Sebaiknya baca dulu episode sebelumnya (5) klik link dibawah ini.

Catatan Ringan Dari Rusunawa Painan (5) : Sepertinya Sebuah Kebanggaan bagi Bapak Ya..?

Agus2

Rusunawa, Painan, PilarbangsaNews, —

JUDUL tulisan episode ke 6 ini, bisa dinilai sedikit ado raso onggasnya (bangganya). Sebab saya tulis bahwa kami adalah pasien yang datang ke Rusunawa Painan secara mandiri.

Hj-HMDS

Sebenarnya bukan mandiri sih…., ( nde lah pake sih pula gaekko?) ada pak camat Batang Kapeh yang telp sebalumnya.

“Apak…., apak diantarkan yo ke Painan. Mobil sudah kami siapkan. Tinggal berangkat saja lagi. Jumlah rombongan apak barapa orang, ” Pak camat Batang Kapah, pak Wen telp saya.

Onde terimo kasih pak camat, apak samo ibuk dan ado sorang adiak ibuk. Biarlah apak dengan mobil pribadi sajo, ” jawab saya kepada pak camat yang cepat tanggap ini dalam bahasa daerah.

“Jadi apak ndak paralu kami hantarkan ke Rusunawa Painan?, ” tanya pak Camat.

“Biarlah indak pak Camat, ” jawab saya.

“Salain apak siapa lagi yang akan ke Painan, ” tanya pak Camat lagi.

“Ado…, uda Jap namo beliau, sudah itu adik urung rumah apak dan satu lagi anak dari Uda Jap, ” jawab saya dari balik telp seluler.

“Okey lah pak kalau begitu, tapi maaf yo pak awak tak bisa ikut mengantarkan  apak ke Painan hari ini, kebetulan ado tamu pula datang dari Painan, melihat kejadian pasca Banjir di Batang Kapeh, ” kata pak Camat lagi.

“Iyo ndak apa doh pak Camat. Lanjut pak Camat, ” jawab saya.

“Pak sebelum apak ke Rusunawa, apak ke RSUD Painan dulu ya. Untuk Ceking kesehatan. Tadi ambo sudah telp pak Direktur RSUD Painan. Kato beliau apak langsung sajo k UGD, setelah sampai laporkan bahwa apak dan rombongan orang yang terpapar covid19 dari Batang Kapah, ” kata Pak Camat lagi.

“Okey Pak Camat makasih perhatian nyo ya pak Camat, ” ucap saya sambil mengucapkan Assalamu’alaikum mengakhiri percakapan pertelephon  kami..

Setelah saya menerima telp dari pak Camat Batang Kapeh, yang dikenal bernama pak Wendra Revikto. Ambo telp pula bekas murid ambo di SPG Painan dulu. Namanya Rinaldi. Kini beliau menjabat  sebagai jurubicara Setdakab Pesisir Selatan sekaligus jurubicara Penanganan Covid-19 Pessel.

“Alaikumsalam WW, pak, ” Jawab Rinaldi dari balik selulernya diseberang sana setelah mengangkat panggilan selulernya saya. “Apo kaba pak,” lanjutnya bertanya.

“Begini Nal a, ibuk positif Covid19, apak belum jelas apakah ikut terpapar atau ndak. Bagaimana baiknya Nal? ” Saya minta pertimbangannya.

Isolasi sajo di Rusunawa pak, kalau di rumah isolasi pribadi boleh, tapi siapa yang akan menjaga ibu dan masak. Apalagi bapak kan hanya berdua saja di rumah ?” kata Rinaldi.

“Betul Nal, tapi apak bagaimana Nal? Apakah apak bisa ikut isolasi di Rusunawa?, ” pinta saya.

“Apakah bapak postif juga?, ” tanya Rinaldi.

“Belum jelas lagi nal, tadi baru apak Swab, ” kata saya menjelaskan.

“Okey pak, ambo koordinasikan dulu yo pak,” kata Rinaldi mengakhiri percakapan telp kami.

Tak lama setelah telp Rinaldi, saya telp pula Yuni Andra, KTU Dinas Kesehatan Pesisir Selatan. Tentu berharap bisa membantu kami bisa mendapatkan fasilitas perawatan/isolasi di Rusunawa Painan.

“Assalamu’alaikum WW ayah, apa kabar Yah?, ” tanya orang ke 2 di Dinas Kesehatan Pesisir Selatan itu.

“Ini ustadz a, Ibuk Hajjah ustadz dia terpapar covid19. Ayah belum pasti karena baru tadi diambil  swab nya. Lalu bagaimana sebaiknya ustadz?, ” kata saya menginformasikan kepada KTU Dinas Kesehatan yang saya panggil dengan panggilan ustadz sejak beliau mulai bekerja di Puskesmas Pasar Kuok, belasan tahun yang lalu.

“Okey…, ka Painan lah ayah, nanti Aan temani ayah, ” kata KTU Dinas Kesehatan Pessel yang baik hati itu.

“Okey ustadz, mksh…., ” jawab saya sambil menutup percakapan kami dengan ucapan Assalamu’alaikum WW….

Setelah saya telp Ustad Yuni Andra, saya SMS pula Anggota DPR-RI Buk Lisda. Saya mengabarkan pada beliau bahwa saya sudah 15 hari demam panas dan tak sebutirpun mau makan nasi. Selara makan patah, minum pun susah.

Kemudian saya kabarkan juga ke Bu Lisda, bahwa Ibu ( istri saya) terpapar covid-19.

“Capek dirawat saja ayah ibu itu, ayah juga sekalian ikut isolasi. Mana tahu ayah telah tertular dari ibu, ” kata istri Petahana Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni ini.

“Kalau dapat ayah satu tempat aja sama ibu, jangan pisah pisah, ” tulis SMS buk Lisda Rwanda.

“Okey makasih nak, assalamu’alaikum, ” saya akhiri pesan sms whatsapp kami.

Singkat cerita, kini kami telah sampai di Painan  dangan 2 rombongan mobil. Saya masih sempat dan masih kuat untuk stir sendiri meskipun sebelumnya selama 15 hari tak makan.

“Apakah uda masih kuat bawa mobil, kalau enggak kuat jangan  dipaksakan, ” saran si bebeb yang cemas melihat udanya bermuka pucat pasi.

” In sha Allah, Ambo masih kuat dan bisa, sebab  Ambo yang tahu kondisi tubuh Ambo bisa atau tidaknya, ” Jawab saya meyakinkan si bebeb.

Mendengar jawaban yang madar (bandel) si bebeb terpaksa diam dan ngikuti saja. Meskipun saat berada dimobil dia nampak selalu cemas kalau kalau tiba tiba udanya pusing saat menyetir mobil dari Batang Kapeh ke Painan.

Sesampainya  di RSUD Painan, saya telp Ustadz Yuni Andra, menginfokan kami sudah sampai di RSUD Painan.

“Tunggu ayah…, Aan segera ke sana, ” kata Aan dari balik selulernya.

Okey ayah tunggu. Hanya beberapa jurus kemudian Ustad Aan pun datang menemani kami…

Setelah  menjalani cek up kesehatan 6 orang diantaranya, kecuali saya tidak di cek up karena belum pasti terpapar covid-19. Kami baru diantar oleh KTU ke Rusunawa Painan.

Hari menjelang Magrib, ustadz minta izin untuk pulang kerumah.. Kami tak bisa bersalaman demi menjaga protokol kesehatan…

Lewat tulisan ini, ambo ingin mengucapkan Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu kami mendapatkan fasiltas perawatan di Rusunawa Painan….

Bersambung…….

Catatan: di foto ini penulis mengacungkan telunjuknya malambangkan angka satu dan diikuti oleh si bebeb, mengacungkan jempol, pilih nomor 1 untuk Hendrajoni Hamdanus…. In Sha Allah Pasti menang….., katanya