidak usah menanti sampai pagi. Tak usah menghidangkan kopi dan ketan untuk Uda….”

Dan gadis ini berlari masuk ke biliknya dengan muka merah. Anak muda itu sendiri alangkah merahnya mukanya. Untunglah saat itu datang seorang lelaki.
Sanak disilahkan datang ke “pertemuan di Balairung. Tuanku Nan Renceh serta Rajo Tuo menanti di sana….”

Dia menyarungkan keris emas itu ke pinggangnya. Memasukkan cincin ke jari telunjuk kanannya. Kemudian melangkah turun. Mengikuti lelaki itu menuju ke Balairung yang terletak di ujung kampung. Dari jauh Balairung itu sudah kelihatan. Beratap ijuk dan bergonjong empat dengan dinding setinggi duduk.

Semua kepala menoleh padanya tatkala dia muncul di bengkolan. Anak muda ini berdebar juga hatinya tatkala menaiki tangga Balairung itu. Di Balairung tersebut ada dua puluh lebih lelaki duduk bersila. Sementara di sekeliling Balairung kelihatan beberapa lelaki tegak berjaga jaga.

“Assalamualaikum….” katanya perlahan.

Hampir serentak semua yang hadir menjawab salamnya. Dia memberi salam keliling, kemudian duduk bersila dekat pintu.

“Selamat datang, anak muda. Kami telah lama mendengar tentang engkau. Tak disangka, Tuhan mentakdirkan kita bertemu di sini. Silahkan duduk di sini …”

Sebelum dia menjawab, lelaki tadi yang menjemputnya ke rumah, dan kini duduk di sisinya berbisik perlahan.

“Dialah Tuanku Nan Renceh. Pemuka agama dari Tilatang Kamang….”

Sekali pandang saja, si Giring Giring Perak dapat menduga, lelaki berpakaian serba putih seperti dirinya pula, yang bertubuh kecil tapi bermata tajam dan yang bernama Tuanku Nan Renceh itu, adalah orang yang berisi.

“Saya juga amat bahagia diperkenankan hadir dalam sidang penting ini. Saya telah lama mendengar nama besar Tuanku. Seorang yang ditakuti oleh Kaum Adat di Tiga Luhak. Yang ditakuti oleh Kompeni. Terimalah salam penghormatan saya….”

“Rajo Tuo, ayah Puti Nuri yang duduk di sebelah kiri Tuanku Nan Renceh, sangat senang melihat sopan santun anak muda itu. Dan hatinya juga amat gembira mula pertama tadi melihat bahwa keris pusaka tua sukunya tersisip di pinggang anak muda tersebut.”

Demikian pula cincin emas itu juga terpasang di jari telunjuknya. Dia dapat menerka, pastilah anak muda ini telah bicara langsung dengan anak gadisnya. Diam diam, bangsawan ini mengucapkan syukur pada Tuhan.

Sebab kini usia puterinya itu sudah mencapai sembilan belas. Sudah bersilang carano yang datang untuk meminangnya. Ada dari Luhak Agam ini, dan banyak pula dari bangsawan bangsawan dari Luhak Tanah Datar, yaitu luhak darimana mereka berasal.

Pinangan itu kebanyakan dari teman temannya. Yaitu kaum bangsawan atau orang orang kaya di Minangkabau. Tapi tak sedikit pula pinangan itu berasal dari orang yang tak pernah dia kenal. Orang orang ini mendengar dari mulut ke mulut tentang kecantikan Puti anak Rajo Tuo tersebut.

Sebanyak itu carano yang datang, sebanyak itu pula yang tak berhasil. Banyak saja helah Puti Nuri untuk menolak lamaran tersebut. Terhadap puteri satu satunya ini, Rajo Tuo tersebut tak bisa berbuat apa apa.

Lalu akhirnya terjadilah kekeliruan yang diperbuat kedua anak muda itu kemaren, yaitu ketika mereka masuk kampung dengan mengendarai seekor kuda berdua. Puti Nuri duduk di depan dalam pelukan anak muda perkasa ini.

Ketika kepadanya dikatakan bahwa dia harus menikah dengan lelaki yang memeluknya di atas kuda itu, Puti Nuri hanya menunduk dengan wajah bersemu merah. Ayah dan ibunya segera mengetahui bahwa putrinya ini menyukai pemuda berbaju putih dan bergiring giring perak tersebut.

Sebab mukanya yang menunduk kemalu maluan itu sangat berbeda dari yang sudah sudah. Biasanya bila kepadanya ditanyakan apakah dia bersedia dikawinkan atau ditunangkan dengan salah seorang bangsawan yang datang melamar, yang banyak pula di antara mereka itu yang gagah dan kaya raya, maka sikap Puti ini adalah menunduk dengan muka masam.

Kemudian kalau didesak terus maka dia akan lari ke kamarnya, dan menangis di sana. Dari perilaku itu tahulah orangtuanya, bahwa gadisnya ini tak menyukai lamaran tersebut.

Berlain sekali halnya tatkala kepadanya disampaikan bahwa dia telah melanggar adat istiadat mereka dengan berada dalam pelukan anak muda itu di atas kuda dan lewat pula dalam kampung dimana orang tengah ramai.

Dia juga tidak memprotes agak sedikit, ketika ayahnya mengatakan bahwa sebagai akibat kesalahan itu, mereka harus dikawinkan. Puti Nuri seperti telah lama menantikan peristiwa ini. Dia sering mendengar cerita tentang anak muda itu dalam rapat rapat yang diadakan di rumahnya.

oOo

Dalam pertemuan kaum pesilat di Kampungpisang itu, si Giring Giring Perak telah memakai cincin dan keris emas pusaka tua dari keluarga Rajo Tuo, ayah Puti Nuri. Dia mengedarkan pandangannya keliling.

Dia jadi gembira tatkala di ujung kirinya, yaitu berhadapan duduk dengan Tuanku Nan Renceh dan Rajo Tuo ayah Nuri kelihatan duduk Datuk Sipasan! Datuk itu juga memandang padanya dengan tersenyum.

Si Giring Giring Perak ingin menegurnya. Tapi dalam pertemuan khidmad dimana hadir tokoh tokoh dunia persilatan Minangkabau saat itu, dia tak berani lancang mulut asal bersuara. Karenanya dia hanya mengangguk dengan sopan sebagai pertanda gembira bertemu di sana.

Rajo Tuo sebagai tuan rumah di Kampungpisang ini nampaknya menjadi juru bicara bagi pertemuan tersebut. Masih dalam keadaan duduk dia lalu memperkenalkan pada anak muda itu satu demi satu setiap yang hadir dalam rapat tersebut.

Setelah memperkenalkan Tuanku Nan Renceh, dan Datuk Sipasan serta tiga orang temannya dari Pariaman. Rajo Tuo itu lalu memperkenalkan seorang lelaki bertubuh besar berbaju serba hitam.

Beliau adalah Tuo Lintau. Guru Gadang Silek Lintau yang terkenal itu….

Si Giring Giring Perak memandang pada orang tua berbaju serba hitam itu. Rambutnya sudah beruban. Nampaknya sudah uzur. Tapi cahaya matanya alangkah tajamnya. Sekali lihat, si Giring Giring Perak tahu, bahwa tenaga dalam pemegang Silat Lintau ini amat tangguh. Dia mengangguk memberi hormat.

Ah Rajo Tuo terlalu melebihkan. Kepandaianku hanyalah sekedar bisa bersilat untuk bermain randai…. orang tua itu berkata merendahkan diri.

Beliau yang duduk di sudut sana yang berbaju merah dan berikat kepala hitam, adalah Datuk Nago. Guru Gadang dari Silek Buayo Lalok dari Pesisir Selatan….

Rajo Tuo menunjuk pada orang tersebut. Si Giring Giring Perak menoleh. Dan dia melihat seorang lelaki yang layaknya seperti selalu mengantuk. Matanya seolah olah sulit untuk dibuka.

Begitu namanya disebut dia membuka matanya lambat lambat. Kemudian sambil menguap besar, dia mengangguk pada si Giring giring Perak. Ketika dia bicara, suaranya mendesis.
Saya gembira bertemu dengan engkau anak muda. Saya dengar gurumu adalah seorang

Bersambung ke bag 70…

Catatan redaksi; Foto ilustrasi adalah foto Lisda Hendrajoni caleg DPR-RI dari partai Nasdem bersama Andra Raspati

By Pilar