.

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (34.A) ; Mantan Pasien Covid Tidak Bisa Menularkan dan Mereka Kebal

Rusunawa Painan, PilarbangsaNews, — Hari ini Selasa tanggal  (13/10/2020) jam di Handphone saya menunjukkan pukul 00:15 WIB. Beberapa menit sebelumnya saya terbangun, sejurus kemudian saya raih HP yang sengaja saya letakan dibawah difan tempat tidur.

Tadinya saya terlelap diperkirakan pukul 22;20 WIB. Biasa selama di Rusunawa, saya tidurnya bisa lebih awal. Namun tetap terbangun sekitaran pukul 00;00 s/d 01:00.

Itu masih mending lebih sehat tidur saya dibanding yang selama ini saya alami.

Malam semakin larut, di Rusunawa lantai 2 tempat kamar aku menginap,  sejuk dan terasa sepi, hanya nyanyian jangkrik yang ku dengar, gadget yang telah kuraih tadi, mulai ku gunakan untuk menulis Catatan ringan dari Rusunawa Painan episode ke 34

Pada episode ke 34 ini CRDRP masih menceritakan sekitar percakapan saya dengan Kepala Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand, Dr. dr. Andani Eka Putra, MSc. Percakapan pertelphon kami cukup lama durasinya lebih dari 15 menit.

Banyak informasi yang masih saya ragukan saya tanyakan pada beliau terkait Covid-19  dijawab dangan jelas dan tuntas.

“Prof…, di Rusunawa Painan itu aturannya, pasien baru boleh pulang setelah 10 hari mulai swab dengan hasil negatif pertama, kemudian dilakukan swab kedua hasil negatif dengan interval waktu 10 hari, ” kata saya menginformasikan aturan yang diberlakukan di Rusunawa Painan.

”Sebenarnya tidak persis harus seperti itu, kalau sudah keluar hasil swab kedua negatif,  pasien diperbolehkan saja lagi pulang. Kan  virusnya sudah habis, untuk apa ditahan,” katanya.

“Iya pula ya Prof. Bisa bisa lama di Rusunawa, kami yang sudah dinyatakan negatif ke 2 ini kembali terpapar dari teman yang masih belum negatif,” kata saya bertanya.

” Oo., bukan begitu uda. Untuk uda ketahui uda kini sudah bebas dari Covid 19. Anti bodi uda sudah kenal betul dengan bentuk si Covid, jadi kalau ada di Covid masuk, langsung diburu dan dibunuh sampai hancur tak satupun yang tersisa, ” kata Dr Andani penerima Indonesia Award Tahun 2020 kategori Tokoh Profesional dari salah satu TV swasta di Jakarta.

”Jadi uda ini sudah kebal  kalau begitu ya Prof, ” saya ulang lagi pertanyaan agar benar benar pasti dan yakin.

“Ya.. Iyalah, ” jawabnya.

“Prof…, uda kan sudah bersih dari Covid-19, apakah uda ini  masih bisa kemungkinan menularkan ke orng lain, ” tanya saya.

” Ya enggak la da. Kan uda sudah kebal. Jika ada COVID-19 yang mencoba masuk ke tubuh uda, anti body uda dengan sigapnya menyerang dan memusnahkannya. Jika bagitu masuk  lalu mati, bagaimana lagi dia akan berpindah ke inang yang lain, ” terang Andani.

“Prof…, di Riau dan beberapa dearah lainnya, jika hasil swab pasien  telah negatif pertama, sudah boleh pulang. Di Riau uda tanya langsung ke Ka Dinas Kesehatan Riau Mimi Yuliani Nazir, ” saya kembali bertanya.

”Untuk Sumbar memang tidak mengikuti Surat Keputusan  Menkes 413 revisi 5. Salah satu poin nya mengatur tantang tindakan uji swab ini, ” tanya saya.

“Untuk Sumbar memang tidak kita berlakukan SK Menkes 413 revisi 5, mengingat ratio angka  kematian akibat Covid 25% untuk pasien yang terpaparnya kategori sedang.  Kalau kita bandingkan dengan angka kematian akibat COvid-19 di daerah sumbar sacara keseluruhan mamang kita hanya baru sekitar 2% kalau saya tak salah, ” jawabnya…

“Apa boleh dan apa tidak salah kita beda dalam penanganan Covid-19 dengan SK Menkes itu?” tanya saya.

“Saya kira ndak ada salahnya jika Pemerintah Provinsi setempat merestui. Pak Gubernur mendukung keinginan saya. Dan kini saya sedang  menyiapkan draf Peraturan Gubernur. Untuk swab ini kita harus melihat kasus perkasus. Artinya jika pasiennya berasal dari zona dimana konsentrasi virusnya tinggi swab 2 x, tapi bagi daerah konsentrasi virusnya renang, swab pasien dukun sekali saja, ” ujarnya menjelaskan

Daerah lain memang beda dengan kita, Andani, kita di Sumbar masih tetap mengikuti rekomendasi  WHO
(World health Organization)
atau Organisasi Kesehatan Dunia.

Kembali pada aturan yang diberlakukan di Rusunawa Painan, saya teringat akan sebuah filosofi Minang ; Malabihi ancak-ancak, mengurangi sio-sio…

Pekerjaan yang mubazir ikhwanul syaitan,” hadist Nabi Muhammad SAW.

Bersambung….

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (33) ; Malam Ini Telphonan bersama Kapala Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *