JAKARTA, – Bung Hatta dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Begitu cintanya ia akan buku, pemandangan unik tampak saat ia membawa 16 peti berisi buku saat menuju pengasingan. Hal itu terjadi saat Bung Hatta menjalani masa pengasingan di Kabupaten Boven Digoel, Papua, pada 25 Februari 1934, dan berlanjut ke Banda Neira, Maluku.

Bersama kawan seperjuangannya, Sutan Sjahrir, Bung Hatta membawa 16 koper buku yang ia kumpulkan sejak di bangku kuliah, Buku-buku itu dibawanya untuk mengisi waktu selama diasingkan pemerintahan Hindia Belanda.

Aksi Bung Hatta dibantu Bung Sjahrir membawa 16 koper buku tersebut menjadi perhatian masyarakat. Terang saja, mereka kewalahan membawa ‘harta karun’ itu tanpa bantuan orang lain.

Kisah kecintaan Bung Hatta pada pendidikan, khususnya hobi membaca buku ini disampaikan oleh Pengamat Politik Milenial Arifki Chaniago dalam Episode Ketiga Pekan Bung Hatta 2022 Badan Kebudayaan Nasional PDI Perjuangan yang mengangkat tema ‘Konsep Pendidikan Ideal Menurut Bung Hatta’, Minggu, 14 Agustus 2022.

Dipandu duet aktivis muda kebangsaan Yogi Prastia dan Nini Marniasti Hia, talk show inspiratif ini mengungkap kutipan Bung Hatta yang amat terkenal, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Begitu lekatnya Bung Hatta pada pendidikan, maka kala mendirikan partai pun dinamai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), sering juga disebut PNI-baru. Sebagian besar anggota PNI baru berasal dari ‘golongan merdeka, yaitu para aktivis studieclub.

Arifki berkisah, secara konsep Hatta adalah orang Minangkabau, yang dalam kulturnya dibebaskan untuk menyampaikan pendapat.

“Hatta beruntung, karena sejak kecil mendapat cukup, baik pendidikan agama dan pendidikan lain. Maka, ia kemudian dikirim ke Belanda, punya cara berpikir beda, pengetahuan beragam, serta kenal dengan budaya modern,” papar sarjana politik lulusan Universitas Andalas dan meraih master di Universitas Indoneisa.

Singkatnya, meski terlahir dari kelompok eksklusif, tapi Bung Hatta adalah orang yang mau belajar, sehingga bisa berpikir kesederajatan dan inklusif.

Keterbukaan ini terlihat kala Hatta yang berasal dari Suku Minang identik sebagai kelompok religius Islam, memperjuangkan Sila Pertama Pancasila.

“Tampak sekali Hatta memikirkan kepentingan kelompok agama lain di luar Islam,” kata Arifki.

Dalam konteks kekinian, Bung Hatta sudah jauh melihat fenomena teknologi dalam pendidikan. Ibaratnya, kalau dulu pengetahuan hanya ada di koran dan buku, kemudian menyusul televisi dan radio, kini kita dapat menikmati pendidikan melalui ruang-ruang digital seperti Youtube, Tik Tok, dan lain sebagainya.

“Teknologi memberi ruang sangat besar dalam pendidikan. Bahwa setiap individu adalah medianya,” kata periset masalah-masalah politik ini.

Sebagai bukti, kata Arifki, tulisan-tulisan Hatta masih enak dibaca hingga hari ini.

“Padahal karya-karya itu ditulis tahun berapa? Ini membuktikan gagasan-gagasannya terbuka dengan teknologi,” terangnya.

Singkatnya, imajinasi Hatta melihat perubahan zaman agar tulisannya masih diterima oleh generasi hari ini menunjukkan bahwa Hatta cukup berkemajuan dalam konteks berpikir.

Pekan Bung Hatta Episode Ketiga memberi pesan bahwa sebagai generasi yang hidup di era modern, kita harus mempersiapkan diri menghadapi arus yang begitu deras menerpa semua lini kehidupan.

“Jangan sampi arus itu menggerus nilai-nilai kebangsaan, budaya, dan identitas bangsa,” pungkas Yogi sebagai moderator diskusi.

Rangkaian Talk Show ‘Pekan Bung Hatta’ diinisiasi Badan Kebudayaan Nasional Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam mengenalkan pemikiran, kisah dan sepak terjang Bung Hatta kepada masyarakat.

Selama sepekan, 12-16 Agustus 2022, Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan menayangkan talk show membahas Bung Hatta dalam berbagai perspektif, ditayangkan di Channel Youtube BKN PDI Perjuangan setiap pukul 17.00 WIB. (*)

By Pilar