Masa Kecilnya Bupati Hendrajoni Itu “Tangka” (Bag 26)

Yang belum baca Bag 1 s.d bag 25 klik link di bawah ini;

Sambungan dari Bag 25

Batang Kapeh, Pilarbangsanews.com, —
Bupati Pasisir Selatan, Hendrajoni kembali bertandang ke Lapau Mak Gambuang setelah sempat beberapa hari absen, yaitu sejak Senin (7/10/2019) baru hari ini Sabtu (12/10/2019) bisa mengunjungi Tam Arang cs di Lapau Mak Gambuang.

Kemana bupati selama 6 hari itu. Dua hari, yaitu hari Senin dan Selasa, bupati ke Jakarta. Selasa sore pulang ke Painan. Karena pada hari Rabu menghadiri pelantikan dan pengambilan sumpah Pimpinan DPRD Pesisir Selatan. Kemudian pada hari Kamis dan Jum’at kemarin sibuk dengan rutinitas lainnya di Painan.

Hari ini Sabtu (12/10/2019) merasa punya waktu luang, bupati kembali ke Kabupaten Pasir Santan, maota lamak di Lapau Mak Gambuang bersama Tam Arang dan Utiah Kapeh cs.

Seperti biasa, kebiasan warga di Kampung Tam Arang Utiah Kapeh, berjalan normal. Sebelum nongkrong di Lapau Mak Gambuang, pada umumnya lelaki pelapau di kampung ini terlebih dahulu menunaikan sholat subuh berjama’ah di Surau Labai Litak. Di Kampung Tam Arang dan Utiah Kapeh ini lebih ramai sholat subuh dibanding Sholat Jum’at, seperti yang pernah di sampaikan, hal itu bisa terjadi disebabkan karena pada Sholat Subuh jemaah bertambah dengan jemaah ibu ibu.

Ramai warga sholat subuh di Masjid Masjid dan di Surau Surau di Kabupaten Pasir Santan, ini salah satu alasan yang membuat bupati Hendrajoni selalu ingin bertandang minum kopi di Lepau Mak Gambang ini. Bupati Hendrajoni sangat menginginkan warganya demikian pula.

Salah satu isi kampanye politik saat pilkada 3,5 tahun lalu, Henfrajoni berjanji akan memberikan perhatian yang serius terhadap pembangunan peningkatan kehidupan beragama di Pesisir Selatan kian hari semakin membaik terutama dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Majelis taklim yang semakin menjamur itu, tidak hanya sekedar untuk kumpul kumpulnya para ibu ibu dengan memamerkan seragamnya kemudian mendengar ceramah dan tausyiah agama dari ustadz dan ustazah kondang. Tapi diharapkan mampu mempengaruhi
generasi muda dalam menangkal pengaruh negatif dari kemajuan teknologi terutama kemajuan tehnologi informasi yang berkembang sangat pesat saat ini.

Tentunya masing masing kita terutama orang tua menyadari bahwa tanggung jawab menjadikan generasi muda yang berimam dan bertaqwa itu adalah orang tua, masyarakat dan pemerintah.

Sebagus apapun pemerintahnya kalau masing keluarga mengabaikan pendidikan agama anak anak mereka, hasilnya dapat dipastikan akan menjadi tak berpengaruh.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, lewat berbagai program telah berusaha memenuhi janji kampanyenya, yaitu membagun peningkatan kualitas pemahaman, penghayatan,
dan pengamalan ajaran agama. Kewajiban pemerintah adalah menyediakan sarana dan prasarana. Contohnya
pemberian bantuan operasional kepada juru penerang atau
penyuluh agama, pemberian bantuan kepada organisasi
sosial/yayasan/LSM. pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan.

Lalu kemudian kalau ada penggiat medsos (Facebook) urang Pesisir Selatan yang menulis di akun Facebook nya dengan kalimat yang begini; Kalau Bapak telah bisa membuat rakyat Pesisir Selatan memiliki kehidupan yang sejaterah dan baik akhlaknya,
maka baru saya akan diam.

Utiah kapeh dan Tam Arang tak akan menggubris pernyataan yang boneh itu. Karena memang itulah yang diharapkan kepada seorang Bupati tapi dia lupa bahwa akhlak seseorang sangat ditentukan dari segumpal daging yang ada didalam rongga dada manusia.

Mungkin kita pernah mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَاصَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْفَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

ooOoo

“Lalu apo nan lamak topik crito kito Tam?” kata Bupati bertanya untuk memulai ota lamak di Lepau Mak Gambuang pagi ini.

“Pak kami ingin tahu carito maso ketek apak. Tentunya nan masih taingek di apak, ” kata Utiah Kapeh.

“Rancak bana mah pak dari pado soal rumah sakik sajo kito bahas,” ujar Pakie Teliang ikut mengusulkan cerita yang akan dibahas.

“Iyo pak…, ancak apak bacarito maso ketek apak. Bisa jadi referensi bagi nan mudo-mudo kalau tabaco di mereka carito awak ko pak,” Mas Taratok ikut menguatkan.

“Batuah mah pak, salamo apak tak datang, ota kami lah malayok-layok sampai ka provinsi Sumbar bagai. Kami mampagujiangkan beberapo namo kandidat gubernur. Kini soal kandidat gubenur itu kita pending dulu, kito danga lo carito maso ketek apak, ba-a pulo skenarionyo, ” Ujang Saga ikut pula memperkuat usulan teman-temannya yang lain.

“Kok betu kandak kalian bia di caitokan maso den ketek. Nan takana dek den, aden ko dulu tangka dan acok panangih kalau ibuk tak amua malapehkan kandak den,” Bupati berhenti sejenak, ia menjelaskan bahwa dia kepada emaknya memanggil ibuk sedangkan ke ayah panggil “apa”.

Bersambung ke bag 27

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *