O p i n i

ADA APA DENGAN PERNYATAAN PAK ALIRMAN SORI? (Oleh: Irwandi)



Sangat bertanya-tanya fikiran saat membaca berita tentang tentang Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Pesisir Selatan ( seperti yang diberitakan lembaran.id dan klikpositif.com, 22/5 ). Di acara tersebut Bapak Alirman Sori begitu lantuang-lantang berstatement tentang keharnonisan kepala dan wakil kepala daerah. Bahkan merembes ke kajian ilmu kalam, yaitu tentang melawan takdir. Hal melawan taqdir inilah yang menyebabkan berselisihnya kaji antara jabariyah dan qadariyah di dalam menyikapi ketentuan khalik untuk makhluk, untung datang Ahlul sunah wal jama’ah sebagai penengah. Namun walau demikian, perpecahan tidak bisa dielakan, karena ada pondasi yang ditanamkan oleh tukang yang cukup mashur.


Disaat hiruk-pikuk masih belum bersembunyi sesudah pertarungan antar pasangan calon yang diteriakan oleh sebagian pendukungnya, disaat itu pula Bapak Alirman Sori melontarkan pernyataan. Bisa dikatakan tensi antar sesama pendukung belum kembali normal, walaupun itu sebagian kecil saja. Namun yang demikian adalah kita, kita yang akan menjalani hari-hari di Pesisir Selatan.

Ditengah tensi yang tinggi seharusnya ada orang yang menyajikan jus mentimun atau semacam air remasan daun alpukat. Bukan gulai kalio kambing yang membuat mata mungkin tambah berkunang-kunang. Atau sekelompok niniak-mamak yang menerapkan kata sabalun anyuik lah bapinteh, sabalun hilang lah bacari.
Sebenarnya kalau mau diakui memang betul adanya yang dituturkan, sebelum ini ( periode sebelum ) wakil memang tidak terlibat dalam banyak hal. Itu bisiak sudah samo kadangaran sorak sudah samo kalampauan. Tapi apakah sekarang ada bisik-bisik yang akan mengapung ke permukaan? Yang hanya didengar oleh orang-orang yang mempunyai keistimewaan mendengar getaran yang berfrekuensi rendah.

Seorang cerdik pandai, apalagi di daerah dimana suara tersebut diujarkan tentu selayaknya harus pandai maindang manampi tareh. Memang tujuannya memilah antara atah dengan beras, namun dengan seni yang dilenggokan. Mungkin beliau sekedar mensarahkan kejadian-kejadian masa lalu agar tidak terulang, atau ikhtibar agar difahamkan. Namun antara awak samo awak alangkah lebih baiknya diutarakan di palanta sambil mangopi.


Di atas semua itu tidak ada yang paling mengerti tentang sebuah pernyataan kecuali orang yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Pendengar atau pembaca hanya bisa mengira-ngira, dan alangkah lebih baiknya yang berbicara membuat semacam penjelasan dengan tidak mengesampingkan hujjah sebab-musabab pernyataan dalam kondisi mananai minyak panuah. Berjalanlah dengan gemulai agar minyak tidak tumpah. Agar tidak mencuat atau bertambah kabar yang menyebabkan tanda tanya di hati sebagian warga. Sangat layak kiranya perwakilan daerah menyampaikan sesuatu ke masyarakat yang maanjuangkan namanya berbicara dengan kiek dan siasek sesuai kearifan lokal.


Kalalawa di pulau rimbang
Anak ruso mati tadabiah
Kok gawa minta ditimbang
Kok doso ampun nan labiah


Orang-orang berdasi sebenarnya cukup mengambil hati masyarakat secara natural, bekerja tekun dan meberikan laporannya. Untuk penilaian biar masyarakat yang menentukan sekali lima tahun. Jika bagus dilanjut, jika kurang dilanjutkan yang lain. Kurang elok kirannya membuat pernyataan yang multitafsir atau bahkan tidak mau menafsirkan untuk mempertanggung jawabkan. Man takallama faqad arafa aklahu alan nas, siapa yang berbicara sungguh yang bersangkutan sedang mempertontonkan isi kepalanya pada orang lain.

Pandang batujuan tembak ba alamaik. Siapa yang dituju dan kemana alamat sasaran tembak, sudah adakah tanda-tanda yamg akan ditembak? Kalau untuk menunjuk ajari, sekali lagi duduak baselo tentu akan lebih menyejukan hati. Entahlah, mudah-mudahan masyarakat sadanciang bak basi saciok bak ayam, wallahu alam bishawab.

Catatan; Irwandi anak muda pemerhati sosial kemasyarakatan. isi artikelnya tanggungjawab yang bersangkutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *