Mengamati Seorang Pemuda Arab Sholat Sunnah ( Bag 18)

Yang belum baca bag 1 s.d bag 17 klik dibawah ini;

Jabal Magnet Atau Wadi al-Jinn (Bag 17)

Sambungan dari bag 17

Batang Kapeh, Pilarbangsanews.com, —

Hari ini tanggal 5 Desember. Hari terakhir kami di Madinah untuk kemudian melanjutkan perjalanan ibadah Umrah kami ke Kota Makkah Al Mukarramah. Suhu di kota Suci Madinah dipagi hari terakhir itu mulai terasa dingin, diperkirakan sekitar 18°C. Saya dan papi doli seperti subuh subuh sebelumnya, selalu dini
pergi ke Masjid Nabawi yang jaraknya sekitar 100 Meter dari hotel tempat kami diinapkan.

Dihari pertama kami sudah berada di masjid Nabawi pada pukul 1:00 waktu setempat, tapi setelah mengetahui Sholat Subuhnya pada pukul 5:40 WAS, maka pada hari ke 2,3 dan ke 4 kami datang ke madjid pukul 3:00 Waktu Arab Saudi ( WAS)

Di tanah air saya dan papi Doli telah buat komitmen; Nanti selama di tanah suci kita gak usah banyak menghabiskan waktu tidur di hotel. Kita coba lebih banyak waktu kita habiskan di masjid saja

“Oke pa, ” jawab doli menyanggupi komitmen yang saya buat bersama dia.

Papi Doli Rajin subuh ke Masjid Nabawi, dia datang saat masjid masih lengang. Di masjid ini jemaah selalu melimpah disetiap waktu sholat fardhu, sampai ke pelataran masjid. Sekarang papi Doli apa kabar? Apa masih rajin sholat subuh? Harus rajin ya Nak….

Selama 4 hari di Madinah, saya dan papi Doli Alhamdulillah dapat melaksanakan sholat fardhu ditambah dengan sholat sunah lainnya di masjid Nabawi. Itu artinya komintmen yang kami buat dapat terlaksana dengan baik.

Papi Doli katanya dia sempat melaksanakan 4 kali sholat sunah di Raudhah.

Sedangakan saya hanya mendapat kesempatan satu kali sholat persis didepan mihrab masjid Kubah Hijau itu.

Tadinya saya merasa tak yakin akan dapat menerobos masuk ke Raudhah, mengingat ketika saya masuk itu sudah berjubel umat disana, ada yang berdiri dan ada yang duduk membuat shaf untuk sholat di masjid Kubah Hijau itu.

Meskipun ada perasaan bimbang menyelimuti hati, tapi saya tetap berdoa minta kepada Allah agar saya diberi kesempatan sholat di Raudhah itu.

Lihat di foto. Saya harus mencapai mihrab (tanda panah). Berapa jemaah yang harus saya lewati. Hanya izin Allah akhirnya saya dapat menunaikan sholat di mihrabnya Nabi mengimani sholat para sahabat.

Kenapa terlalu ingin sholat di Raudhah?

Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ (رواه البخاري، رقم 1196 ومسلم، رقم 1391)

“Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391)

Diluar Raudhah atau di Dalam Masjid Nabawi kita mendapat pahala 1000x sholat di masjid lainnya.

Sekarang kita sholat di Raudhah ( tamannya) Syurga Allah. Siapa yang tak ingin berada di syurgaNya Allah….

Dengan pertolongan dan izin Allah akhirnya saya sampai juga mendekat ke Raudhah, hanya 2 meter dari Mihrab Masjid Kubah Hijau itu.

Di Mihrab itulah Nabi Muhammad SAW menjadi imam sholat umat beliau pada masa itu

Dan kini para imam Masjid Nabawi juga menunaikan tugasnya persis dekat posisi nabi jadi imam dahulunya.

Saya berhasil sholat sunah 2 salam disana. Setelah saya berselfie untuk dokumentasi saya keluar dari Raudhah memberikan kesempatan pula kepada yang lain menggantikan posisi saya.

Saya keluar lewat pintu yang ada disamping Mihrab itu. Belok ke arah kiri untuk keluar Masjid Kubah Hijau.

Dari sini saya kembali masuk ke masjid Nabawi untuk menunaikan Qiyam Mullaik. Jam di Handphone saya menunjukkan pukul 4:30 WAS dan pukul 8:30 WIB.

Pada pukul 4:30 itu azan pertama berkumandang di Masjid Nabawi….

Sholatnya Pemuda Arab

Disaat saya masuk kedalam masjid, bersamaan dengan saya ada seorang pemuda Arab, dia memakai celana jeans dan baju dalamannya yang dibungkus sweater. Dia mengambil shaf didepan saya. Kami sama sama menunaikan sholat Qiyamullai

Saya sudah selesai melaksanakan sholat tahajjud sebanyak 4 salam (8 rakaat) dan ditutup dengan 3 rakaat witir. Namun si pemuda Arab masih juga belum siap dengan sholat.

Lama sekali saya lihat sujudnya. Kadang dia menangis terisyk-isyak dalam sujud itu. Entah berapa salam dan rakaat pemuda arab itu sholat tak terhitung jumlahnya.

Saya ingin berkomunikasi dengan pemuda itu, tapi tidak saya lakukan karena selain dia duduk di depan shaf saya, saya tidak pandai berbahasa Arab, kalau pandai saya akan bertanya kepada si pemuda sholat apa saja yang dia tunaikan.

Sepemuda Arab baru berhenti total dari sholat sunahnya setelah 10 menit akan iqamah tanda sholat subuh akan dimulai.

Muazzin di Masjid Nabawi itu mengumandangkan Azan sholat Subuh pada pukul 5:15 WAS, setengah jam kemudian, atau sekitar pukul 5:45 WAS baru dilaksanakan sholat subuh.

Bersama Orang Turkey

Usai menunaikan sholat sunah sehabis Azan Subuh, saya berkomunikasi dengan seorang bapak bapak dari Turkey.

Si bapak sama seperti saya, tidak bisa berbahasa Inggris. Ketika saya tanya kepadanya “Where do you come from” Dia hanya menyunggingkan senyum ramahnya saja.

Tak hilang akal saya bertanya. Saya tunjuk dada saya. Saya katakan Indonesia. Terus saya tanya dia kamu…..

“Turkey., ” Jawabnya.

“Tayyip Erdogan,” kata saya sambil mengacungkan jempol. Nama Presiden Turkey Recep Tayyip Erdogan itu cukup melegenda bagi warga muslim di Indonesia karena dinilai Presiden / pemimpin dunia yang paling depan menantang penganiayaan terhadap muslim di Rohingya dan Uighur.

Dia tersenyum. Sambil bilang Erdogan…

Saya keluarkan Handphone, saya cari aplikasi yang bisa menterjamhkan bahasa Indonesia ke bahasa Turkey. Saya tulis anda sudah berapa hari datang di Madinah?

Dia baca pertanyaan di handphone lalu di jawab dengan mengacungkan 2 jari ke saya.

Terus saya buat lagi pertanyaan. Anda menunaikan ibadah umrah bersama siapa?

Dia bingung jawab. Trus saya berikan handphone saya kepada teman Turkey itu. Saya suruh dia biacara di handphone cara menjawabnya.

“Aile”, katanya. Aile artinya adalah keluarga.

Terus saya tanya dia, “anda bekerja sebagai apa?” Ini sebuah pertanyannya yang paling menjengkelkan jika ditanyakan kepada orang barat. Tapi tidak bagi kita orang timur.

Dia jawab dengan bahasa Tarzan, yang saya tangkap artinya dia adalah pensiunan. Tapi pensiunan apa tak sempat saya bertanya lagi karena muazin telah membacakan iqamah sebagai tanda sholat subuh segera dimulai di pagi itu…

Bersambung…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *