Gresik, Media – Upacara adat dalam perkawinan sering dilaksanakan meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana sekali, meskipun masyarakat berkali-kali menyaksikan upacara adat pengantin Jawa tetapi mereka kurang memahami arti dan makna upacara tersebut.

Pengikisan budaya yang diakibatkan oleh semakin intensifnya pengaruh budaya asing menyebabkan pudarnya budaya asli Jawa.

Di sisi lain, ritual-ritual tersebut hanya dilakukan oleh kalangan tertentu saja.
M. Taufik Hidayat, S.Pd sebagai
Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur mendapat mandat untuk avokasi para pelaku budayawan yang menjalankan ritual pernikahan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana Simbol dan Makna Pernikahan Adat Jawa yang terjadi di Gresik.

Taufik menjelaskan ritual pernikahan tersebut haya sebuah simbolis atau perlambang atau sebuah mantek, dengan panjang lebar ketua Dewan Kesenian Jawa Timur ini menjelaskan secara ringkas sebagamana video fisual diatas.

Ketika pelaku seni dan budaya melangsungkan pernikahan dengan ritual-ritual Jawa seperti yang disebutkan di atas maka identitas budaya Jawa tetap dilestarikan.

Ojo dadi “Wong Jowo Ora Njawani” yang artinya orang Jawa tidak menunjukkan tabiat orang Jawa yang sesungguhnya. Tingkah laku, moral dan kepribadiannya sudah bukan orang Jawa yang sesungguhnya.

Banyak yang beranggapan, terutama kaum muda bahwa ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa itu sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan sekarang yang serba canggih. Sehingga bukan hal yang mustahil kalau ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa yang diturunkan oleh nenek moyang kita itu bakalan lenyap dari bumi tercinta ini.

Padahal, ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa tersebut memiliki makna yang sangat mendalam yang mengarah ke kebahagiaan hidup. Selain itu, jika dicocokkan dengan ajaran agama apa saja juga tidak ada penyimpangan.

Artinya ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa itu banyak yang sesuai dengan tuntunan Yang Menguasai Dunia ini. Maka dari itulah tak ada salahnya jika kita menguri-uri ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa ini.

Terkait dengan Mantiq ini adalah sebutan dalam bahasa arab. Kata ini sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan ditulis sebagai MANTIK. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata ini sebagai cara berpikir yang mendasarkan hanya pada pikiran saja.

Dalam islam, ilmu Mantiq atau Manthiq secara bahasa berasal dari Nataqa yang artinya adalah berucap atau berkata. Adapun pengertiannya secara istilah adalah sebagai berikut:

Suatu ilmu yang menjadi dasar atau alat untuk menjaga diri dari kesalahan dalam berpikir.

Suatu ilmu yang secara khusus membahas mengenai alat serta formula berpikir. Dengan demikian, seseorang yang menggunakan ilmu mantiq ini akan terselamatkan dari kesalahan berpikir.

Ilmu Mantiq ini sering kali disebut juga dengan julukan Bapak Segala Ilmu, alasannya adalah karena mantiq merupakan dasar untuk menuju ilmu lain secara benar.

Adapun pelopor dari ilmu mantiq ini adalah Aristotetels. Dalam islam, mempelajari Ilmu Mantiq hukumnya ada dua, yakni:

BOLEH atau HARAM, apabila ilmu mantiq tersebut sudah bercampur aduk dengan keseatan pemikiran filsuf.

Ilmu Mantiq ini dikenal juga dengan istilah lain yakni Mi’yarul ‘Ulum dan Ilmu Mizan.

ajaran moral dan filosofi hidup orang Jawa luhuring pangastuti namnun:
Wong Jowo Iku Gampang Di Tekak Tekuk,

Orang Jawa itu mudah di bengkan – bengkokkan. Maksudnya, orang Jawa itu fleksibel, mudah bergaul dan bisa berada di berbagai level masyarakat.

Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul

Makan tidak makan yang penting kumpul. Hal ini tidak tepat kalu Anda artikan secara leterlek. Tidak harus rumahnya itu kumpul dalam satu kampung melainkan yang lebih utama adalah sering mengadakan pertemuan untuk menjalin persaudaraan.

Alon Alon Waton Kelakon

Pelan-pelan saja asal terlaksana. Bukan berarti menjalani hidup itu tanpa usaha, hanya ngikuti aliran air. Namun tetap berusaha sekuat tenaga tapi tidak memaksa diri.

“Nerimo Ing Pandum

Dapat menerima pemberian. Menerima dengan ikhlas apa yang sudah dihasilkan dari jerih payahnya. Baik itu dirasa untung atau rugi sekalipun. Mereka bisa menerima apa adanya tanpa ada perasaan gelisah.

Urip Iku Urup

Hidup itu Nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain, terutama yang ada di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan semakin baik.

Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro

Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan / kesejahteraan dan memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti

Segala sifat keras hati, picik, angkara-murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho

Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan. Kaya tanpa didasari atas kebendaan. (Rajawalisiber.com)

By Pilar