.Pessel

Bupati HJ: “Saya Ikhlas Jika Masih Disalahkan Rakyat”

Batang Kapeh, Pilarbangsanews.com

Terkait BLT yang menimbulkan reaksi dan gejolak dari warga masyarakat, Bupati Hendrajoni mengaku ikhlas menerimanya.

Karena sebagai Kepala Daerah ia dan staf telah berusaha bekerja keras, siang dan malam, bahkan hari libur sekalipun.

Berawal dari permintaan data untuk BLT Provinsi, yang begitu datang perintah, dalam waktu cepat daerah wajib mengirimkan data ke Dinas Sosial, semula kuotanya sebanyak 34 ribu KK.

Maka, secara berjenjang diturunkan ke kecamatan dan Wali Nagari agar segera mengirimkan data-data KK penerima BLT dengan kategori masyarakat terdampak terutama para pekerja sektor non formal.

Alhasil perangkat nagari mengirimkan data untuk kuota provinsi sebanyak 34. ribu semula akan dibantu Rp200 ribu/KK.

Sejalan dengan waktu, karena derasnya desakan dan instruksi termasuk dari Pemerintah Pusat agar APBD Kabupaten untuk mengakomodir BLT, pun TAPD melalukan refocusing atau realokasi anggaran, juga dalam waktu dan limit yang ketat dan dibatasi.

Akhirnya, setelah dihitung-hitung APBD hanya sanggup pada angka 16 ribu KK, karena pada saat bersamaan DAU yang semula dialokasikan Rp890 M, dipotong 10 persen. hampir Rp90 M, maka pendapatan daerah hilang dari sumber APBN.

Pada saat bersamaan, perangkat nagari menginput 16 ribu KK untuk jatah BLT Kabupaten, Kemensos juga memberi kuota BLT 20 ribu plus tambahan penerima sembako 8 ribu. Sumber penerimanya dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial alias DTKS, basis data ini sudah ada di Kemensos RI, susah mengotakatiknya.

“Bisa dibayangkan, betapa kawan-kawan di nagari bekerja ekstra keras, mengumpulkan KK, lalu menginput ke sistem melalui aplikasi yang disediakan Kominfo bernama Sinar. Siang-malam operator, perangkat nagari, wali dan bamus serta relawan Covid-19 nagari bekerja,” kata Bupati.

Tak mudah memang, perintah yang datang silih berganti di tengah ketidakpastian regulasi. Aparat terdepan bekerja dengan keras, setuasi seperti kapal mau tenggelam, harus sigap, tangkas dan cerdas, kalau tidak hasilnya kemarahan publik.

Setelah seluruh data terinput ke sistem, BLT Provinsi, BLT Kabupaten dan verifikasi dan validasi data Kemensos, sudah dilakukan, lalu berikutnya, apa yang terjadi?

Kuota BLT Provinsi menyusut signifikan, yang semula pada kisaran 34 ribu KK menjadi 11.300 KK, karena perubahan nominal dari Rp200 ribu jadi Rp600 ribu.

Belum lagi 28 ribu KK yang dikirim ke Kemensos, bolak-balik datang dan pergi, verival juga demikian, alhasil yang keuar KK penerima manfaat juga tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat atau pemerintah nagari. Lain yang diusul lain pula yang keluar, sebagian data validitasnya jauh dari fakta.

Ini salah siapa, Dinas Sosial Kabupatenkah? Untuk kasus ini, Dinsos hanya sebagai penyalur data, perubahan hasil verivali (verifikasi dan validasi) sudah disampaikan, namun, sifat dasar manusia, khilaf tetap ada, data Kemensos yang turun bikin runyam di bawah.

Belum lagi, data yang kemudian dikirim ke Dinsos Provinsi untuk BLT sumber Provinsi yang menciut hampir 200 persen.

Lalu, apa yang terjadi kemudian, data yang sudah tersorong hampir 76 ribu KK, menggenang-genang di tim JPS Kabupaten untuk dipilah-pilih, akhirnya dapat angka; 28.000 KK masuk BLT Kemensos, 11.330 KK BLT Provinsi, 16.000 KK melalui BLT Kab dan 14.800 KK sudah menerima manfaat PKH/BPNT. Sisanya akan diselamatkan BLT sumber Dana Nagari, diperkirakan bisa menyasar 28.000 KK.

Kenapa masyarakat ribut juga? Karena tak sabar. Kuota BLT dari berbagai sumber hampir 100.000 KK, dari 150.000 KK di Pesisir Selatan.

Turunnya, memang tak bisa sama-sama atau serentak, karena sumbernya tak sama. Kemudian adanya informasi yang sepotong-sepotong bahwa seluruh masyarakat dapat BLT Pemerintah, jelas ini turut memperkeruh suasana. Kaya miskin merasa terdampak, tetapi mesti dilihat dulu terdampaknya seperti apa.

Konon, BLT Provinsi malah ada pengusaha perikanan yang dapat juga. Setelah ditelusuri, yang bersangkutan punya 11 bagan, tapi saat dikonfirmasi perangkat nagari, ia hanya berucap, “Saya juga terdampak Pak.” (****)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *