Menampilkan: 1 - 10 dari 32 HASIL
CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (45), Perawat ; Senang bisa Bertugas di Garda Terdepan

Batang Kapeh, PilarbangsaNews,– Bekerja sebagai jururawat di Rusunawa Painan memberikan pelayanan kepada pasien Covid-19 itu pasti banyak suka dukanya. Saya mencoba mengorek apa apa saja yang menjadi suka maupun duka perawat yang telah melayani saya dan pasien lainya

Secara personal masing-masing  perawat itu akan berbeda cara mereka merespon dan beradaptasi dengan lingkungan, terutama ketika memberikan  pelayanan  kepada pasien.


“Bagi saya tak ada merasakan dukanya yang ada cuma sukanya, kata Lestari seorang perawat ketika ditanya. Lestari adalah nama samaran, dia minta ditulis nama samaran itu, takut nantinya ada pihak yang merasa tersinggung dengan wawancara kami.

Lestari yang mengaku masih lajang itu, dulunya sebelum bekerja di Rusunawa, pernah bekerja di rumah sakit di Kota Pekanbaru. Namun karena ayahnya meninggal dunia, ia pulang Kampung 10 bulan yang lalu. Sejak itu dia tak bekerja lagi.

“Kemudian sebulan belakangan ada teman yang ngajak saya untuk direkrut  yang akan  ditugaskan di Rusunawa Painan ini. Saya ikut mendaftar dan diterima, ” katanya.

Ketika ditanya berapa besar honor diterima?


Lestari menyebutkan Rp250. 000,-/hari dipotong pajak.

Sebenarnya soal reski belakangan lah ya, yang jelas dengan  bekerja disini kami telah mengerjakan tugas kemanusiaan. Bekerja di Garda terdepan memerangi wabah Covid-19 di tanah air.

Tak semua orang mampu, berani dan mau melaksanakan tugas di garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Takut karena kejadian telah banyak, ribuan tenaga kesehatan di Indonesia ikut terpapar dari pasiennya dan tak sedikit pula yang meninggal dunia.

Rasa takut terkadang bisa muncul, namanya harus berbaur dengan pasien menderita penyakit menular, namun menurut Lestari dia bekerja dangan hobi. memberikan pelayanan kepada orang lain sesuai dangan ketrampilan yang dimiliki sesuatu yang sangat menyenangkan bagi gadis yang bersuara lembut itu.

“Bekerja ditengah-tengah pasien yang menderita penyakit menular, jika tidak disiplin bisa kita sandiri yang akan  tertular. Karena itu semua petugas disini harus benar-benar menerapkan SOP yang telah ditentukan, ungkapnya.

“Baju Asmat itu berapa jam wajib mengenakannya, ” Tanya penulis.

“Kami disini wajib mengenakan pakaian Asmat salama 2 sampai 3 jam paling lambat, setelah itu boleh mengenakan baju umum.

Dalam sehari Lestari bekerja salama 8 jam.  Kemudian digantikan oleh teman yang masuk shift berikutnya.

Pekerjaan mereka memeriksa tekanan darah, denyut nadi dan suhu badan. Pasien ditanya kondisi kesehatan, apa yng dirasakan, semuanya dicatat untuk dikonsultasikan dengan tim dokter untuk pemberian obat-obatan.

Untuk menghindari kejenuhan, mereka bekerja selama 11 hari kemudian digantikan oleh tim berikutnya.
Mereka diinapkan  di sebuah hotel di Painan.

Sebelum pulang ke rumah masing-masing, para Jururawat itu dikarantina salam 3 hari dan menjalani uji swab.

Setelah pasti hasil swab nya negatif baru diperbolehkan pulang
agar keluarga dan orang lain yang kontak dengan mereka tak terpapar Covid-19.

BOSAN JUGA

Lain lagi cerita Upik Sarilam juga nama samaran. Menurut dia yang membuat diri bosan bekerja adalah kita diinapkan di hotel, tidak diperbolehkan pulang selama 15 hari.

“Bagi saya menghitung hari untuk lepas dinas  pulang berkumpul keluarga ini waktu yang bisa bikin saya bosan, ” katanya.

Upik Sarilam juga menyebutkan bahwa dia dikontrak selama 4 bulan bekerja di Rusunawa Painan. Selama satu bulan  bekerja hanya 11 hari kerja. Habis itu menungu 22 hari untuk masuk pada putaran berikutnya.

Saat ini tim perawat yang bertugas di Rusunawa, telah mulai tim 3. Jika tim 3 ini selesai 11 hari kerja, kembali ke tim satu yang shift untuk putaran berikutnya.

Terkait gaji para perawat ini, bila dikalkulasikan
dalan satu bulan mereka bekerja hanya 11 hari x 250.000 = Rp2.750.000 nominal sebelum dipotong pajak.

Diatas dikit dari UMR (Upah Minimum Regional) daerah Pesisir Selatan.

Mungkin kah karena segitu lantas Jubir RSUD Painan, enggan  menjawab pertanyaan saya seperti yang saya ungkapkan pada episode sebelumnya?

Entahlah……

SELESAI

             Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (44) ; “Taragak” Makan “Sup Uueenak” Bersama Pak Kabag Weldi

CRDRP YY

Kolonel (Purn) Farhan Abdullah, Mantan Dir Semen Padang Hospital Terpapar Covid-19; In Sha Allah Pasti Sembuh

Batang Kapeh, PilarbangsaNews,— Saya tak kenal dengan Kolonel (Purn) dr. Farhan Abdullah, Sp.THT. Baru kali  ini mendengar namanya. Lantaran membaca postingan adik saya Anita Kencana wati II. Postingan Anita itu tag dari postingan Ka Dinas Kominfo Sumbar, Jasman Rizal .

”Malam ini saya tersentak dan sangat prihatin, ” Jasman mulai menulis di laman Facebooknya.

Dia Kolonel (Purn) dr. Farhan Abdullah, Sp.THT.
adalah seorang tokoh pejuang kesehatan, telah terkonfirmasi positif terinfeksi covid-19.
Sejak 1 Oktober 2020 telah mengundurkan diri sebagai Direktur Semen Padang Hospital

Beliau, tulis Jasman lebih lanjut, menulis pesan di group WA TOP100 dan pesan kepada saya secara pribadi. Ini pesannya;  “Pak JR (Jasman Rizal) mohon doa, semoga saya tidak terinfeksi covid-19. Mudah2an hanya demam biasa. Saya masih menunggu  hasil swabnya hari ini, kalau swabnya positif saya pindah rawat ke RS M Jamil, kebetulan Kabag Anestesi nya adik saya yang bungsu dr. Yulinda Abbdullah, Sp.An.”

Pukul [22/10 22.14] Farhan Abdullah: Saya baru dapat kabar dari Lab, bahwa saya positif terinfeksi covid-19.

Setelah beliau memberitahu saya bahwa dia positif, beliau tetap berikan semangat kepada kita semua:

Pukul [18/10 22.34] Farhan Abdullah: Tetap semangat, jangan kasih kendor perang lawan covid 19.  Walaupun bertukar raga tantangannya. Salam tangguh.

Begitulah beliau, walau dalam keadaan sakit, semangatnya tak pernah pudam, tetap meberikan motivasi kepada kita semua untuk tidak menyerah berperang melawan covid-19.

Sangat banyak jasa beliau kepada warga Sumbar. Beliau tak pernah memilih siapa yang akan di tolong. Siapapun bisa menelepon beliau dan minta tolong dan insyaa Allah selalu beliau tolong. Beliau selalu terjun langsung ke medan pertempuran. Sering kita lihat dan dengar, beliau langsung masuk ke ruang isolasi pasien covid (tak banyak yang berani melakukan ini) dan beliau juga sering langsung melakukan pengambilan sample PCR secara Swab kpd pasiennya. Telah lebih 5000 orang yang telah beliau swab langsung dg tangannya.

Beliau adalah tipikal prajurit tangguh, tak kenal menyerah, penuh semangat.

Tetap semangat pak Kolonel dr. Farhan Abdullah. Kami hanya mampu berdoa, semoga cepat sembuh dan semangatmu dapat memberikan motivasi kepada siapa saja yang bertempur di lini depan berperang dengan covid-19. Semua kita terlibat dalam peperangan ini. Semoga kita semua tetap kuat dan pantang menyerah

Insyaa Allah

Aamiin

      oooOooo

Saya sebagai mantan pasien Covid-19 terenyuh membaca postingan Ka Dinas Kominfo. Saat membaca pesan dari sang pejuang COVID-19 Sumbar ini pada kalimat;
Tetap semangat, jangan kasih kendor perang lawan covid 19.  Walaupun bertukar raga tantangannya. Salam tangguh.

Lewat tulisan ini ( meski saya tahu pesan ini tidak segera akan anda baca) saya bersama seluruh mulai dari Pimpinan dan staf Redaksi serta seluruh wartawan PilarbangsaNews.com di provinsi lain juga memberikan samangat kepada  pak dokter yang kolonel (purn); anda pasti kuat, anda pasti mampu melawan Covid-19.  Dan kami juga yakin anda kini dalam kondisi enjoy tanpa sedikitpun rasa cemas.

Saya saja yng tak pernah latihan dasar militer. Boro boro latihan militer latihan PBB (peraturan bariat berbaris) aja kagak. Melawan Covid dengan enjoy saja. Alhamdulillah si Covid-19 kini terkongkang tertilantang mati semua yang ada di tubuh saya. (YY)

CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (44) ; “Taragak” Makan “Sup Uueenak” Bersama Pak Kabag Weldi

Batang Kapeh, PilarbangsaNews, — Setelah 5 hari saya berada di rumah, pulang dari mengikuti “pendidikan”  di “kampus” Rusunawa Painan, saya taragak (kangen) ngobrol kembali dengan pak Weldi . Kabag Keuangan Pemkab Pesisir Selatan yang pernah saya sebut dalam tulisan episode terdahulu  sebagai yang berpenampilan mirip andemar.

Ngobrol dengan pak andemar Waldi mengasikkan juga, orangnya ramah. Bila ketawa lepas dan badarai (ngakak) menandakan dia seorang yang pandai dalam bergaul.

“Kalau dibilang pandai mungkin tak banyak, cuma sedikit mungkin ada juga benarnya, ” kata pak Kabag dari payakumbuh ini yang yang telah tergadai murah karena istrinya orang Pesisir Selatan.

Lima hari yang lalu saya sudah telpnan dangan pak Weldi. Tapi sebagai mana saya sabut di atas saya ingin ngobrol lagi dangan pak  Kabag ini.

Saya mendapat informasi dari Risqi Mahasiswa jurusan Akutansi UNP  cucu saya yang sama jadi alumni Rusunawa Painan dari klaster Anakan Batang Kapeh. Risqi mengatakan sore hari dia diperbolehkan pulang, ia mendapat kabar pak Kabag minta pulang ingin manjalani isolasi mandiri saja di rumah.

Dua hari setelah beliau pulang ke rumah menjalani isolasi mandiri, saya telp beliau. Kami video call.

”Iyo pulang pak Kabag? ” tanya saya setelah hubungan video call kami terhubung.

” Iyo pak YY, ” dia menjawab.

“Kenapa kok pulang saja, ” tanya saya.

” Lengang ndak ada kawan sudah banyak yang pulang, pak YY ndak pula ada disana, ” ucapnya.

“Berapa sisanya yang tinggal lagi, ” saya bertanya.

“8 orang lagi pak YY, karena lengang itu saya minta pulang saja lagi. Pihak Rusunawa memperolehnya pulang atas permintaan sendiri, ” kata pak Weldi.

Menurut pak “andemar” ini, kalau dia tak pulang, bisa merasa stres. “Kini saya lega pak YY karena dakat dengan urang rumah, ” katanya.

Pak Kabag yang satu ini ada kesamaan dengan saya. Kami sama sama tak bisa mandiri dalam urusan diri. Sangat tergantung dangan sang bini. Kalau tak dakat bini hilang akal seperti orang tak kenal diri.

“Cepat lah sembuh nanti saya ke Painan, kita makan sup. Di Painan itu ada sup enak, ” kata saya

Sup di Painan yang saya maksud memang uueenak. Pertama kali saya dapat kiriman dari Ka TU Dinas Kesehatan, Ustadz Yuni Andra. Karena enak rasanya saya minta belikan pada Buk Lisda, dibelikannya. Berikutnya saya order lewat Kabag Humas, ordernya sampai. Terakhir saya order lewat anak saya Hamdanus calon wakil bupati pasangan Hendrajoni. Oh rupanya dia sadang si Padang. “Walaupun saya di Padang , orderan sup ayah 10 menit lagi sampai itu di Rusunawa, ” kata Ustadz Hamdanus.

“Jadi kalau pak wel dah sambuh kita kesana ya pak wel, ” kata saya.

” Siap…  Pak YY , siap…., ” jawab pak Kabag gembira.

Bersambung…

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (43) ; Direktur RSUD Painan itu “Berlantas Angan” ..?

.

CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (43) ; Direktur RSUD Painan itu “Berlantas Angan” ..?

Batang Kapeh, PilarbangsaNews, –– Dalam episode terdahulu saya pernah menulis hasil wawancara saya dengan seorang pejabat di RSUD dr M Zein Painan
Saya ingin tahu berapa biaya makan perorang/perhari. Berapa honorer para perawat dan berapa dana intensif bagi ASN yang diperbantukan untuk penanganan medik ini?

Sang pejabat yang di delegasi kan oleh Dir RSUD dr M Zein Painan itu, menjawab bahwa besar nominal belum bisa dipublish.

Kenapa belum bisa di publish, menurut pejabat itu, karena belum setujui Pemkab

“ini baru berupa usulan, nanti kalau tidak disetujui kan diulang lagi buat usulan baru pak, ” katanya beralasan.

Menurut saya alasannya itu tak logis, Soalnya yang saya tanya berapa nominalnya yang diusulkan itu, Bukan nominal yang telah disetujui.

Asak kata saya, di-ansua-nya. Jelas tak nyambung. Dah…  Biarkan sajalah. Padahal kalau di publish orang banyak sudah tahu, pemkab akan mikir dua kali untuk menolaknya apalagi besaran dana per-item sangat logis. Itulah gunanya pers. Kami hanya mengabarkan anda memutuskannya.

Tapi yang jelas memang pintar pejabat yang ditunjuk oleh Direktur RSUD dr M Zein Painan, dr Sutarman ini menjawab pertanyaan seorang wartawan. Serasa mewawancarai Humas perkebunan besar. Hati-hati dan sangat hemat memberikan keterangan.

Direktur RSUD dr M Zein Painan, dr Sutarman dia boleh saya sebut agak berlantas angan ke saya. Berlantas angan yang saya maksudkan disini, sebenarnya menurut bahas Minang Berlanteh Angan artinya enggk peduli kurang mau melayani saya dalam soal pemberitaan.

Saya tidak tahu apakah benar-benar sibuk atau gimana gitu. Soalnya setiap saya telp minta data ada ada saja alasan. Tapi tetap dia delegasikan kepada stafnya untuk memberikan keterangan pers. Menurut saya itu sama kalau dia sendiri yang melayani saya dalam wawancara.

Sutarman, beda sekali dengan Direktur RSUD Arifin Achmad, dr Nuzelly Husnedi, Pekanbaru, Direktur Utama RSAM Bukittinggi, dr. Khairul Said dan Dir RSUP M Jamil Padang DR dr Yusirwan Yusuf SpBA MARS. Selalu bersedia memberikan keterangan langsung. Tapi biarlah dr Sutarman itu dia tetap berlantas angan ke saya, mungkin karena kami sepakati dia manggil saya dangan panggilan “uda” kali.

Tak hilang akal, tadi saya SMS-an dengan Kepala Kantor BPKD Pesisir Selatan, Suhendri, saya bertanya berapa hari lamanya dana DID itu baru  bisa dicairkan setelah diisulkan ?

Kata Suhendri;  perlu evaluasi APBD dari provinsi dulu, setelah ditetapkan  jadi dokumen anggaran, kemudian melalui dokumen DPA,  SPD, SPP, SPM dan SP2D, transfer ke rek OPD yang bersangkutan.

Misalnya Evaluasi tgl 27/9/2020 jawaban evaluasi tgl 28,  penetapan tgl. 29, DPA tgl 30, SPD tgl 31, SPP tgl 01/10, SPM tgl 02, SP2D Tgl 03, transfer tgl 04 itu kondisi tidak ada perubahan lain, tentang waktu 1 hari pertahap. Koreksi dari  Evaluasi provinsi harus dipenuhi ini biasanya tdk tercapai dalam 1 hari minimal 3 hari. Jadi secara keseluruhan membutuhkan waktu minimal 10 hari.
“10 hari sejak evaluasi dari provinsi diterima,” kata Suhendri.

Terkait  honor para perawat dibayar dari dana refucusing yang secara anggaran masih tersedia dalam RKB RSUD pada BTT.

“Pada RKB awal tidak ada kebutuhan honor tersebut maka dilakukan Revisi RKB, RKB tadi diriview oleh inspektorat, dari informasi review. telah selesai hari kamis kemaren, sementara ketetapan honor masih proses penetapan oleh Bupati KDH. Kalau semua prosedur penuhi hari rabu paling lambat telah ditransfer dari kas daerah.

oooOooo

Barusan, atau sekitar 10 menit setelah berita ini kami unggah masuk SMS ke aplikasi whatsapp saya berasal dari Suhendri

“Tadi KTU dan bagian keuangan RSUD sudah kami telepon, dan disepakati paling lambat hari rabu telah di transfer dari kasda ke RSUD M Zein Painan, ” tulis Suhendri.

Bersambung…..

Baca juga;

Catatan Ringan dari Rusunawa Painan (42) ; Menyimak Curhatan Seorang Petugas Medis

CRDRP YY

Catatan Ringan dari Rusunawa Painan (42) ; Menyimak Curhatan Seorang Petugas Medis

Batang Kapeh, PilarbangsaNews,—

Malam Sabtu petang Jum’at tanggal (16/10/2020) telp seluler saya berdering tanda ada telp yang masuk. Saya angkat HP saya itu dari seberang sana yang nelp seorang wanita, dia petugas kesehatan.

“Apa kabar, ” tanya saya setelah salamnya saya jawab.

“Apakah saya mengganggu pak,” tanya dia.

‘Ndak…., ‘‘ kata saya.

Awak ingin curhat ke pak YY ” kata dia.

“Silahkan…., ambo simak yo, ” jawab saya.

Mulailah dia bercerita. Dia mengatakan; Masih banyak masyarakat di Pesisir Selatan maupun di Sumbar, keberatan diambil spesimen untuk dilakukan  tes swab.  Keberatan itu antara lain disebabkan, masih banyak yang tidak/belum percaya Covid itu ada. Yang lebih membuat kami orang kesehatan ini bertambah miris lagi adalah ada yang menuduh rumah sakit suka mengcovidkan pasiennya yang meninggal.

Kalau semua mayarakat di Sumbar ini bersedia diambil spesimennya, saya kira akan banyak lagi yang terkonfirmasi Covid-19. Sumbar yang pernah berada pada angka terkonfirmasi mencapai 676 di hari Jum’at (16/10/2020) dimungkinkan bisa mencapai diangka seribuan lebih. Menurut dia terjadinya penambahan kasus positif covid-19 di Pesisir Selatan, disebabkan masih rendahnya tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat akan Covid-19.

“Per hari ini Pak YY, kita sudah periksa hampir 500 hasil tes swab dan 350 diantaranya sudah keluar . Nah, ternyata dari hasil pemeriksaan yang positif itu berasal dari kasus PDP ( Pasien dalam Pengawasan) Pak”. katanya.

“Kemudian sehari yang lalu di Nagari yang berinisial L, ada kakak beradik yang meninggal dunia dan itu ternyata positif. Kemudian tetangganya  demam dan ada keluhan tapi tak mau ke Rumah Sakit dan diambil spesimennya”. kata petugas kesehatan itu cemas

“Besok Pak Saya akan ke salah satu Puskesmas guna melakukan Tes Swab hasil dari tracking yang kita lakukan. Tentu kita cek kesiapan Puskesmas dan kita akan cek juga berapa orang yang positif. Terutama yang kontak berat dengan pasien positif yang meninggal positif covid-19 Alm berinisial M”. tambahnya.

Dan ternyata memang benar jika seseorang sudah kontak berat dengan pasien positif besar kemungkinan akan terpapar virus ini. Maka WHO pun menganjurkan masyarakat untuk tes swab jikalau merasakan gejala seperti sesak nafas, batuk maupun demam. Akan tetapi masih banyak dari masyarakat yang tak mau melakukan tes swab apalagi jikalau mereka terbukti melakukan kontak berat dengan pasien positif.

Kalau mereka yang tak mau diuji Swabnya. Kalau ternyata dia positif mereka berinteraksi bersama teman, keluarga tanpa 3M. Apa yang akan terjadi?

Dia akan menularkan Covid itu pada teman atau kelurga. Jika teman itu memiliki penyakit bawaan disinilh kita tahu ada resikonya.

Hal ini pun juga dikeluhkan oleh petugas yang curhat pada saya. Petugas itu memang sehari-hari berjibaku melaksanakan pemeriksaan hasil Tes Swab.

“Untuk kasus ini banyak Pak. Seperti yang di Nagari T itu. Sudah sangat jelas dari hasil Tes Swab bahwa Suami/ Ayah mereka positif tetapi mereka tidak mau tes swab karena mereka tidak percaya akan korona/ covid-19 ini Pak. Padahal potensi mereka terpapar itu tinggi loh Pak karena selama sakit mereka yang merawat beliau secara langsung tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri”.

“Bahkan yang lebih sedih itu adalah ketika kami sudah turun ke masyarakat termasuk Kepala Dinas Kesehatan Pesisir Selatan untuk melakukan tracking tetap saja mereka tidak mau di swab. Malahan kami dianggap membawa berita bohong atau hoax. Karena menurut mereka korona itu tidak ada. Dan yang mereka pahami meninggal itu karena sakit”.

“Lalu Pak, kami juga diserang dengan isu bahwa Perihal Rumah Sakit seenaknya meng-covid-kan orang yang meninggal supaya Tenaga Kesehatan ataupun Rumah Sakit dapat Insentif berupa Uang dari Negara. Namun kenyataannya sampai hari ini kami belum dapat insentif seperti yang disebutkan masyarakat yang nilainya sampai 40Juta”.

Setiap pasien yang masuk ke Rumah Sakit kemudian meninggal dunia sebelum diketahui hasil swab sesuai SK Menkes penanganan pasien yang meninggal dunia itu memang disamakan  penerapan penanganan jenazahnya dengan pasien meninggal akibat Covid-19.

“Hal itu diterapkan dalam rangka kehati-hatian saja. Sebab bagaimana kalau benar-benar telah tertular, si petugas akan ikut terpapar pula dan juga beresiko terhadap keluarga dan masyarakat lainnya, ” kata dia.

Menurut dia insentif untuk puskesmas itu tidak ada hubungannya dengan pasien positif covid-19. Insentif yang didapat puskesmas itu sebagai tambahan karena pekerjaan tambahan yang tidak ada dalam tugas pokok yang diberikan oleh pemerintah. Kasus virus covid-19 ini kan tidak ada dalam uraian kerja tenaga kesehatan sebenarnya. Penanganan Covid, lebih sabagai pengabdian dan tanggung jawab sosial.

Jadi pemberian penghargaan berupa insentif kepada tenaga Puskesmas atau Rumah Sakit atau Tenaga kesehatan itu wajar mengingat besarnya resiko yang harus mereka hadapi dilapangan. Mereka mengorbankan waktu dan tenaga untuk menangani dan mencegah virus ini agar tak lebih meluas penyebarannya.

Peran semua pihak terutama media massa meanstrem dan jejaring sosial diharapakan
dapat mengedukasi masyarakat tentang bahaya nyata virus covid-19 ini sangat lah diperlukan.

Bapak YY orang media, bagaimana kalau agak satu hari saja kita sama sama mengatakan bahwa Covid-19 itu ada, mungkin disitulah orang akan percaya Covid itu ada. Mungkin disaat itulah masyarakat akan mematuhi protokol kesehatan covid-19.

Sehingga dengan demikian pola pikir dan pola pandang masyarakat yang menganggap Covid-19 ini sebagai sebuah kebohongan atau hoax akan berubah dengan sendirinya. (****)

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (41), Sarung Kasur Tak Diganti, Novermal Yuska; Bisa Cilaka itu

CRDRP YY

Kadis Kearsipan dan Perpustakaan Pessel: Pertahananku Akhirnya Bobol Jua…!

Oleh Mawardi Roska

Sabtu (17/10) menjelang siang sekitar pukul 10.25 telepon berdering. Sudah kuduga, Dr. H. Satria Wibawa, M. Kes Kepala Dinas Kesehatan mengabarkan kalau saya positif Corona. Hasil positif tentunya sesuai pemeriksaan laboratorium Unand terhadap spesimen yang sudah diambil. Sebelumnya Saya, Isteri dan empat anak kakak beradik lainnya berinisiatif melakukan testing di Puskesmas Salido pada 12 Oktober 2020.

Telepon sang dokter ini mengabarkan tiga dari enam spesimen anggota keluarga saya adalah POSITIF. Tepatnya Saya (53) bersama kakak beradik Gilang Pati Andika (19) dan Jean Patikawati (17). Sementara Isteri dan dua Saya yang lain sementara “negatif”. Sementara karena sejak pengambilan spesimen kami melakukan isolasi serumah, meskipun menerapkan protokol kesehatan namun mesti di swab ulang demi mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penanganan kasus. Rencananya senin depan (19/10) swab ulang akan dilakoni.

Kisah testing berawal dari rasa sakit yang “rasa sakitnya” belum pernah dirasakan selama ini. Rabu (7/10) sore badan terasa dingin sekali dan kepala terasa sakit berdenyut denyut. Tapi rasa dingin dan sakitnya “beda”. Dalam hidung serasa berlendir dan nikmat asap rokok pun tak lagi terasa (maaf saya masih merokok). Kondisi ini berlanjut sampai Minggu (11/10). Gejala sakit tak seperti biasa inilah yang menguatkan kami harus testing swab pada keesokan harinya. Apalagi dua anak Saya, Gilang Pati Andika dan Jean Patiwati merasakan meriang, sehingga makin meyakinkan untuk testing swab kala itu.

Hal menarik untuk untuk diceritakan dan tentunya juga untuk kebutukan kontak tracking adalah aktivitas Saya semenjak merasakan demam yang tak biasa itu. Jum’at (2/10) Saya bersama dua rekan sekantor melakukan kunjungan ke Dinas PUPR Provinsi Sumbar di Padang tepatnya di UPTD P2BG guna konsultasi ttg Uji Layak Bangunan Gedung Perpustakaan Umum Daerah yang sedang dalam proses pekerjaan.

Sabtu (3/10) malam Saya menemui teman yang datang Medan. Pertemuan ini adalah silaturahmi purna bhakti pamong/pensiun dini PNS di Sago Salido. Di tempat itu juga ada sekitar lima belas orang yang sudah menanti. Lazimnya pertemuan tentu ada makanan kecil dan teh kopi seadanya. Sudah barang tentu protokol kesehatan tak kan konsisten, setidaknya ketika menyantap hidangan.

Sahabat Medan saya ini sempat bersin beberapa kali. Terlintas di fikiran jangan2 bersin-nya pun tak bersin biasa. Medan kan area dengan zona merah. Tapi sudahlah, semoga tak apa apa. Setiba di rumah, Saya langsunh cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, pakaian saya direndam dengan deterjen.

Hari ini (17/10) ketika kabar Corona ini saya terima, teman Medan adalah orang pertama yang saya telpon. Hanya untuk menanyakan kabarnya dan memberitahu kalau Saya positif Corona. Alhamdulillah dia sehat dan bugar saja. Syukurlah. Selain Dia, rasanya Saya tak ada berinteraksi dengan “orang luar”. Apalagi dengan pasien positif. Membingungkan, virus ini entah datang dari mana. Ataukah memang virus Corona sudah ada di tengah tengah kita. Wallahualam ..

Saat ini kondisi Saya sudah jauh lebih baik. Makan sudah “batambuah”, suhu badan sudah normal, hanya saja asap rokok yang tidak nikmat lagi. Semoga kejadian ini adalah jalan menuju berhenti TOTAL untuk tidak merokok lagi.

Jean pun demikian. Badan terasa segar cuma indera penciuman masih belum pulih. Sementara Gilang sejak dua hari terakhir sudah segar bugar tidak merasakan apa apa. Sesuai protkes, Senin (19/10), saya dan keluarga kembali melakukan swab di Puskesmas Salido. Semoga semuanya negatif, aamiin.

Selanjutnya dari tanggal 7 Oktober 2020 hingga saat ini, Saya beraktivitas dirumah, sesekali mencari keringat di kebun/sawah Bungo Pasang pagi dan dan sore sembari memelihara beberapa ternak dan tanaman. Sempat msuk kantor hanya pada hari Senin dan Jumat.

Melalui tulisan ini, saya mohon izin kepada pimpinan dan menyarankan kepda teman2 Saya di lingkup Pemerintah Kabupaten Pessel, bila ada kontak erat dengan Saya dan ada merasakan gejala sejak dari tanggal 5 – 7 Oktober 2020 agar melakukan testing swab. Dan khusus kepada teman2 saya di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, untuk dapat melakukan swab terutama yang merasa kontak erat dengn Saya.

Ikhtiar untuk Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) terhadap Covid 19 dengan jaga jarak, pakai masker dan selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta tingkatkan imun tubuh melalui pikiran positif, beraktifitas sehat/berolah raga dan asupan makanan bergizi dan berimbang, adalah perlu ditegakkan.

Semoga kita terbiasa hidup dalam kondisi new normal dan kekinian..

Wassalam.

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (41), Sarung Kasur Tak Diganti, Novermal Yuska; Bisa Cilaka itu

Catatan Ringan dari Rusunawa Painan (42) ; Menyimak Curhatan Seorang Petugas Medis

CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (41), Sarung Kasur Tak Diganti, Novermal Yuska; Bisa Cilaka itu

Batang Kapeh, PilarbangsaNews, — ‌Sampai hari ini sudah 28 hari lamanya Rusunawa Painan digunakan sabagai “kampus” untuk isolasi pasien terpapar Covid-19. Mulai digunakan pada hari Sabtu tanggal 19/9/2020. Sementara sekarang kalender sudah barada pada angka 17/10/2020.

Samua pelayanan kepada pasien sangat prima disini, pasien dilayani serasa menginap di hotel  bintang 3.

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya,
makan 3 kali sahari, satu kali sarapan, 2 kali  makan; siang dan makan malam.

Begitu juga kalau ada keluhan sakit, disampaikan kepada perawat yang melakukan ceking darah, cek denyut nadi dan pemeriksaan suhu. Semua keluhan pasien akan dicatat untuk dikonsultasikan dengan  dokter umum atau dokter ahli. Jika keluhannya itu gwe nya dokter spesialis ya dokter spesialis yang membuatkan resep dokternya. Nanti sorenya atau selambat pagi besok akan datang petugas mengantarkan obat sesuai penyakit yang menjadi keluhan tadi.

TAK ADA GADING YANG TAK RETAK

Kata pepatah Tak Ada Gading Yang Tak Retak
atau Bukan Gading Namanya Kalau Tak Retak.

Apa itu?

Adalah sapray alis alas kasur. Disini kasurnya berupa gabus tebal. Sesuai ukurannya dengan ukuran tempat tidur serta Difan yang ada di Rusunawa.

Pada hari yang ke sepuluh saya disana saya katakan kepada salah seorang pejabat di RSUD Dr M Zein yang mewakili Direktur RSUD Dr Sutarman sabagai Penanggungjawab Tim Penanganan medik Covid-19 Pesisir Selatan, memberikan keterangan pers kepada saya.

“Soal tempat tidur termasuk sapray itu bukan tanggung jawab  kami pak. Itu tanggung jawab Pemkab,” ungkap pejabat yang mewakili Dr Sutarman.

“Oooo, gitu ya
Lantas tanggung jawab  Tim apa saja?, ” saya bertanya.

“Makan, biaya token listrik ditambah biaya air PDAM itu tanggung jawab kami pak , ” ungkap sang pejabat.

“Gedung disewa atau gratis?” tanya saya.

” Geratis, pak,” jawabnya.

“Mubiler, meja tamu, Difan bertingkat dan tempat tidur ini milik siapa? ” saya masih bertanya.

“Pemkab pak, ” jawab pejabat tersebut.

Ketika saya tanya Pemkabnya siapa, pejabat yang ditunjuk oleh Dr Sutarman itu tak dapat menjelaskan.

TELPONAN DENGAN ANGGOTA DPRD PESSEL

Dua hari kemudiannya, saya telponan dengan Ketua Fraksi PAN di DPRD Pesisir Selatan, Novermal Yuska SH. Kebetulan waktu itu anggota DPRD Pesisir Selatan yang menjadi sahabat karib saya ini  mengirimkan buah untuk saya di Rusunawa.

Kalau kami sudah telponan, tak cukup sebentar waktunya, paling capat 5 menit. Pernah satu kali saya dan pak Enye panggilan akrab Novermal , telponan sampai 1,5 jam masih belum puas tambah 23 menit lagi.

Saya sanang jika maota-ota ( ngobrol) dangan sahabat saya yang satu ini, bertambah luas wawasan saya dibuatnya.

Lama berjalan banyak yang dilihat, lama maota banyak topik pembicaraan.

Akhirnya sampai pada masalah anggaran. Menurut Novermal Yuska seiring peningkatan kasus positif corona di Pemkab seharusnya mengutamakan jiwa manusia dibanding kegiatan fisik. Apalagi, kini kita sudah di atas zona kuning.

Pessel sebelumnya menerima DID (Dana Insentif Rp 14,9 miliar dari Kementerian Keuangan. Dana itu sebagai apresiasi pemerintah pusat atas kesuksesan daerah  dalam menekan laju penyebaran Covid-19.

Legislatif dan eksekutif sapakat menggunakan DID Untuk penanganan Covid-19, mencegah dan memutus mata rantai penularan dengn berbagai kegiatan penanganan, diantaranya isolasi bagi mereka yang terpapar sedang maupun ringan.

Bagi yang terpapar ringan, mereka ada yang  dirawat di Rusunawa dan pula yang diisolasi di rumah.

Saya menginginkan yang yang terpapar ringan dan kini dirawat di Rusunawa selengkapnya dibantu. Kalau dapat yang sedang diisolasi dirumah mendapat bantuan pula hendaknya. Minimal separoh biaya makan yang di Rusunawa. Sebab mereka juga harus meninggalkan kegiatan selama menjalani isolasi mandiri itu.

SUPRAY KOK TAK DICUCI?

KETIKA diinformasikan kepadanya terkait  SUPRAY yang tak dicuci, Ketua Fraksi PAN DPRD Pessel ini kaget.

” Lho kok nggak pernah dicuci, itu cilaka yang menggunakan berikutnya,”  katanya.

”Itu bukan urusan dari tim Penanganan  Medik, tapi tugas dari Pemkab. Pak Enye, Rusunawa ini urusan siapa ini? ” tanya saya.

“Urusan Dinas Perkim, pak Idang kepala dinas, “

Kirim saya nomor HPnya pak Enye.

”Okey saya kirimkan ya, ” ucap Novermal dan telpnan kami berakhir sampai disitu.

Informasi apa yang didapat dari Kadis Perkim?

Silahkan anda baca artikel;

ONDEH MANDEH…, KADIS PERKIM PESSEL ITU ENGGAN KASIH INFO KE PILARBANGSANEWS?

Batang Kapeh, PilarbangsaNews, —

Ondeh mandeh…., kenapa ya bapak Ka Dinas Perkim (Perumahan dan Pemukiman) Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, Mukhridal Idang ini, seperti enggan memberikan keterangan kepada Redaktur Pelaksana PilarbangsaNews.

“Kemaren beliau saya SMS, alhmdllh dibalas. Tapi karena Informasi belum lengkap masih sepotong sepotong, saya SMS lagi. Lama tak dibalas, kemudian saya coba miscall, ” kata Redpel Yuharzi Yunus.

Menurut Yuharzi, setelah di miscall baru dibalas, “maaf Pak saya lagi rapat, ” jawabnya singkat lewat SMS whatsapp.

“Ow…., lanjut…., maaf Pak, ” kata Yuharzi

Besoknya tangal 14 diulang lagi kirim SMS, tak dibalas. Habis magrib Redpel kami mencoba menghubungi telpon seluler.

Ternyata diangkat oleh seseorang bersuara wanita
“Assalamualaikum buk, ini nomor Pak Idang?, ” Ucap Redpel.

“Alaikumsalam……., iya Pak, dan saya istrinya,” jawab wanita itu sangat ramah.

“Bapak Idang ada buk?’ Redpel kami bertanya.

” Bapak lagi mengaji Pak, ” jawab istrinya.

Karena merasa telah mengganggu sang kadis beribadah. Redpel kami minta maaf. Dan berharap kalau sudah selesai mengaji ia minta di hubungi.

Semalam rupanya masih belum terbuka pintu hati sang kadis yang ganteng ini untuk memberikan informasi akurat pada Redpel PilarbangsaNews.com. siang ini sekitar pukul 11;40 dicoba melalui SMS menghubungi Pak Idang sekali lagi. SMS belum juga dibalas.

Kami ingin mendapatkan informasi kapan Rusunawa Painan itu dibangun, berapa besar dananya. Kemudian sekarang dipakai oleh Tim Penanganan Medik Covid-19, disewa atau gratis. Dan samping itu mungkin ada beberapa hal menyangkut teknis yang perlu kami tanyakan.

Dari sekian pertanyaan yang terjawab oleh kadis soal Gedung Rusunawa saat ini dipakai untuk tempat isolasi Covid 19 secara gratis. Dana dari kementerian PUPR. Berapa dananya tidak ingat .

Kita dapat memaklumi ya enggk mungkin bisa hapal jumlah dana digunakan untuk Rusunawa Painan. Makanya kami ulang lagi mengirim SMS dan nelp kadis Perkim malam dan besoknya.

Kita ingin minta tambahan informasi, Tapi disaat kita minta tambahan seolah olah Pak Idang agak enggan memberikan informasi.

Yuharzi Yunus sendiri pernah menginap di Rusunawa itu 18 hari. Dia diisolasi lantaran terpapar Covid 19.

Kenapa Mukhridal Idang seperti agak enggan untuk memberikan informasi kepada Redpel kami.

Apakah tuan kadis kurang berkenan di ekspose kegiatan maupun proyek pembangunan yang menjadi tanggung jawabnya ke publik.

Mudah-mudahan saja alasannya hanya benar-benar karena sibuk rapat. Dan kami kedepan mendapat informasi yang akurat dari pemegang Otoritas.

Akhirnya Redpel mengurung kan niatnya untuk menghubungi Kadis Pesisir Selatan yang satu ini. Toh sulitnya minta ampun. “Tadi saja saya telah bel 2 kali lewat seluler dan 2 kali pakai telp whatsapp ” kata Yuharzi

Syukur-syukur jadi begitu. Kalau tidak ya kita tak kan kecewa, maklum beliau ini konon adik ipar dari salah seorang menteri. Wajar beliau sedikit merasa punya antibodi (imun) dalam berkarir sebagai seorang kadis. Tapi Mudah-mudah tidak begitu sifat dari tuan kadis yang satu ini (ist )

Bersambung….

Baca juga

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (10B) ; Risqi 6 X Test Swab, Nyaris “DO” Sebagai Peserta Didik, Tapi Dia Tetap Tabah dan Berhasil

CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (10B) ; Risqi 6 X Test Swab, Nyaris “DO” Sebagai Peserta Didik, Tapi Dia Tetap Tabah dan Berhasil

Batang Kapeh, PilarbangsaNews,-– Namanya Muhammad Rizqi Yandrizal, akrab disapa Rizqi, merupakan mantan pasien Alumni Rusunawa Painan, yang terlama menjalani isolasi, yakni selama 26 hari
Saking lamanya, hampir-hampir mahasiswa Rusunawa yang satu ini kena DO.

Tapi untung saat ujian ke 5 dan ke 6, hasil tesnya negatif. Penilaian lulus atau berhasil di “kampus” Rusunawa ini beda banget dengan disekolah atau Perguruan Tinggi Formal lainya.

Di Rusunawa Painan, peserta didiknya, baru bisa dinyatakan lulus dan di wisuda untuk mendapatkan sertifikat “Bebas Covid” setelah berhasil meraih nilai negatif.

Rizqi mulai masuk pada tanggal 19/9/2020, persis ketika hari pertama ‘kampus” Rusunawa Painan dibuka bagi  peserta  didik yang ingin menjalani “pendidikan” disini.

Dikampus ini  bagi suami istri yang masuk,  mungkin dulu tak sempat kemana mana “Berbulan Madu” disiapkan kamar dengan syarat tetap  dalam koridor protokol kesehatan.

Selama penulis di sana, tercatat ada 2 pasang yang masuk ke Rusunawa Painan. Satu pasangan gaek yang telah memasuki usia pernikahan Perak Yuharzi Yunus / Hj Isnimal dan satunya lagi pasangan muda dari Tapan M YUSUF dan ICHE.

Kembali kepada Rizqi, dia menjalani swab 6 kali dengan hasil;  negatif-positif-negatif-positif-negatif-negatif. Rizqi baru mendaptkan brevet, atau hak paten diperbolehkan pulang pada hari Kamis tanggal 15 oktober 2020.  Dia dirawat 19 September 2020.

” Saat hasil uji swab Risqi ganti ganti plus-minus, bagaimana Qi menghadapinya?

“Awal2 cemas angku, karena kenapa bisa dapat positif kembali dan dimana dan kenapa bisa terjadi. Namun doa salalu Rizqi panjat agar uji swab yang akan datang negatif dan negatif. Seterusnya berusaha untuk jaga kesehatan, jaga jarak, dan selalu pakai masker rajin berjemur sambil senam.

Sekarang bagaimana perasaan Rizqi setelah pulang?

”Alhamdulillah senang ku. Tapi tetap jaga jarak angku supaya tidak bawa penyakit pulang kerumah angku, ” katanya

Lha kok bawa penyakit  bukankah mantan pasien Covid-19 itu telah kebal dari terinfeksi dan tak akan  menular kan lagi ke orang lain, sebab dengan talah terbentuknya antibodi dalam tubuh, virus yang masuk akan mati dihajar olah antibodi kita, ”  kata penulis menerangkan pada Rizqi penjelasan dari ahlinya.

”Oow gitu ya angku, ” kata mahasiswa jurusan Akuntansi Murni UNP ini dan perbincangan saya dengan cucu saya ini berakhir sampai disini. Dia cucu saya karena ibu kandung adalah ponakan saya..

Bersambung…

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (39) ; Sedikit Waktu Berkomunikasi, Silaturahmi Tetap Berkwalitas

CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (39) ; Sedikit Waktu Berkomunikasi, Silaturahmi Tetap Berkwalitas

Batang Kapeh, PilarbangsaNews, — Dimasa pandemi Covid-19, kehidupan pada fase pertama yakni PSPB telah kita lewati.

PSBB adalah singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar, peraturan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19, melingkupi pembatasan sejumlah kegiatan penduduk tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi COVID-19.

Habis pelaksanaan fase PSPB, kini kita sedang berada pada fase new normal. Pada fase ini
masyarakat harus menjaga produktivitas di tengah pandemi virus corona COVID-19 dengan tatanan baru.

Dikutip dari Tirto.id , Juru Bicara Penanganan COVID-19, Achmad Yurianton menyebutkan, tatanan baru ini perlu ada sebab hingga kini belum ditemukan vaksin definitif dengan standar internasional untuk pengobatan virus corona. Para ahli masih bekerja keras untuk mengembangkan dan menemukan vaksin agar bisa segera digunakan untuk pengendalian pandemi COVID-19.

“Sekarang satu-satunya cara yang kita lakukan bukan dengan menyerah tidak melakukan apapun, melainkan kita harus jaga produktivitas kita agar dalam situasi seperti ini kita produktif namun aman dari COVID-19, sehingga diperlukan tatanan yang baru,” kata Achmad Yurianto dalam keterangannya di Graha BNPB, Kamis (28/5/2020).

Menurut Yuri, tatanan, kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat inilah yang kemudian disebut sebagai new normal.


Cara yang dilakukan dengan rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak aman dan menghindari kerumunan. Kebiasaan baru ini harus menjadi kesadaran kolektif masyarakat kita.

Selama diisolasi kami  menerapkan cara kehidupan baru itu, pakai masker, sosial distancing (jaga jarak) cuci tangan boleh pakai sabun atau hand sanitizer.

oooOooo

Salama kami diisolasi hanya saat senam bisa berkomunikasi, diluar kegiatan itu kami membenamkan diri di kamar
masing-masing. Singkat memang waktu yang dapat untuk menjalin silaturahmi antar sesama pasien. Tapi waktu yang singkat itu, nyatanya bisa menambah jalinan silaturahmi itu kian hari semakin erat.

Setiap musibah itu kata orang, pasti ada hikmahnya. Ada sesuatu yang  hendak diinginkan Allah SWT dari hamba-hamba-Nya yang telah berbuat zalim diluar batas toleransi.

Kita masih ingat ada beberapa kasus orang mempermasalahkan hijab, karena kata mereka busana yang menutupi aurat wanita ini adalah khusus budaya Arab. Sementara kita di Indonesia punya budaya sendiri.

Dijawab oleh aktifis perempuan berhijab, bahwa kami tak ambil pusing apakah budaya Arab atau bukan, bagi kami hijab menutup aurat adalah perintah Allah kepada perempuan yang muslimah.

Tapi kini apa yang terjadi samua umat tanpa memandang suku ras dan agama, mereka telah setiap hari menggunakan masker untuk melindungi diri terpapar Covid-19.

Dengan memakai masker itu, tak kelihatan lagi bibir cewek (wanita) yang indah bak Pauh dilayang dan biaya make up, tidak perlu dianggarkan lagi. Soalnya tak akan ada lagi lelaki yang akan cuci mata menikmatinya.

Yang beruntung itu adalah saya, dengan memakai masker ini, wilayah sekitar mulut tak bisa dilihat orang lain. Dengan demikian orang lain tak akan tahu bahwa kumis saya belum sempat dirapikan, jenggot belum sempat dicukur.

Dan yang paling seru lagi orang tak akan tahu bahwa gigi saya telah ompong meskipun saya kelupaan memasang gigi palsu.

Catatan foto selfie milik Muhammad Rizqi Yendrizal

Bersambung…

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (38); Gejala Covid-19 Setiap Orang Bisa Beda-beda

CRDRP YY

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (38); Gejala Covid-19 Setiap Orang Bisa Beda-beda

Batang Kapeh, PilarbangsaNews, +- Nampaknya setiap orang tidak sama gejala yang dirasakan ketika si Covid-19 telah marasuki  ke tubuh mereka.

Kalau saya sama sekali tidak merasakan apa-apa.

Terus yang demam 14 hari itu apakah bukan gejala telah terpapar Covid-19 saya rasa tidak,   faktanya  hasil swab saya kan negatif.

Swab saya yang pertama diambil di Puskesmas Pasar Kuok pada tanggal 24/10/2020.

Pada tanggal tersebut saya langsung isolasi ke Rusunawa Painan bersama si nyonya besar. Pada hari Minggu tanggal 27/10/2020 kaluar hasil swab yang diambil di Puskesmas Pasar Kuok dangan hasil negatif.

Kemudian pada hari Senin  tanggal  (28/10/20) saya menjalini tes swab di Rusunawa. Pada hari kamis (1/10/2020) keluar  hasilnya terkonfirmasi positif.

ALI AKBAR.

Pak Ali begitu dia saya sapa, mantan seorang TNI, Kampung di Palangai Gadang, Kecamatan Ranah Pesisir , Kabupaten Pesisir Selatan. Menjalani masa pensiun di Pekanbaru.

Sakitar 20 hari yang lalu pulang Kampung bersama istrinya menghadiri palewaan /peresmian adik kandungnya yang diangkat jadi Datuak dalam sukunya.

Tadi pagi saya sempat nelp pak Ali Akbar, saya ingin bertanya kepadanya apa yang ia rasakan saat si Covid-19 mulai bersarang di tubuhnya?

“Saya awalnya sakit gigi,   pak YY, karena tak tahan pada hari Selasa saya ke pasar berobat ke Puskesmas Balai Selasa. Kata petugas puskasmas waktu itu selama Covid hanya anak anak yang dilayani. Di Puskesmas pada waktu itu ramai orang mengambil sampel, saya pikir biarlah saya dan istri ikut,” kata Pak Ali menguraikan cerita sampai dia dinyatakan positif Covid-19.

Pada hari Minggunya keluar hasil swab pak Ali. Sementara istri pak Ali, negatif Covid. Dengan begitu pak Ali wajib ikut isolasi di Rusunawa Painan. Dia akhirnya diantar dengan mobil Unit Puskesmas Balai Selasa.

“Apakah pak Ali tak ada merasa deman atau penciumannya hilang. Selera (nafsu makan) bagaimana? ” tanya saya.

“Ndak ada yang berubah pak, hanya sakit gigi tu saja yang dirasakan, ” kata Pak Ali yang mengaku sebelum pensiun pernah bertugas di Kodim Dumai.

Hari ini Rabu tanggal 15 Oktober 2020, Pak Ali diperbolehkan pulang ke Balai Selasa, sabab dia telah 2 kali hasil swabnya negatif. Dan beberapa hari lagi Pak Ali sudah pasti akan kembali lagi ke Pekanbaru bersama istrinya, karena jantung nya kini rasa keputus ingat akan cucu.

M YUSUF.

Pegawai Bank Rakyat Indonesia Unit Desa di Kambang ini bernama M Yusuf. Orangnya gagah dengan tinggi 173Cm berat sekitar 75Kg.

Dinyatakan positif Covid-19 setelah hasil swab nya keluar dan memang menyatakan positif.

Dia menceritakan sedikit pun tak ada merasa  demam, penciuman tidak berkurang. Nafsu makan masih tetap seperti biasa
“Pokoknya saya tidak merasakan apa apa pak? , ” ungkap Yusuf yang kini jadi menantu orang Tapan.

M Yusuf

Yusuf Kampung di Taluak Batang kapeh, datang bersama istrinya ke Rusunawa. Istrinya juga terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil swab yang diambil di Tapan.

”Anehnya pak, saya sudah sepakan lebih lamanya tak pulang. Tapi tertular entah dari mana dan dari siapa, ” kata Yusuf.

Hari ini Kamis tanggal 15/10/2020, Yusuf telah diperbolehkan pulang namun Icha istri Yusuf masih manjalani isolasi karena hasil swab nya yang pertama di Rusunawa Painan positif covid.

AFRIZAL

Afrizal berprofesi sabagai Pak Pos di Balai Selasa, berumur 40 tahun, punya bini dengan 2 orang putra.

Awal tepapar virus Pak pos Zal  mengalami demam panas dan demam menggigil. Beberapa terpaksa bawa teman ke kantor menemaninya.

Pak Pos Balai Selasa, Pak Afrizal

Makan, selera patah, beberapa hari tak ada makan nasi. Kuliner yang biasa di kulek-kulek tak lagi nafsu mlihatnya.

Hasil uji swab keluar setelah saya tak deman lagi, ” ungkap.

“Waduh.., saya kaget ketika dokter Puskesmas Balai Selasa nelp diri saya, ” Kata Pak Pos

“Tak biasa ibuk dokter telpon saya. Hati saya sudah berkata ini pasti kabar tentang hasil awaby yang positif. Dan setelah hubungan telp terhubung, yang saya cemaskan itu benar adanya, ‘ papar Zal.

Zal 13 hari sabagai warga Rusunawa, hari ini dia diperbolehkan pulang kumpul bersama istri dan anak anak….

Catatan; foto unggulan Pak Ali bersama dangan 2 orang cucunya.

Bersambung…..

Baca juga;

Catatan ringan dari Rusunawa Painan (37), Dr Andani; Kematian Memang Ajal, Tapi Pasien Covid-19 Meninggal Ada Akibat Ketakutan Yang Berkelebihan