Rusunawa Painan, PilarbangsaNews, — Cerita kita hari ini Rabu tanggal tanggal 14 Oktober 2020 masih seputar percakapan pertelphon saya bersama Kepala Laboratorium Unand Padang Dr dr Andani Eka Putra, M.Sc.

Kalau biasanya saya menulis CRDRP ini diatas difan Rusunawa Painan, untuk episode ini sampai tamat nanti, saya tulis dibilik pondok saya di Batang Kapeh.

Agus2

Ada yang bertanya enggak?, kapan saya sudah pulang dari Rusunawa Painan?

Kalau ada, berarti pembaca yang baik hati, tidak mengikuti episode sebelum.

Hj-HMDS

Sekarang kita kembali pada lanjutan ngobrol saya dengan Dr Andani, pembicaraan lama lama menjadi berat dan tak bisa lagi dikatakan ringan.

Kami mulai bicara tentang beberapa dampak akibat  infeksi virus corona Covid-19 yang mulai ada pada awal Maret 2020. Sejak itu, berbagai upaya penanggulangan dilakukan pemerintah untuk meredam dampak dari pandemi Covid-19 di berbagai sektor.

Hampir seluruh sektor terdampak, tak hanya kesehatan. Sektor ekonomi juga mengalami dampak serius akibat pandemi virus corona.

Pembatasan aktivitas masyarakat berpengaruh pada aktivitas bisnis yang kemudian berimbas pada perekonomian. 

Dari hasil perbincangan saya dengannya, ada rasa kecemasannya terhadap pandemi kapan akan berakhir, sementara jumlah penderita terus bertambah begitu juga jumlah korban yang meninggal dunia akibat Covid-19 masih tetap saja ada.

Untuk mengurangi dampak buruk dari pandemi Covid -19, anak rang Tarusan Pesisir Selatan,  ingin mewujudkan obsesinya, bikin Nagari Tageh.

Nagari Tageh adalah nagari yang kuat. Tageh itu sama Kuat artinya.

“Uda…., kalau uda setuju, ambo ingin ada di Sumatera Barat ini NAGARI TAGEH. Misalnya uda kan di Batang Kapeh, kita beri semua aparat perangkat nagari mulai dari wali nagari sampai kepada wali jorong dan Bamus Nagari pengetahuan terkait Covid-19 ini,” kata Andani.

Lanjut Andani, dia mensinyalir  masih banyak  warga nagari yang tidak percaya dengan  Covid-19 ini.

“Jadi kalau kita beri pengetahuan dan pemahaman wali nagarinya beserta para ulama /cerdikpandai. Mereka diharapkan dapat menjelaskan kepada masyarakat bahwa Covid-19 itu ada, perlu pakai masker. Jadi dengan demikian akan terciptalah Nagari Tageh yang saya maksud diatas, ” papar anak tertua dari 5 saudara ini.

Sehingga, kata Andani labih lanjut lagi, pada akhirnya  pemerintahan nagari bisa membuat  pernag (Peraturan Nagari) dan didalam pernag itu dapat dicantumkan wajib memakai masker. Kalau tak pakai masker  didenda misalnya setengah sak Semen.

Jadi pemahaman inilah yang mesti kita bangun di masyarakat kita uda.

Ada kasus terjadi baru baru, pada awalnya disarankan dilakukan uji swab tapi pihak keluarga monolak . Tapi apa yang terjadi belakang, pasien itu meninggal dunia. Seluruh keluarga terkonfirmasi positif Covid-19. Dan yang lebih memprihatinkan lagi menyusul keluarga yang lainnya meninggal akibat terpapar Covid-19

“Wah kalau begitu, terkait Nagari Tageh  itu uda sangat setuju,” kata saya merespon. Kemudian saya lanjutan bertanya tentang penggunaan masker kain yang dibuat sandiri oleh masyarakat. Apakah itu bisa mengurangi pemakainya dari terinfeksi?

“Saya kira tidak masalahnya jika masyarakat pakai masker buatan sendiri. Yang penting mereka pakai masker. Ya ndak mungkin lah masyarakat kita dipaksa pakai masker yang dibeli dengan harga Rp5.000, –
Uang segitu cukup besar bagi mayoritas masyarakat kita, uda ” ujarnya….

Bersambung….

Catatan; diatas adalah foto Andani kiri dan saya sebelah kanan.

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (34B); Selektif Menggunakan Obat Herbal, Obat Covid-19 Masih Uji Klinis