.Tam Arang dan Utiah Kapeh

Betulkah Bupati Hendrajoni Telah Berbuat Zalim?

Sudah lebih dari satu setengah bulan ota lamak di Lepau Mak Gambuang tak pernah lagi dipublikasikan. Ada apa?

Berbagai analisa muncul di kalangan para pembaca, ada yang menyebutkan Mak Gambuang telah almarhumah, ada yang mengatakan, Tam Arang merantau lagi. Ada pula yang menginformasikan Utiah Kapeh mengalami sakit stroke.

Betulkah demikian?

Tak satupun dugaan diatas ada yang benar. Mak Gambuang yang dikabarkan sudah almarhumah dan Utiah Kapeh yang disebut terserang penyakit stroke, ternyata itu kabar bohong. Keduanya masih sehat walafiat, begitu juga Tam Arang masih ada di kampung dan dia tidak pergi kemana mana.

Lantas kenapa Ota Lamak di Lepau Mak Gambuang tak muncul di media Pilarbangsanews.com?

Apakah Lapau Mak Gambuang tutup?

Tidak…., Lepau Mak Gambuang masih tetap buka. Warga pelapau setiap pagi masih terus seperti sebelum sebelumnya. Selalu ada ota lamak pengantar minum pagi mereka membahas berbagai topik.

“Yang vacum itu adalah penulisnya, pak YY. Sudah lama beliau tak datang ke tempat kita. Baru pagi ini beliau menyumbua, kemana apak selama ini, ” kata Utiah Kapeh bertanya.

“Utiah seperti belum tahu saja sifat pak YY, kalau sudah manyumbua (muncul) langsung meloncat loncat dan kadang kadang nampak tabang tabang maraok. Kini liau lah muncul jaganlah ditanya kamana beliau selama ini. Yang perlu diucapkan ke beliau selamat datang di Lapau Mak Gambuang, ” kata Tam Arang mencoba memahami kondisi penulis ota lamak mereka.

“Iyo loh mah Utiah, ndak perlu ditanya pak YY itu doh, ” kata Udin Gagok menyela.

“Bana Utiah,” sambung Pakie Teliang. Menurut Pakie Teliang, sebaiknya kita mulai ota lamak kita sapaya nanti bisa dimuat di media Pilarbangsanews.com.

“Apa topiknya yang bagus Angku Labai ? ” Tam Arang bertanya ke Lebai Litak.

ZALIM topiknya, ” kata Labai Litak.

“Kok Zolim topiknya? ” tanya Udin Gagok yang dari tadi tak pernah muncul gagapnya kalau bicara.

Soalnya kata zolim itu sering digunakan Facebooker di kabupaten tetangga kita.

Kata mereka Bupati Hendrajoni menzalami wakilnya Rusma Yul Anwar.

“Lho… Lho.. Baa kok sampai be’etu?” tanya Mas Tartok kura kura dalam perahu.

“Iya sekarang pak wabup sedang menghadapi sidang pengrusakan hutan mangrove di Pengadilan Negeri Padang. Hari Senin (2/3/2020) pembacaan putusan tapi ditunda oleh majelis hakim dengan alasan vonis belum rampung ditulis. Sidang pembacaan vonis ditunda sampai Jumat depan, ” jawab Tam Arang.

“Apa hubungannya sidang pak wabup Rusma Yul Anwar itu dengan zalimnya Hendrajoni?” kembali Mas Tartok bertanya.

“Lantaran pak bupati lah pak wabup itu disidangkan. Kalau bukan lantaran pak bupati, ndak mungkin pak wabup itu kasusnya sampai ke pengadilan, ” kata Tam Arang

“Hukum tebang pilih, padahal yang merusak hutan mangrove bukan hanya pak Wabup, pak Wagub NA diduga juga lebih parah tingkat rusaknya dibanding dengan kerusakan oleh pak RYA. Kenapa hanya pak wabup yang disidangkan?” kata Labai Litak.

“Tunggu dulu… Kita tidak usah membahas yang lain dulu, nanti melebar kemana-mana. Mari kita fokus membahas kata zolim, ” kata Utiah Kapeh.

Menurut Utiah Kapeh dari Enklopedi yang sempat dia baca; pengertian Zalim dalam ajaran Islam adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya.

Pertanyaannya, apakah Bupati Hendrajoni yang melaporkan Wabup RYA sampai dia disidang di Pengadilan Negeri?

“Tidak.”

” Kalau tidak, lalu siapa?”

” Yang laporkan warga masyarakat, ada ninik mamaknya juga. sebab kalau Bupati yang melapor tentu Bupati hadir sebagai saksi dalam persidangan. Dalam perkara ini mana pernah Bupati hadir memberikan kesaksiannya. Itu bukti bahwa kasus itu smpai ke pengadilan bukan disebabkan oleh Bupati, ” kata Utiah Kapeh.

“Pak Bupati memang tidak nampak tapi beliau bermain dibelakang layar ?” kata Mas Tartok.

“Kita tidak boleh ikut ikut main tebak tebakan. Kita harus membiasakan diri bicara dengan fakta dan data, ” kata Utiah Kapeh.

Tapi untuk kali ini kita ikuti komentar Mas Tartok, pak Bupati main di belakang layar. OK. KALAU ITU BENAR. tapi apakah peristiwa pengrusakan itu tidak ada?

Kalau tidak ada, baru dapat dikatakan kasusnya rekayasa, dan orang yang merekayasa boleh disebut telah berlaku/berbuat zalim.

Kalau peristiwa pengrusakan itu ada apakah itu zalim??

Jangan jangan kita kita inilah yang zalim karena telah menuduh orang berbuat zalim. Dan orang yang dituduh itu adalah bupati anda sendiri. Rusak anda mah, ” Kata Utiah Kapeh mengakhiri ota lamak mereka pagi tadi. Dan mempersilahkan Labai Litak membacakan kutipan ayat suci Al-Quran berikut ini;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al Maidah: 8).

Baca juga :

Nunggu Uang Tulak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *