CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (35) ; Datang Tak Diundang, Pulang Tak Bisa Dilarang

Rusunawa Painan, PilarbangsaNews, ++

Datang tak diundang, pulang tak bisa dilarang. Ini bukan kisah jin langkung. Istilah ini mungkin bisa untuk melabeli saya. Pasalnya ketika saya datang ke Rusunawa Painan, pada tanggal 24 September 2020, tidak diundang. Kedatangan saya untuk mendapatkan pelayanan medik karena terpapar Covid-19 atas kemauan sandiri.

Walaupun saya datang sebagai tamu tak diundang, namun oleh pemangku otoritas disana, saya tidak dibedakan  dengan pasien lainnya. Baik dalam hal jatah ransum makanan maupun  obat-obatan.

Di Rusunawa ini, saya dan mungkin  juga teman2 yang lain tidak merasa dirinya sedang menjalani  perawatan penyakit. Melainkan pasien yang ada merasakan sedang menikmati nginap di sebuah hotel berbintang.

Kemudian ketika pulang saya tak dilarang. Mau-maunya saya saja. Saya tidak patuh dengan  protap yang telah dibuat oleh Tim Penanganan Medik Covid-19 Pesisir Selatan yang di ketuai oleh dr Reyantis.

“Sesuai dengan protap, bapak mestinya dipulangkan pada hari Kamis, dihitung dari 10 hari setelah hasil swab negatif pertama, artinya setelah negatif pertama kami pantau selama 10 hari baru dipulangkan, namun bila bapak mau pulang boleh saja  melanjut disolasi mandiri nya. Kan sudah pernah saya jelaskan via telp pada bapak, ” kata dr Reyantis ketika saya mangajukan usulan ingin pulang saja.

Saya lebih memilih pulang hari ini dari menunggu sampai Kamis 15/10/2020, menurut saya untuk apa gunanya harus menunggu padahal berdasarkan hasil swab yang terakhir saya telah  negatif 2 x berturut-turut.

Jadi tak ada gunanya saya harus lama lama di Rusunawa. Dan saya pun sudah meminta informasi kepada Kepala Laboratorium Unand Padang  Dr dr Andani Eka Putra M.Sc. bahwa jika pasien sudah di swab 2 kali, dan hasilnya negatif berturut-turut, segera dipulangkan. Tak perlu ditahan lagi.

Okey lah tak usah kita bahas lagi lebih lanjut, saya takut dimarahin anak saya.

Anda ingin tahu siapa anak saya?

Dia adalah dr Reyantis yang tetap bersikukuh menegakkan aturan yang telah dia buat bersama anggota tim. Anak saya ini konsistensinya tak tergoyahkan.

Jangan  coba coba bicara maksa dia. Dia tak akan  bergeming.

Namun walaupun begitu tadi pagi, hatinya luluh setelah saya mencoba mengetuk emosionalnya. Saya minta dia kalau memanggil bukan dengan pak, tapi panggil lah saya dengan sapaan ayah.

“Saya katakan Lisda Rawdha beliau berayah ke saya, apakah dokter keberatan manggil saya ayh, ” tanya saya.

“Tidak keberatan pak. Iya Pak saya manggil ayah, ” jawabnya

Alhamdulillah kalau hari kemarin saya dapat anak angkat 2 suster, hari ini ambo mendapat  seorang anak nan bertitel dokter yang kini bertugas di RSUD Painan.

Tadi sebelum saya pulang meninggalkan komplek Rusunawa, saat saya berdiri di halaman komplek tersebut datang seorng wanita cantik berbaju seragam.

Setelah wanita cantik itu berjarak 2 dari tempat saya berdiri, dia bertanya dengan senyuman ramah; ”bapak bernama Yuharzi, ”

“Betul Uni. Uni yang ber nama Yoshi?, ” saya balik bertanya.

“Bukan pak, Yoshi didalam sambil menunjukan arah kamar khusus tenaga supervisor Tim penanganan medik Covid-19. Saya Mori pak, ” ucapnya.

Oh ya sampai kan salam maaf saya tadi saya sempat menyinggung perasaannya.

” Nanti saya sampaikan pak, ” katanya.

“Jadi bapak kapan pingin pulang? “

Kok dapek kini ko apak pulang,” saya mnjawab.

Kalau Iyo lapor beko ka pak pol PP yo pak, ” kata Mori.

”Alhamdulillah. Makasih ya ananda Mori, ” ucap saya  dengan sikap dua telapak tangan berada sejajar didada meniru salam orang India.

Udah dulu ya pembaca, dari jauh terdengar sayup gema suara adzan dari Masjid Baitul Makmur Pasar Kuok, tanda waktu sholat Ashar telah masuk….

Bersambung…

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (34.A) ; Mantan Pasien Covid Tidak Bisa Menularkan dan Mereka Kebal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *