.

Pasar Ekraf di Payakumbuh, Promo Seni Tradisi dan Kuliner Ditengah Pandemi

Payakumbuh, PilarbangsaNews

Payakumbuh termasuk kota yang beruntung mendapatkan dukungan dari Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat untuk mempromosikan pariwisatanya di tengah pendemi Covid-19. Payakumbuh hanya dapat meraup Pendapatan Asli Daerah sebesar 20 persen pada tahun 2020 di bidang pariwisatanya.

Sektor Pariwisata didorong oleh Pemerintah Pusat agar dapat memulihkan kondisi perekonomian masyarakat yang kian terpuruk akibat pandemi Covid-19. Dinas-dinas dituntut agar dapat melaksanakan kegiatan ekonomi kreatif dengan catatan tetap menjadikan protokol kesehatan sebagai panglima dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini melalui adaptasi dengan kebiasaan baru.

Kita tidak bisa memilih apakah antara kesehatan atau ekonomi. Jawabannya tentu keduanya untuk mengembalikan roda perekonomian masyarakat dan terhindar dari wabah yang sedang melanda negeri ini. Untuk itu setiap sektor dituntut untuk melakukan aktivitas yang kreatif dan inovatif.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumbar Novrial kepada media, belum lama ini mengatakan, Pemprov Sumbar menggelar Festival Ekraf di Kota Payakumbuh yang bersumber dari dana APBD Provinsi Sumbar, hasil reformat anggaran-anggaran penyelenggaran ekonomi kreatif yang awalnya akan diadakan secara konvensional sebagaimana biasa.

“Penyelenggaran Festival Ekraf diubah polanya dengan tambahan mengedepankan protokol kesehatan, namun tanpa penonton. Karena yang akan kita tuju sebetulnya adalah konten-konten promosi berupa campuran aktifitas ekraf dengan objek wisata ikonik,” ujarnya.

Di Payakumbuh, Pasar Ekraf digelar dari tanggal 14 November hingga 13 Desember 2020 di Agam Jua Art and Culture Cafe dan pelaksana kegiatan tersebut adalah komunitas atau organisasi masyarakat (Ormas) Masyarakat Peduli Seni dan Budaya (MPSB) Kota Payakumbuh.

Sebenarnya tidak banyak daerah yang bisa mendapatkan kesempatan emas seperti ini, karena rasanya akan sulit menggelar kegiatan Pasar Ekraf di tengah pandemi Covid-19, mengondisikan penonton terbatas yang hadir, mengonsep acara, hingga bagaimana promosi wisata dan budaya dapat terlaksana dengan baik.

Namun, Masyarakat Peduli Seni dan Budaya (MPSB) Kota Payakumbuh berhasil mengajukan proposal yang dapat memenuhi permintaan Pemprov Sumbar. Konsep acara tersebut menghadirkan pelaku seni gamaik se Sumatera Barat, pelaku seni tradisi se Luak Limopuluah, dan pelaku kuliner tradisional Minang dari 10 nagari di Payakumbuh.

Ketua MPSB Afrizal didampingi Ketua Pelaksana Deni Rianto alias Deni Rao didampingi Sekretaris Muhammad Farhan, saat diwawancara wartawan mengatakan, acara ini dikonsep agar mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Konsep pasar ekonomi kreatif ini adalah bagaimana mempromosikan kuliner tradisi dan kesenian tradisi Minangkabau yang ada di tengah pandemi Covid-19.

“Tetap bisa menampilkan hiburan masyarakat seperti seni gamaik yang penampilnya langsung didatangkan perwakilan kelompok seni se Sumatera Barat. Ada lagi pertunjukan saluang, randai, dan tari-tarian minang ditambah dengan disediakan booth makanan tradisional terdiri dari 10 kenagarian di Kota Payakumbuh. Seluruh kuliner yang disediakan gratis bagi pengunjung,” kata Deni Rao.

Rundown acara pasar Ekraf ini bagaimana di hari Senin, Selasa dan Rabu akan tampil penampilan seni gamaik, sementara itu di hari Kamis acara libur dan di hari Jumat tampil kembali seni tradisi.

Kemudian panitia menyiapkan kembali pada akhir pekannya di hari Sabtu dan Minggu untuk gelaran produk makanan dan kuliner tradisional dengan diselingi hiburan seni tradisi yang ada di Luak Limopuluah.

Protokol kesehatan ketat yang diberlakukan membatasi jumlah pengunjung yang hadir saat pelaksanaan acara, mengacu kepada Perda Nomor 6 Tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru.

Untuk itu, panitia menyediakan formulir online bagi pengunjung bila ingin hadir ke lokasi acara.
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdGQN2qLnmKhti9QzLthZ1Bv5qOJTPg6jKgz8crgw-6hamFig/viewform.

Pengunjung wajib memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Di lokasi acara panitia sendiri telah mengatur tempat duduk pengunjung, menyediakan alat pengukur suhu dan tempat mencuci tangan.

Salah seorang pengunjung iven, Hendra dari Payakumbuh Timur saat dimintai keterangannya menyebut sangat senang bila iven musikal minang seperti ini dapat digelar di Payakumbuh. Menurutnya kejenuhan masyarakat untuk berekreasi dapat disiasati dengan hadir ataupun menonton secara daring acara ini. Ditambah pelaku seni yang tampil juga dapat menampilkan promosi grup ataupun komunitas mereka disini.

“Melalui iven ini kita jadi tahu, kalau pelaku seni musik dan budaya di Minangkabau sangat banyak, tetapi tak semua dapat difasilitasi. Semoga dengan iven ini masyarakat jadi lebih mengenal seni budaya minang sehingga eksistensinya dapat kita jaga dan kita lestarikan,” komentar Hendra. (Gian/wba).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *