Batang Kapeh, PilarbangsaNews,—

Malam Sabtu petang Jum’at tanggal (16/10/2020) telp seluler saya berdering tanda ada telp yang masuk. Saya angkat HP saya itu dari seberang sana yang nelp seorang wanita, dia petugas kesehatan.

Agus2

“Apa kabar, ” tanya saya setelah salamnya saya jawab.

“Apakah saya mengganggu pak,” tanya dia.

Hj-HMDS

‘Ndak…., ‘‘ kata saya.

Awak ingin curhat ke pak YY ” kata dia.

“Silahkan…., ambo simak yo, ” jawab saya.

Mulailah dia bercerita. Dia mengatakan; Masih banyak masyarakat di Pesisir Selatan maupun di Sumbar, keberatan diambil spesimen untuk dilakukan  tes swab.  Keberatan itu antara lain disebabkan, masih banyak yang tidak/belum percaya Covid itu ada. Yang lebih membuat kami orang kesehatan ini bertambah miris lagi adalah ada yang menuduh rumah sakit suka mengcovidkan pasiennya yang meninggal.

Kalau semua mayarakat di Sumbar ini bersedia diambil spesimennya, saya kira akan banyak lagi yang terkonfirmasi Covid-19. Sumbar yang pernah berada pada angka terkonfirmasi mencapai 676 di hari Jum’at (16/10/2020) dimungkinkan bisa mencapai diangka seribuan lebih. Menurut dia terjadinya penambahan kasus positif covid-19 di Pesisir Selatan, disebabkan masih rendahnya tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat akan Covid-19.

“Per hari ini Pak YY, kita sudah periksa hampir 500 hasil tes swab dan 350 diantaranya sudah keluar . Nah, ternyata dari hasil pemeriksaan yang positif itu berasal dari kasus PDP ( Pasien dalam Pengawasan) Pak”. katanya.

“Kemudian sehari yang lalu di Nagari yang berinisial L, ada kakak beradik yang meninggal dunia dan itu ternyata positif. Kemudian tetangganya  demam dan ada keluhan tapi tak mau ke Rumah Sakit dan diambil spesimennya”. kata petugas kesehatan itu cemas

“Besok Pak Saya akan ke salah satu Puskesmas guna melakukan Tes Swab hasil dari tracking yang kita lakukan. Tentu kita cek kesiapan Puskesmas dan kita akan cek juga berapa orang yang positif. Terutama yang kontak berat dengan pasien positif yang meninggal positif covid-19 Alm berinisial M”. tambahnya.

Dan ternyata memang benar jika seseorang sudah kontak berat dengan pasien positif besar kemungkinan akan terpapar virus ini. Maka WHO pun menganjurkan masyarakat untuk tes swab jikalau merasakan gejala seperti sesak nafas, batuk maupun demam. Akan tetapi masih banyak dari masyarakat yang tak mau melakukan tes swab apalagi jikalau mereka terbukti melakukan kontak berat dengan pasien positif.

Kalau mereka yang tak mau diuji Swabnya. Kalau ternyata dia positif mereka berinteraksi bersama teman, keluarga tanpa 3M. Apa yang akan terjadi?

Dia akan menularkan Covid itu pada teman atau kelurga. Jika teman itu memiliki penyakit bawaan disinilh kita tahu ada resikonya.

Hal ini pun juga dikeluhkan oleh petugas yang curhat pada saya. Petugas itu memang sehari-hari berjibaku melaksanakan pemeriksaan hasil Tes Swab.

“Untuk kasus ini banyak Pak. Seperti yang di Nagari T itu. Sudah sangat jelas dari hasil Tes Swab bahwa Suami/ Ayah mereka positif tetapi mereka tidak mau tes swab karena mereka tidak percaya akan korona/ covid-19 ini Pak. Padahal potensi mereka terpapar itu tinggi loh Pak karena selama sakit mereka yang merawat beliau secara langsung tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri”.

“Bahkan yang lebih sedih itu adalah ketika kami sudah turun ke masyarakat termasuk Kepala Dinas Kesehatan Pesisir Selatan untuk melakukan tracking tetap saja mereka tidak mau di swab. Malahan kami dianggap membawa berita bohong atau hoax. Karena menurut mereka korona itu tidak ada. Dan yang mereka pahami meninggal itu karena sakit”.

“Lalu Pak, kami juga diserang dengan isu bahwa Perihal Rumah Sakit seenaknya meng-covid-kan orang yang meninggal supaya Tenaga Kesehatan ataupun Rumah Sakit dapat Insentif berupa Uang dari Negara. Namun kenyataannya sampai hari ini kami belum dapat insentif seperti yang disebutkan masyarakat yang nilainya sampai 40Juta”.

Setiap pasien yang masuk ke Rumah Sakit kemudian meninggal dunia sebelum diketahui hasil swab sesuai SK Menkes penanganan pasien yang meninggal dunia itu memang disamakan  penerapan penanganan jenazahnya dengan pasien meninggal akibat Covid-19.

“Hal itu diterapkan dalam rangka kehati-hatian saja. Sebab bagaimana kalau benar-benar telah tertular, si petugas akan ikut terpapar pula dan juga beresiko terhadap keluarga dan masyarakat lainnya, ” kata dia.

Menurut dia insentif untuk puskesmas itu tidak ada hubungannya dengan pasien positif covid-19. Insentif yang didapat puskesmas itu sebagai tambahan karena pekerjaan tambahan yang tidak ada dalam tugas pokok yang diberikan oleh pemerintah. Kasus virus covid-19 ini kan tidak ada dalam uraian kerja tenaga kesehatan sebenarnya. Penanganan Covid, lebih sabagai pengabdian dan tanggung jawab sosial.

Jadi pemberian penghargaan berupa insentif kepada tenaga Puskesmas atau Rumah Sakit atau Tenaga kesehatan itu wajar mengingat besarnya resiko yang harus mereka hadapi dilapangan. Mereka mengorbankan waktu dan tenaga untuk menangani dan mencegah virus ini agar tak lebih meluas penyebarannya.

Peran semua pihak terutama media massa meanstrem dan jejaring sosial diharapakan
dapat mengedukasi masyarakat tentang bahaya nyata virus covid-19 ini sangat lah diperlukan.

Bapak YY orang media, bagaimana kalau agak satu hari saja kita sama sama mengatakan bahwa Covid-19 itu ada, mungkin disitulah orang akan percaya Covid itu ada. Mungkin disaat itulah masyarakat akan mematuhi protokol kesehatan covid-19.

Sehingga dengan demikian pola pikir dan pola pandang masyarakat yang menganggap Covid-19 ini sebagai sebuah kebohongan atau hoax akan berubah dengan sendirinya. (****)

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (41), Sarung Kasur Tak Diganti, Novermal Yuska; Bisa Cilaka itu