CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (37), Dr Andani; Kematian Memang Ajal, Tapi Pasien Covid-19 Meninggal Ada Akibat Ketakutan Yang Berkelebihan

Rusunawa Painan, PilarbangsaNews, — Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh ke 3 cewek yang di Rusunawa itu seperti yang telah saya uraikan pada episode 36; jangan terlalu cemas menghadapi Covid-19. Enjoy sajalah.

Memang saya ketika mendapat informasi bahwa terkomfirmasi positif, awalnya tentu ada rasa cemas. Tapi  rasa cemas itu hilang setelah saya berselancar dengan tulisan saya. Bagi saya menulis atau aktif di dunia jurnalistik, sangatlah mengasyikan. Saking asyiknya kadang menghilangkan rasa lapar dan kantuk disaat kita harus mengerjakan tuntas sebuah berita.


Kini jabatan saya di media PilarbangsaNews selain pendiri juga redaktur Pelaksana.

Sesuai dengan  mekanisme tugas yang berlaku di media kami, Redaktur Pelaksana itu tugas menerima dan merevisi copy berita dari wartawan didaerah untuk dimuat/diposting.

Kembali ke awal episode 37 ini,  Ada benarnya juga yang dikatakan ke 3 cewek yang di Rusunawa; jangan terlalu cemas menghapi Covid-19. Enjoy sajalah.

Yang membuat kita sakit itu adalah efek dari rasa cemas yang berkelebihan.


Kepala Laboratorium Unand Padang, Dr dr Andani Eka Putra M.Sc pun membenarkan hal itu.

”Uda walaupun sempat di isolasi 18 hari, tapi Uda sembuh. Itu menandakan Uda enjoy saja ketika tahu diri Uda terpapar Covid-19 ” ujarnya.

“Beda dengan teman saya seorang dosen sayang dia meninggal akibat terlalu cemas. Ya kalau kita nilai dari sisi religius (Agama) itu adalah ajal dan bahwa setiap kematian pasti ada penyebabnya, ” kata Andani saat telpnan saya 2 hari yang lalu.

Berikut transkrip wawancara saya bersama Dr dr Andani Eka Putra M. Sc;

YY: Apa yang bikin kasus Covid-19 menghantui masyarakat dunia? Beratnya itu dimana kira-kira, Prof?

AEP : Sebab pasien yang positif ini, partama dia masuak RS  stres mulai merayapi pikiran nya. Bayangannya adalah kematian saja. Jadi stres/physikis yang labih dominant, Da

YY : Uda kemarin enjoy saja  prof. Cuma sebelumnya Uda sempat demam salama 14 hari. Uni (maksudnya my Wife) pada hari pertama uda demam, dia ikut tes swab . Misalnyo hari ini Uni di Swab dan Uda hari tu pun damam sampai 14 hari kedepannya. Pas hasil tes Uni  kaluar, Positif, Uda pun takut  Prof apakah sudah terpapar soalnya selama uda sakit, Uni yang merawat. Kami tidur tetap seranjang. Mengingat hal itu akhirnyo Uda pun ikut di tes swab.

Uni di isolasi, Uda minta di isolasi di Rusunawa  sebab uda adalah orang yng kontak langsung dengan orang yang postif. Uda minta ke otoritas untuk sekamar sama Uni dan Alhamdulillah  dikabulkan.

Nah, setelah masuak ka rusunawa kaluar  pula lah hasil tes swab Uda yang diambil puskesmas Pasar Kuok keluar dengan hasil Negatif

AEP : Terus bagaiman lagi ceritanya, Da?

YY : Prof, di rusunawa ini saya satu kamar dengan istri. Dan ini analisa saya saja ya Prof kalau saya terpapar covid-19 ini dari sajadah untuk sholat. Mengapa saya berkata demikian? Karena sajadah itu sehari-hari dipakai istri saya untuk sholat dan disini pun saya ikut menggunakan sajadah itu. Nah, sebelum istri saya terpapar, kan lebih dahulu kakaknya kemudian disusul adik dari istri saya. Kalau sekarang Kakak dan Adik istri saya telah dinyatakan negatif dan sekarang sudah di rumah. Jadi perkiraan saya virus ini bersemayam di sajadah  itu. Tapi sekarang Sajadah digunakan.

AEP : Ya, bisa jadi dari situ dapatnya Da. Karena virus ini makhluk tak tampak hanya dengan mata telanjang.

YY : Prof, terkait tes swab yang dilakukan di laboratorium UNAND. Kira-kira berapa persen tingkat akurasinya Prof?

AEP : Jadi seperti ini Uda. Untuk hasil lab atas tes swab yang dilakukan terhadap orang yang mempunyai gejala Covid-19, itu tingkat akurasinya di angka 85%. Kalau yang bersangkutan dinyatakan negatif. Tapi kalau untuk kasus positif, hampir 95-99% sudah benar dan akurat Da. Maka dari itu WHO menganjurkan agar tes swab itu dilakukan 2 kali.

YY : Begitu ya Prof. Tapi di Pekanbaru/ Jakarta mungkin dikarenakan pasiennya banyak makanya tes swabnya sekali saja Prof?

AEP : Di Pekanbaru testingnya kecil Uda. Jadi tidak bisa banyak melakukan tes. Di Pekanbaru kan banyak mahasiswa saya jadi saya selalu dikabari perkembangan kasus covid-19 disana atau meminta suatu penjelasan terkait covid-19 yang mereka ragu untuk bertindak.

YY : Ooo gitu

AEP : Ya. Begitu kira-kira gambaran dari kondisi kita saat ini Da. Makanya saya sangat menganjurkan agar tes swab itu 2 kali dilakukan. Sekarang Gubernur sedang merampungkan SK Gubernur terkait keharusan 2 kali tes swab bagi orang-orang yang kontak erat dengan pasien positif. Dan penunjang Keputusan Gubernur itu, kapasitas lab kita sangat siap dan sangat memadai, Da.

Saya pribadi bisa memeriksa lima ribu hasil tes dalam sehari. Dan sejak beberapa bulan lalu, lab kita dalam hal pemeriksaan hasil tes itu sudah di angka 8% dari pemeriksaan nasional.

YY : 8 % dari pemeriksaan Nasional ya Prof. Nah, DKI Jakarta bagaimana kira-kira kemampuannya Prof?

AEP : Wahh DKI Jakarta itu lab nya banyak, Da. Jadi belum bisa kita samakan dengan Sumatera Barat yang baru memiliki 2 atau 3 lab. Tetapi dengan persentase itu kita sudah baik dan hebat Uda. Sekarang tinggal lagi bagaimana dukungan penuh dari pemerintah. Dan ditambah dengan bagaimana agar setiap kita bisa mengedukasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat terutama kepada mereka yang tak paham dengan penularan serta bahaya corona/ covid-19 ini Uda.

Bersambung……

Catatan; foto unggulan kami ambil dari Gatra.com

Baca juga:

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (36), Ngobrol 3 Cewek Cantik; Jangan Terlalu Takut Dengan Covid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *