Alah bisa kerena biasa. Sebuah pribahasa yang bermakna perbuatan yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi; kalah kepandaian oleh latihan.

Ini berlaku bagi warga Rusunawa, yang biasanya tak pandai joget salama di Rusunawa jadi Pandai. Yang biasa malu bergoyang selama di Rusunawa hilang malunya.

Agus2

Saya punya nyonya besar itu, orangnya sangat pemalu.

Tulisan saya ini sering dia katakan  “sagalo nan ka dimasukkan dek uda ko, malu aku mah,” katanya agak kesal kalau ada tulisan saya yang dia anggap bisa bikin malu dirinya.

Hj-HMDS

Sudahlah ndak apa apa itu,” saya mencoba menetralisir rasa malunya.

Iyo namua uda, sadonya nan ka dimasukkan nyo, ” jawab masih ada sedikit rasa kesalnya.

Kalau sudah begitu saya diamin saja lagi. Dia pun akhirnya tak lagi berkicau bak Murai kesiangan. Ada yang tahu dengan  Murai? Kalau usianya 15 tahun kebawah mungkin sudah tidak tahu dengan burung ini. Satwa yang satu ini sudah menjadi satwa langka. Sekitar 15 tahun lalu di Batang Kapeh, burung Murai banyak beterbangan dari pohon ke pohon.

Pagi pagi subuh murai telah berkicau  sahut menyahut dengan kokok ayam sarta kicauan burung lainya.

Tapi sakarang kicauan Murai yang berbulu hitam dan putih dibagian sayapnya itu sudah tidak terdengar lagi. Burung Murai benar benar jadi satwa langka.

            oooOooo

Kembali kepada Rusunawa Painan, dua kali sehari kami senam dan berjemur.

Kenapa harus berjemur?

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia untuk berjemur badan di pagi hari, sebelum melakukan aktivitas yang lainnya. Apalagi, saat wabah virus corona baru saat ini, makin banyak orang yang melakoni kegiatan itu.

Soalnya, berjemur dan mendapatkan cahaya matahari pagi dipercaya membawa banyak manfaat bagi tubuh termasuk menambah imunitas. Itulah yang orang cari di tengah wabah virus corona.

Biasanya, banyak orang mulai keluar rumah dan berjemur pada jam tujuh pagi atau sebelum dan setelahnya, dengan pertimbangan sinar yang ada belum terlalu terik sehingga tidak menyengat di kulit. 

Namun, ternyata itu adalah waktu yang kurang tepat untuk berjemur. Pemahaman yang keliru ini justru disebut tidak akan banyak mendatangkan manfaat yang orang cari, sebaliknya risiko gangguan kesehatan malah bisa didapat. 

Dikutip dari media online KONTAN.CO.ID 
Ahli gizi komunitas dr. Tan Shot Yen mengungkapkan hal tersebut melalui sebuah video di akun YouTube-nya.

Menurut dia, waktu yang tepat untuk menjemur badan di bawah sinar matahari adalah sekitar pukul 10.00, bukan lebih pagi dari itu. 

“Yang kita butuhkan sebetulnya adalah ultraviolet B. Ultraviolet B ini gelombangnya lebih pendek. Itu sebabnya, kita harus tunggu sedikit mataharinya naik. Jadi, kita di khatulistiwa, jam 10 sudah ada. Itu adalah alasan kita jemurnya jam 10.00,” kata Tan.

Menurut Tan, dalam berjemur juga tidak perlu berlama-lama, cukup selama 15-20 menit, mengingat sinar matahari juga sudah cukup panas. Semakin banyak permukaan kulit yang terpapar sinar matahari di waktu ini, disebut Tan semakin baik pula hasilnnya. 

Untuk itu, Tan mengimbau, bagi perempuan yang mengenakan jilbab atau kerudung, jika ingin berjemur matahari sebaiknya dilakukan di rumah agar ultraviolet B yang mereka cari dapat secara langsung mengenai permukaan kulit. 

             oooOooo
  
Kembali kepada peribahasa, Alah bisa kerena biasa.

Si bebeb yang salama ini malu berjoget didepan orang, kini dia tak malu lagi. Karena dia harus berjoget untuk mengeluarkan keringatnya sambil berjemur meningkatkan imunitas tubuh yang merupakan salah satu program yang dilakukan Rumah Sakit dalam menangani Covid-19.

Bersambung….

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (29) ; Saya Dapat Anak, Mereka 2 orang Suster