Bukittinggi – Rasa empati dan solidaritas terus berdatangan dari berbagai pihak terkait
penganiayaan prajurit TNI AD anggota Kodim 0304/Agam yang dilakukan oleh rombongan Klub Motor Gede (MoGe) pada Jum’at 30 Oktober lalu.

Ketua Harian Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sekaligus Ketua LKAAM Kabupaten Agam Inyiak H.Yul Arnie Dt. Maleka Nan Tinggi pada Jum’at (06/10) kemarin mendatangi Makodim 0304/Agam untuk menjenguk dan melihat langsung kondisi anggota tersebut.

Agus 2

Sesampainya di Makodim, Ketua harian LKAAM Sumbar diterima langsung oleh Komandan Kodim (Dandim) 0304/Agam Letkol. Arh. Yosip Brozti Dadi, S.E., M.Tr (Han) seraya menjelaskan kronologis sebenarnya kejadian itu terjadi.

Dalam penyampaian Dandim Yosip, menyebutkan bahwasanya pada saat itu kedua prajurit TNI AD Kodim 0304/Agam menggunakan kendaraan bermotor roda Honda Beat nomor polisi BA 2556 melalui Jalan DR Hamka Kota Bukit Tinggi berdua secara berboncengan sedang berada diruas jalan yang dilalui oleh rombongan MoGe tersebut.

Hj-HMDS

Bersamaan waktunya dengan arah yang searah menyusul rombongan pengendara MoGe diketahui dari komunitas HOG yang terlepas dari rombongan inti, sehingga mereka terlihat terburu-buru untuk mengejar ketertinggalan dari rombongan inti.

Pada saat rombongan MoGe akan menyusul teman-teman tersebut bermula pertikaian terjadi, sikap dan etika yang kurang sopan dalam berkendaraan di jalan ditunjukkan oleh rombongan tersebut dengan memainkan irama gas motornya sehingga sebagian menjadi perhatian oleh masyarakat disekitarnya.

Ditempat yang sama tersebut, prajurit TNI AD Serda M.Yusuf dan Serda Mustari dengan menggunakan sepeda motornya sempat terkejut mendengar suara gas MoGe diluar batas kewajaran, sehingga mengakibatkan kedua anggota Kodim 0304/Agam ini berjalan menepi sampai dengan keluar jalan (berada di bahu jalan).

Melihat perilaku yang tidak wajar tadi maka kedua orang anggota TNI AD tersebut berniat menegur dan mengejar rombongan MoGe serta memberhentikannya dengan cara memotong salah satu peserta rombongan moge tepatnya di Simpang Tarok Kota Bukit Tinggi.

“Tidak terima dengan perlakuan kedua prajurit TNI AD tersebut, rombongan MoGe marah-marah dan langsung melakukan tindakan pemukulan secara bersama (pengeroyokan) terhadap Serda M.Yusuf dan Serda Mustari yang disaksikan oleh masyarakat umum,” urai Dandim Yosip.

Mendengarkan paparan dari Dandim tersebut, Ketua Harian LKAAM Provinsi Sumbar/Ketua LKAAM Kabupaten Agam Inyiak H.Yul Arnie Dt. Maleka Nan Tinggi sangat menyayangkan dengan kejadian tersebut.

“Kita sangat prihatin atas peristiwa ini, kok masih ada aksi main pukul dan main hakim sendiri, padahal negara Indonesia kita sudah merdeka 75 tahun yang lalu. Hal ini perlu menjadi renungan bagi kita semua, khususnya bagi orang tua yang memiliki anak generasi penerus bangsa agar lebih memberikan ilmu pengetahuan yang berlandaskan iman dan takwa,” ujar Inyiak Yul sembari mengatakan sebagai pengguna jalan agar dapat menunjukkan etika berkendaraan kepada siapapun.

Dalam mempererat rasa silaturahmi dan kekeluargaan, dihari yang sama LKAAM Sumbar dengan Kodim 0304/Agam melaksanakan penandatanganan kesepakatan (MoU) tentang kerjasama dalam menjaga teritorial di wilayah Kabupaten Agam.

“Selain MoU ini, kita juga akan terus mensosialisasikan pemahaman Empat Pilar Kebangsaan kepada seluruh masyarakat di Provinsi Sumatera Barat dalam menjaga persatuan dan kesatuan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini,” urainya.

Untuk diketahui, lahirnya LKAAM di wilayah Sumatera Barat pada tanggal 18 Maret 1966 silam diprakarsai oleh Panglima Kodam III 17 Agustus, bertekad akan terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Agar hal ini tidak terulang dikemudian hari, kami atas nama LKAAM Sumbar akan menyampaikan masukan kepada pemerintah provinsi, untuk meminta apabila terdapat rombongan Motor Gede melewati Sumatera Barat agar sebelumnya terlebih dahulu mendapatkan izin dari pemerintah demi menjaga ketertiban bersama,” tegas Ketua Harian LKAAM Sumbar.

“Di Minang Kabau ada petuah dari nenek moyang kita untuk bisa dijaga bersama, Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjung. Disitu aia disauk, disitu ranting dipatah. Bakato bana, bajalan luruih bakato dibawah bawah, manyauk dihilia hilia. Lamak diawak, katuju dek urang bilo indak dilakukan nan baitu. Tunggulah azab dari tuhan. Kaateh indak ba pucuak, kabawah indak ba urek. Ditangan digital kumbang. Hidup swgan mati indak amuah indak juo berobat ditembak patuhi tungga ditanggah hari. Itulah sumpah sakti minang Kabau sampai hari kiamat nantinya, hal ini merupakan keistimewaannya alam minang Kabau,” tutup Inyiak H.Yul Arnie Dt. Maleka Nan Tinggi. *(Mirza)