Oleh ; YY

Batang Kapeh, PilarbangsaNews, +++

Agus2

Ada yang menyindir mengatakan dia sebagai Doyok, ada yang mengatakan sebagai tukang sawer. Berbagai label yang buruk dan busuk mereka unjukkan oleh pembenci Hendrajoni lewat akun Facebook.

Si pembenci itu berharap bully-an itu bisa terbaca oleh yang bersangkutan.
Dan ternyata upaya menjatuhkan mental Hendrajoni tak berhasil sebagai mana diharapkan, karena tak
satupun yang direspon oleh mak Datuak Bandobasau ini.

Hj-HMDS

Dibilang tak punya FB ada. Namanya bisa dicari di jejaring sosial Facebook. Tapi itu hanya sekedar namnya saja, yang menjalankan bukanlah Hendrajoni.

Dia tak membaca ocehan serta hinaan yang dinarasikan oleh pembencinya lewat jejaring sosial itu.

Sebab dia tak tak pandai buka – buka Facebook seperti kita kita ini, yang selalu eksis di jejaring sosial. Tanpa mau berhenti sekejap pun.

Kini anda sebut Hendrajoni Mirip dengan Doyok. Kalau benar kanapa dengan doyok? Apakah tampang doyok jelek? Menurut saya Doyok cukup ganteng sebagai seorng komidian.

Terus apakah Hendrajoni tidak ganteng. Kalau bukan seorang lelaki yang terbilang ganteng mana mungkin Lisda Rhawda mau dilamar jadi istrinya.

Lisda Rhawda mantan kru pesawat Garuda itu masa gadis pastilah lebih syantik dari sekarang. Sekarang saja bunga Lisda cantik apalagi dulu.

Kemudian ada pula yang mengatakan dia tukang sawer. sering bagi duit disaat ada biduanita lokal menyanyi lagu yang bikin orang ingin bergoyang. Hendrajoni sedang berada disana. Lantas kemudian Hendrajoni mencabut dompet dalam sakunya, dan membagi-bagi uang kepada warga yang ada disana. Aksinya seperti itu anda sebut dia raja sawer?

Terserah anda saja lah untuk bicara sepuas isi perut anda.

Saya  hanya ingin mengatakan anda yang menyerang Hendrajoni sebenarnya telah menyerah kalah dan yakin junjungannya tak mampu memenangkan pertandingan ini nantinya.

Dalam politik kan begitu mainya, jika sudah tak mampu melawan, serang pribadinya.

Saya tertarik dengan status Facebook Fadel Havana yang dia unggah pada Hari Senin kemaren. Berikut ini narasinya;

Bukan Kaleng-kaleng

Saya ingin menulis tentang Hendra Joni murni dari sisi profesionalitas. Dalam hal ini, tak bisa dipungkiri beliau kompeten dan punya integritas, pembangunan merata. Infrastruktur dibuka di setiap pelosok

Tapi di balik dua karakter itu, HJ punya kelebihan lain yaitu nyali. Nyali rajawali, yang selalu siap mendobrak ketidakberesan di sekitarnya, siapapun itu. Dalam konteks inilah saya melihat kenapa beliau layak di percaya 1 periode lagi

Nampaknya semua faktor itu memang sudah jadi semacam “Paket” kepribadiannya : integritas, kompetensi, nyali, blak-blakan. Dia tetap menjadi buldoser, seperti dulu. Tak ada yang berubah.