Tam Arang dan Utiah Kapeh

Ternyata Kebijakan Meniadakan Kendaraan Dinas di Kabupaten Pasir Santan Sudah Lama….

Batang Kapeh, PilarbangsaNews, —

Kabupaten Pasir Santan ternyata bupatinya telah lebih dahulu menerapkan kebijakan jatah sepada bagi pejabat esselon II ditarik. Artinya semua pejabat teras yang ada di Kabupaten Pasir Santan, tidak lagi diberi sepeda dinas. Sepeda yang ada ditarik dan dijadikan alat transportasi yang di standby jika diperlukan untuk kegiatan operasional.

Di Kabupaten Pasir Santan, warga setempat menyebut sepeda dengan sebutan Kuetangin.

Kuetangin sebenarnya terdiri dari 2 kata, Kueta dan Angin.

Kueta = Kareta
Angin artinya ya Anginlah masa gak tahu.

Saya tidak tahu kenapa sepada ini disebut Kuetangin atau Kareta Angin.

Mungkin kereta ini tidak pakai motor (mesin)  sebagai pengerak. Pada mulanya sepada ini diciptakan tanpa pengayuh,  namun  lama lama  dibuat pakai pengayuh.

Di Kabupaten Pasir Santan Kuetangin merupakan alat transportasi yang paling mewah.

Kenderaan dinas pak bupatinya hanya sepeda jantan dengan  merek Reliegh.

Tapi harga sepeda Relaegh itu sama dengan  kenderaan dinas pak bupati Pesisir Selatan yaitu mobil Pajero Sport.

Di Kabupaten Pasir Santan ini, kita masih bisa melihat sepeda sepada kuno buatan Inggris seperti merek Relaegh atau disebut juga sepeda Reli.

Sepeda Reli ini ada 3 macam typenya. Pertama type sepeda jantan pakai batang penyangga di dekat pedalnya. Batang itu tersambung  lurus ke besi dibawah stang (kemudi) sepeda.

Kemudian sepeda batino ( atau sepeda perempuan) yang dikhususkan untuk nona nona atau nyonya nyonya Belanda di zaman penjahan Belanda dahulunya.

Dan ada lagi model sepeda keluaran yang paling akhir dikelasnya yaitu model sport.

Sepeda jantan itu diperuntukkan bagi pejabat setingkat kepala dinas atau OPD di kabupaten tetangga.

Sepeda Batino juga diperuntukkan bagi pejabat  yang berjenis kelamin wanita.

Sedangkan sepada sport Model dibarikan kepada pejabat pejabat setingkat Kabag.

Sepeda sepada itu telah lama ditarik oleh Bupati Pasir Santan dan diparkir di gudang yang disediakan  di kantor bupati. Sepada tersebut baru akan digunakan  aabila pejabat yang bersangkutan berpergian dalam  rangka melaksanakan tugas.  Sepulang dari lapangan  Kuetangin itu kembali diparkir masuk gudang penyimpanan.

Dengan  adanya kebijakan ini, maka ada penghematan anggran sebanyak 4 juta rupiah setahun.

Uang yang Rp 4 juta itu dimaanfaatkan oleh pak Bupati Pasir Santan membangun infrastruktur yang ada di kabupatennya. Dananya benar dimanfaatkan seoptimal mukin. Tak ada keluraga pak bupati yang ngatur ngatur proyek di Kabupaten Pasir Santan

Apakah sewaktu kebijakan ini diberlakukan, kepala OPD protes atau diam saja atau setuju dan menerima dengan lapang dada?

Pada umumnya mereka setuju, karena Kabupaten Pasir Santan  ibukotanya kecil, orang bisa jalan kaki dari kantor ke rumah jaraknya sangat dekat.

Lalu bagaimana dengan rencana  Bupati Pesisir Selatan meniadakan kendaran dinas bagi pejabat essolan didaerahnya.

Pasti kebijakan ini menjadikan  bupati akan  semakin populer karena kebijakan itu ada aspek populisnya. Bupati akan mendapat sanjungan dari warga masyarakat pendukungnya yang tidak memiliki jabatan apa apa seperti Pakie Teliang dan Tam Arang yang sering mengkal minum kopi pagi di Lepau Mak Gambuang.

Dan sipejabat esselon, apakah dia akan  gembira mobilnya ditarik?

Gembira tentu tidak, tapi dia yakin rencana bupati Pesisir Selatan itu hanya sebuah rencana sekadar untuk mencari simpatik yang tak mungkin  bisa dilaksanakannya. Sebab kalau kebijakan menarik atau meniadakan mobil dinas ini bagi pejabat esselon II diberlakukan di kabupaten Pesisir Selatan, rancak juga dapat mengurangi ambisi seseorang untuk menjadi kepala dinas. Untuk apa lagi jadi kepala dinas di Kabupaten Pesimis Selatan, sudahlah uang tunjungan kecil, fasilitas mobil dinas ditiadakan pula.

Itu nan kaindak-indak sae kiajo tumah,” kata Labai Litak memberikan komentarnya terkait rencana Bupati Pesisir Selatan itu.

Jangan jangan apa yang telah direncanakan oleh pak bupati Rusma Yul Anwar ini nanti tidak bisa di realisasikannya. Kalau itu terjadi maka pak bupati siap siap mendapat gelar Bupati Gadang Siawa nan lamak ota.

Semoga saja tidak sampai begitu ya…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *