Baca episode sebelumnya (3)

Catatan Ringan Dari Rusunawa Painan (3).. Alhamdulillah Hasil Swab Ambo NEGATIF COVID-19

Agus2

Catatan ringan kita dari Rusunawa Painan yang akan disuguhi sebagai sarapan pagi hari ini, apa ya?

O ya, kalau kemaren pada catatan episode ke 3 ambo mengabarkan bahwa ambo Alhamdulillah negatif hasil uji swabnya. Pagi ini ambo ingin mengabarkan kondisi si nyonya  besar.

Hj-HMDS

Sudah 6 hari kami di Rusunawa Painan, nyonya besar setiap hari nampak ceria, hanya sekali sekali batuk batuk, serasa ada yang menggelitik ditengah tengah pangkal lehernya. Apakah itu  pengaruh masih ada virus dikerongkongannya? Kalau ditanya ke ambo pastilah ambo tak akan dijamin bisa benar untuk menjawabnya.

Kemaren sore sekitar pukul 16:12 WIb seorng adik Nyonya besar yang sama diisolasi di Rusunawa Painan, menghampiri saya sambil mengatakan; “Uda bagaimana mengatakan ka Uni Hajjah, hasil swab beliau masih postif, kami semua sudah negatif.”

“A iyo biarlah uda yang mengatakan, ” ambo menjawab.

Tak lama kemudian si nyonya besar, datang sambil melenggng lenggok mengikuti irama lagu Amri Palu Goyang Poco Poco yang diputar saat pasien melakukan olahraga ringan di Rusunawa.

“Hajjah…., sinilah, ” kata ambo seraya merangkul bahunya.

Kebiasaan si Hajjah, mersa malu bila ambo merangkul bahunya atau melakukan seuatu yang kelihatan mesra. Si Hajjah malu jika dilihat orang saya  melakukan gerakan mesra terhadapnya.

Rangkulan tangan saya si bahunya dia elakkan. “Kama Uda, ” jawabnya.

“Ka ateh awak,” kata saya mksudnya ke ateh adalah lantai dua dimana ruangan kamar kami berada.

“Nantilah, bentar. Aku masih berkeringat, ” katanya.

“Okey lah disini saja lah ambo informasikan, bahwa hasil swab Hajjah yng diambil 2 hari yang lalu masih positif, ” jawab ambo singkat.

“Si Eli, isol, uda Jaf dan Adek bagaimana?” Si Hajjah bertanya, nama nama itu adalah saudara kami yang sama sama dirawat dan sadang menjalani perawatan di Rusunawa Painan.

“Semuanya negatif? ” Jawab saya.

“Nde…., tu aku sorang sajo tu yang postif? ”  kata si Nyonya Besar.

“Iyo, ” jawab ambo. Tapi ndak usah cemas.

Walupun saya katakan ndak usah camas, tapi kalimat itu tak akan mampu mebuat diri siyayank saya ini bisa merasa tak camas.

Kelihatan diwajahnya rasa cemas itu. Saya mencoba menampilkan wajah sebiasa mungkin.

Memang kebisaan saya jika terjadi sesuatu peristiwa sedih, saya selalu berusaha body language saya menampakkan gerakan yang wajar. Meskipun sesungguhnya hati saya hancur berderai-derai.

Saya sedih melihat si yayank saya wajahnya penuh kecemasan, kerna kalau dia saja lagi yang masih positif, tentu tak ada lagi keluarga yang lain menjalani masa perwatan dan isolasi.

Saya siap mendampingi  orang rumah saya selama dia diisolasi, meskipun saat ini saya sudah dipastikan tidak dalam tertular si Covid-19. Namun apakah Otoritas dan SOP dari perawatan/pengobatan so covid-19 boleh begitu?

Tentu saya berharap diperbolehkan, sebab saya rasa istri saya dia tidak akan menularkan virus itu. Kalau masih bisa menularkan, pastilah salama saya sakit lebih 20 hari,  virus yang sudah ada didalam tubuh istri saya itu  telah menular ke saya.

Bersambung……

Catatan; Foto diatas si yayank lagi mendengarkan taushiyah Ustad Abdul Somad…